Showing posts with label Perjuangan. Show all posts
Showing posts with label Perjuangan. Show all posts

Thursday, September 12, 2019

Kisah Sukses Dahlan Iskan ( Jawa Pos & PLN )

Dahlan Iskan adalah sosok mantan menteri yang cukup fenomenal. Berbagai gebrakan dibuatnya. Kisah hidupnya yang penuh liku mulai dari hidup yang amat susah sampai menderita penyakit yang hampir membuatnya kehilangan nyawa namun bisa menjadi menteri cukup menjadi inspirasi bagi banyak orang. Beberapa buku pun memuat biografi Dahlan Iskan. Berikut adalah kisah hidupnya.

Masa kecil Dahlan Iskan

Dahlan Iskan mengalami masa hidup yang sulit ketika ia masih kecil. Jangankan untuk bermain mainan seperti anak-anak lainnya, Dahlan justru hanya memiliki baju satu stel yaitu kaos dan celana serta satu sarung.

Ketika sekolah bahkan ia tidak mempunyai sepatu. Sementara ia harus berjalan kaki puluhan kilometer tanpa alas kaki untuk menuju ke sekolahnya. Bisa dibayangkan betapa sakitnya kakinya yang setiap hari harus berjalan sejauh itu, mungkin menginjak batu atau ranting.

Maka untuk memiliki sepatu adalah cita-cita yang amat tinggi baginya saat itu. Namun Ayahnya hanya seorang buruh serabutan yang mendapat penghasilan seadanya, sementara ibunya  bekerja sebagai pengrajin batik di desanya. Sulit bagi kedua orang tua ini untuk membelikan sepatu yang saat itu termasuk benda dengan harga mahal.

Penderitaannya semasa kecil bukan hanya itu, sepulang sekolah Dahlan Iskan harus bekerja membantu orang tuanya seperti menyabit rumput, menjadi kuli seset di kebun tebu, menggembala kambing dan lainnya.

Dahlan Iskan Mulai Berkarir

Setamat SMA Dahlan kuliah di IAIN Sunan Ampel dan di Universitas 17 Agustus. Namun kuliahnya tidak tamat karena kesibukan di berbagai hal. Dahlan Iskan pun hijrah ke Samarinda, Kalimantan Timur. Di sana ia menjadi reporter surat kabar lokal.

Pada Tahun 1976, Dahlan kembali ke Surabaya dan bekerja sebagai wartawan majalah Tempo. Dahlan pun diangkat sebagai kepala biro Tempo Jatim karena tulisan-tulisannya banyak diminati pembaca.

Dahlan Iskan memimpin Jawa Pos

Jawa Pos adalah koran yang hampir bangkrut. Pada tahun 1982, The Chung Shen pemilik Jawa Pos merasa tak mampu lagi mengurus usahanya yang semakin merugi. Akhirnya Jawa Pos pun dijual.

Jawa Pos akhirnya dibeli oleh Direktur Utama PT Grafiti Pers, Penerbit Tempo yaitu Eric Samola. Eric Samola melihat prestasi Dahlan Iskan selama bekerja di Jawa Pos sangat baik dan Eric melihat Dahlan punya keinginan untuk berbuat lebih, maka dari itu pada tahun 1982 Dahlan Iskan dipromosikan menjadi pemimpin Koran Jawa Pos.

Saat awal memegang tanggung jawab itu, Jawa Pos nyaris bangkrut. Oplahnya saja hanya 6.800 eksemplar. Dan tak banyak orang yang tau Jawa Pos. Saat itu di sebelah kantor Jawa Pos ada sebuah Bank yang bernama Bank Karman. Orang jauh lebih mengenal Bank Karman dibanding Jawa Pos saat itu. Namun Dahlan pun bertekad bahwa suatu saat Jawa Pos akan bangkit lagi dan jauh lebih dikenal dibanding Bank Karman.

Dahlan Iskan langsung membuat gebrakan. Saat itu kebiasaan orang membaca koran adalah di sore hari yaitu di saat-saat santai pulang kerja. Dan hampir semua koran saat itu terbit di sore hari. Namun Dahlan mengusulkan kepada seluruh stafnya untuk menerbitkan koran Jawa Pos di pagi hari. Ia ingin memberikan kesan bahwa Jawa Pos memberikan berita yang lebih cepat dan aktual. Namun usulan itu tak serta merta diterima. Pasalnya kebiasaan membaca koran pada saat itu adalah di sore hari.

Akhirnya Jawa Pos terbit di pagi hari. Awalnya masyarakat terkejut ada koran yang terbit di pagi hari. Tetapi dengan sabar Dahlan dan timnya mengedukasi masyarakat untuk membaca koran di pagi hari karena agar masyarakat tau berita lebih cepat dan up to date.

Pelan-pelan masyarakat pun mulai terbiasa membaca koran di pagi hari. Saat itu Jawa Pos hampir tidak ada saingannya karena koran lain tetap terbit sore hari. Akhirnya dalam kurun waktu lima tahun yaitu 1982-1987 Jawa Pos berhasil terbit dengan oplah 126.000 eksemplar. Omset Jawa Pos naik 20 kali lipat dari omset saat ia pertama kali memimpin Jawa Pos di tahun 1982 yaitu mencapai 10,6 miliar.



Dahlan Iskan menjadikan Jawa Pos yang hampir bangkrut menjadi surat kabar yang sukses. Selain itu Dahlan juga berhasil mengubah kebiasaan masyarakat dari membaca koran di sore hari menjadi pagi. Koran lain yang awalnya terbit sore juga ikut terbit pagi hari.

Pada tahun 1993 saat usianya 42 tahun, Dahlan mengundurkan diri menjadi pemimpin redaksi dan pemimpin umum Jawa Pos karena ia ingin memberikan kesempatan pada orang yang lebih muda untuk berkarya. Selaini itu Dahlan Iskan ingin fokus mengembangkan jaringan media Jawa Pos, yang awalnya hanya menerbitkan koran saja, kemudian juga membuat majalah dan juga surat kabar daerah lain. Jaringan ini terkenal dengan nama Jawa Pos News Network (JPNN). JPNN adalah jaringan media terbesar di Indonesia saat ini dengan memimpin 190 surat kabar, tabloid dan majalah serta memiliki 40 percetakan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dahlan Iskan membangun gedung pencakar langit dengan nama Graha Pena untuk pusat aktivitas JPNN pada tahun 1997. Dahlan Iskan juga membangun gedung serupa di Jakarta untuk lebih mengukuhkan keberadaan JPNN di tanah air.

Selain itu Dahlan juga melirik media elektronik dengan mendirikan stasiun TV lokal surabaya yaitu JTV dan SBO, di Pekanbaru yaitu Riau TV, FMTV, di Batam yaitu Batam TV, di Makassar, di Palembang yaitu PTV, dan Parahyangan TV di Bandung juga di kota-kota lainnya. Jumlah stasiun televisi lokal yang didirikan mencapai 34 stasiun televisi lokal.

Selain di bisnis media, Dahlan Iskan juga mengembangkan usahanya ke bisnis real estate dan hotel,. Dahlan Iskan juga memiliki perusahaan yang berkaitan dengan listrik yaitu PT Cahaya Fajar Kaltim di Kalimantan Timur dan PT Prima

Dahlan Iskan memimpin PLN

Keberhasilan Dahlan Iskan memimpin Jawa Pos yang tadinya hampir bangkrut menjadi group perusahaan yang amat berkembang membuat namanya melambung. Bahkan namanya pun menarik perhatian presiden SBY saat itu. Di saat banyak masyarakat yang mengeluh karena seringnya listrik mati, dan dirut PLN saat itu pun banyak menuai kritikan, akhirnya presiden SBY menunjuk Dahlan Iskan untuk membenahi PLN dengan mengangkatnya sebagai dirut PLN.

Di hari pertama memimpin, Dahlan Iskan membuat gebrakan. Ia membuat beberapa program diantaranya bebas bayar-pet se Indonesia dalam waktu enam bulan, gerakan sehari sejuta sambungan, pencabutan capping yaitu batas tarif listrik industri, sehingga lebih adil dan dapat menumbuhkan iklim investasi di Indonesia.

Selain itu saat memimpin PLN Dahlan Iskan juga membangun sejumlah besar proyek seperti membangun PLTS di 100 pulau pada tahun 2011 yang saat dipimpin dirut yang sebelumnya PLN hanya berhasil membangun PLTS di 5 pulau. Dan fakta unik yang menarik adalah ternyata selama memimpin PLN Dahlan Iskan tidak mengambil gajinya sebagai CEO PLN dan tidak menempati rumah dinas.

Selama dipimpin Dahlan Iskan PLN banyak mengalami kemajuan. Ia hanya memimpin PLN selama 2 tahun saja. Selanjutnya Presiden SBY menunjuknya untuk menjadi menteri BUMN.

Dahlan Iskan menjadi menteri BUMN

Saat menjabat sebagai menteri BUMN pun ia memilik banyak program. Salah satunya ia ingin membersihkan BUMN dari korupsi.

Nama Dahlan Iskan mulai semakin dikenal masyarakat ketika ia melihat di jalan tol mobil-mobil mengantre sementara ada pintu tol yang ditutup. Ia pun spontan membuka pintu tol tersebut hingga mobil lainnya bisa masuk. Sejak saat itu ia dikenal sebagai menteri yang spontanis.

Salah satu program yang cukup diberitakan saat itu adalah mobil listrik nasional. Ia sadar bahwa bahan bakar fosil suatu saat akan habis dan ia mencanangkan program mobil listri nasional. Enginer-enginer handal Insoneisia diajaknya untuk mengembangkan mobil nasional. Salah satunya adalah Ricky Elson yang saat itu sudah dipercaya bekerja di Jepang.

Prototipe mobil listrik yang diberi nama Tuxuci pun jadi. Dahlan iskan pun ikut mencobanya saat itu. Namun sayang, mobil yang dikendarainya mengalami kecelakaan karena rem blong. Beruntung ia dan rekannya tidak mengalami luka yang berarti. Namun projek mobil listrik nasional terus dijalankan. Setelah Tuxuci, prototipe mobil listrik yang berikutnya dinamakan Selo.


Dahlan Iskan menderita penyakit

Di tengah sepak terjangnya yang begitu aktif, mungkin tak banyak orang yang tau kalau beliau pernah menderita penyakit yang membuatnya hampir kehilangan nyawa. Ia mengalami muntah darah.

Setelah melakukan pengecekan kepada seorang dokter, ternyata liver atau hatinya telah sirosis. Selain itu, hati yang telah rusak juga sudah dipenuhi kanker. Saat itu ia pun divonis dokter hanya bisa hidup sekitar enam bulan, atau paling lama dua tahun. Dokter pun menyarankannya untuk melakukan transplantasi. Operasi itu tentu sangat berisiko tinggi. Di sisi lain mencari donor hati amatlah sulit. Tapi akhirnya transplantasi hati itu berhasil berjalan dengan baik.

Dahlan Iskan Menjadi Calon Presiden

Pada saat pemilu 2014 lalu, Dahlan Iskan sempat mengikuti seleksi calon presiden yang diadakan oleh partai Demokrat. Ia memang bukan orang partai, ia pun memanfaatkan kesempatan seleksi terbuka tersebut.

Dahlan pun menjadi kandidat favorit dan terpilih menjadi calon presiden dari Partai Demokrat dengan mengungguli pesaing lainnya. Namun langkahnya harus terhenti karena perolehan suara Partai tersebut tidak memungkinkan untuk mencalonkan presiden.

Dahlan Iskan terjerat kasus korupsi

Dari kisah hidup Dahlan Iskan yang semasa kecil hidupnya susah namun bisa memimpin perusahaan yang tadinya hampir bangkrut namun jadi berkembang luar biasa, kemudian memimpin BUMN hingga menjadi menteri BUMN, dan sepak terjangnya banyak yang membuat masyarakat kagum, banyak orang yang terkejut ketika Dahlan Iskan ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi pengadaan gardu PLN oleh kejaksaan tinggi DKI Jakarta.

Menurut Kejaksaan, penyimpangan ditemukan antara lain ketika penandatanganan kontrak pembangunan gardu induk pada 2011, tetapi lahannya belum dibebaskan. Dahlan dianggap bersalah karena melanjutkan proyek untuk menghindari pemadaman bergilir ketika lahannya belum dibebaskan. Kasus ini ditangani Kejaksaan Tinggi Jakarta.

Bukan hanya itu, projek mobil listrik nasional yang diusungnya pun menjadi dipermasalahkan. Jaksa menganggap Dahlan menyalahgunakan wewenang sebagai menteri dengan menunjuk langsung penyedia mobil listrik tanpa melalui tender.

Saat memimpin PLN dan BUMN Dahlan memang sempat mengatakan kalau dirinya siap dipenjara. Dahlan memang dalam memimpin sering “mendobrak aturan” yang dapat menghambat pekerjaan. Keputusannya memang berani, namun hal itu justru menjadi boomerang baginya.

Itulah sekelumit kisah hidup Dahlan Iskan yang mengandung banyak inspirasi. Ia sudah mengalami menjadi anak yang sangat miskin, pernah pula hampir mati karena penyakitnya. Dan kini penetapannya sebagai tersangka menjadi babak baru dalam hidupnya. Apakah ini ujian baru baginya ataukah hukuman?



Monday, September 9, 2019

Jakob Oetama ( Sang Pendiri Kompas Gramedia )



“Saya ini hanya seorang guru yang belajar sejarah dan belajar jurnalistik sehingga akhirnya, karena berkat, dapat membawa dan mengorganisasi rekan-rekan untuk bekerja dalam sebuah media massa sampai sekarang ini.” Begitulah cara Jakob Oetama, pendiri Kompas Gramedia, dalam menggambarkan dirinya, seperti dikutip Kompas.com Juni lalu.

Jakob Oetama menyampaikan hal itu dalam sambutannya di suatu acara yang dihadiri Wakil Presiden Boediono.

Ada nada rendah hati dan sederhana di sana. Tidak tampak kesan jumawa. Siapa pun yang berkesempatan berbicara langsung dengan Jakob Oetama hampir pasti akan mendapatkan kesan serupa tentang sosok wartawan sekaligus pengusaha senior itu.

Begitu pula kesan yang kami tangkap ketika mewawancarai pendiri Kompas Gramedia itu. Di ruang kerjanya, Jakob Oetama menjawab pertanyaan Bisnis dengan didampingi Agung Adiprasetyo, CEO Kompas Gramedia.

Jakob menyebut apa yang dihasilkannya di Kompas Gramedia dengan kata “lumayan”. Namun, “lumayan” dalam konteks ini ternyata sulit untuk sekadar dikatakan lumayan oleh orang lain. Lumayan di sini agaknya bisa pula dimaknai sebagai luar biasa.

Dalam grup yang disebutnya lumayan itu ada koran terbesar di Indonesia dengan oplag di atas 400.000 eksemplar, ada toko buku Gramedia (singkatan dari Graha Media) yang kini jumlahnya 98 buah dan tersebar di seluruh Indonesia.

Selain itu, grup ini juga mengelola belasan koran lokal serta 70 majalah dan tabloid (lihat ilustrasi).

Kompas Gramedia juga memiliki penerbitan, di antaranya Elex Media Komputindo, Gramedia Majalah, Gramedia Pustaka Utama, Grasindo, dan Kepustakaan Populer Gramedia.

Grup ini juga mengelola sekitar 26 hotel dan vila, antara lain Amaris Hotel, Santika Indonesia, The Kanaya, serta The Samaya.

Di sektor lainnya ada Bentara Budaya, Dyandra Promosindo, PT Gramedia Printing Group, PT Graha Kerindo Utama, dan di bidang pendidikan kini Grup Kompas Gramedia memiliki Universitas Media Nusantara.

Pada 2012, kelompok usaha itu menargetkan penambahan hotel hingga 62, toko buku 120 dan koran menjadi 26.

Begitulah “lumayan” versi rendah hati Jakob Oetama.

Namun, rendah hati bukan berarti tidak percaya diri.

Sepeninggal sohibnya, Petrus Kanisius Ojong pada 1980, Jakob Oetama seolah menjadi tumpuan utama bagi biduk konglomerasi yang sedang tumbuh itu, dan menjadi tumpuan semacam itu tentu memerlukan kepercayaan diri yang kuat.

“Saya nggak tahu bisnis. Tapi saya tahu diri kalau saya nggak tahu. Cuma barangkali otak saya dikaruniai kecerdasan yang memadai sehingga dengan kemauan belajar ya bisa menangkap apa yang diperlukan,” katanya menggambarkan apa yang dilakukannya sepeninggal mitranya dalam membangun Kompas Gramedia.

Dengan merendah dia mengaku basis bagi pembangunan grup sudah cukup kokoh ketika ditinggal oleh mitranya itu. “Saya melanjutkan saja,” paparnya.

Gayanya yang lembut, rendah hati, dan santun itu selalu dikaitkan dengan gaya seorang guru. Pria kelahiran Borobudur, 27 September 1931, agaknya tidak ingin melepaskan diri dari sosoknya sebagai seorang (mantan) guru. Sebelum terjun ke dunia jurnalistik, Jakob muda memang pernah menjadi seorang guru.

Dia pernah menjadi guru SMP Mardiyuana di Cipanas pada 1952 dan guru SMP Van Lith di Jakarta pada 1953, sebelum bergabung menjadi redaktur mingguan Penabur di Jakarta sejak 1955. Dari sanalah kariernya sebagai wartawan bermula.


Pada 1963 Jakob Oetama dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Intisari, majalah yang polanya meniru Reader’s Digest. Dua tahun kemudian dimulailah kiprahnya sebagai pemimpin Redaksi Kompas. Dari titik itulah namanya kemudian melambung ke jagat media di Indonesia serta menjadi seorang pengusaha yang diakui konglomerasinya.

Jakob menempuh pendidikan sebagian besar di Yogyakarta. Dari SD hingga SMA (seminari) dilaluinya di Kota Gudeg itu. Kemudian dia melanjutkan pendidikan ke BI Ilmu Sejarah P & K, di Jakarta pada 1956, serta Perguruan Tinggi Publisistik, Jakarta.

Pada 1961, Jakob masuk ke Fakultas Sosial Politik Universitas Gadjah Mada. Empat puluh dua tahun kemudian, perguruan tinggi itu memberinya gelar Doktor Honoris Causa karena pencapaiannya yang dianggap luar biasa di bidang jurnalistik Indonesia.

Sulastomo pernah menulis bahwa semula Jakob Oetama ragu-ragu untuk menerima gelar dari almamaternya itu.

“Jakob Oetama tidak silau oleh pujian yang diberikan kepadanya,” begitu komentarnya dalam sebuah artikel tentang gelar Dr (HC) untuk Jakob Oetama.

Organik dan organis Jakob Oetama merumuskan apa yang dibangunnya di Kompas dengan istilah “organik sekaligus organis”. Lembaga pers, katanya, haruslah organik sekaligus organis.

Dia menggambarkan lembaga yang organik itu seperti tubuh manusia yang terdiri dari macammacam bagian, tetapi merupakan kesatuan. Ada tangan, kaki, mata, tapi semua merupakan kesatuan dan kesatuan yang organik ini lalu karena bersatu saling tergantung menjadi organis.

“Organik itu ya lebih ke sosoknya yang tampak, yang lahiriah. Organis itu kesatuannya, yang lalu mempunyai fungsi, mempunyai peran. Organik bentuknya konkret, organis menjadi satu karena mempunyai fungsi bersama. Sesuatu yang berbeda tetapi bersama,” begitu paparnya.

Lembaga pers seperti Kompas, terdiri atas bagian redaksi, bagian percetakan, ada distribusi yang mengedarkan, ada keuangan, ada yang berhubungan dengan agen. “Bagian- bagian redaksi dengan percetakan, dengan bagian manajemen, bisnis, harus kerja sama. Kalau tidak, omong kosong bisa maju. Ya itulah organik yang organis.” Lembaga organik yang tidak organis, katanya, tidak bisa berjalan serempak. Dia memberikan contoh media yang dari sisi redaksinya hebat, tapi distribusinya tidak karuan, percetakannya jelek dan tidak tepat waktu, akan sulit untuk sukses.

Keseimbangan ini, katanya, tidak mudah terwujud mengingat wartawan umumnya ‘cerewet’.

Lalu apa yang dianggap sebagai kunci keberhasilan yang harus ada dalam individu-individu? Menurut Jakob, salah satu yang terpenting adalah semangat untuk bekerja dengan all out alias tidak setengahsetengah.

Berkali-kali Jakob Oetama menekankan perlunya all out dalam bekerja baik oleh wartawan, pemasaran, bagian yang berurusan dengan agen, maupun bagian lainnya.

Semangat kerja all out ini, menurut dia, kurang ada pada bangsa Indonesia. “Kita ini perlu mengubah karakter bangsa kita yang baik, rajin, tapi kurang all out dan kurang konsisten,” begitulah dia menggambarkan peran all out dalam kesuksesan.

Khusus untuk pengelolaan bagian keuangan, Jakob Oetama punya resep tambahan. Orang yang dipercaya mengelola uang, selain cakap dan andal juga harus pandai menjaga mulut, harus tutup mulut.

“Misalnya orang yang pegang bisnis ya orang yang tahu bisnis. Saya ambil contoh, yang pegang uang bukan hanya perlu jujur, perlu tutup mulut. Kelihatannya sepele ya. Tapi coba orang yang pegang uang itu tidak tutup mulut. Nah itu keliatannya sepele, tapi itu etika profesi yang sangat diperlukan.” Penyesalan Berdasarkan pengalamannya lebih dari 4 dekade mengelola media, Jakob Oetama percaya bahwa koran tak akan mati kendati serbuan dari medium lain seperti televisi dan Internet kian gencar.

Dia menyebut apa yang disajikan televisi dan Internet itu sebagai tontonan.

Dan itu tak cukup. Surat kabarlah yang mengisi kekosongan itu dengan sajian yang lebih mendalam, tetapi juga dengan formula yang tetap menghibur.

Kendati begitu, Jakob mengakui peran penting televisi. Dia juga mengaku menyesal telah melepaskan TV7, yang awalnya dimiliki Kompas Gramedia, terlalu cepat. Pada masa kini, katanya, untuk menjangkau seluruh masyarakat mau tak mau harus melalui televisi.

Dalam soal Internet, Kompas telah mengembangkan Kompas Cyber Media. Belakangan, layanan blog Kompasiana semakin populer.

Grup itu bahkan mengantisipasi hadirnya era multimedia dengan membangun Universitas Multimedia Nusantara. Agaknya, meskipun Jakob Oetama percaya koran tidak akan mati, grup tersebut juga all out dalam menyongsong era multimedia.


Saturday, September 7, 2019

Bambang Krista ( Raja Bisnis Ayam Kampung )



Bisnis ayam kampung bisa membawa rezeki berlimpah di ibu kota. Itulah yang dilakukan Bambang Krista, pemilik Citra Lestari Farm di Bekasi, Jawa Barat. Peternakan ayam kampung milik Bambang mampu memasok 5.000 ekor dan 10.000 butir telur ayam kampung per pekan.

Banyak yang berbisnis ayam kampung di negeri ini. Tapi siapa sangka, bisnis ayam kampung bisa menjadi bisnis primadona di perkotaan. Bambang Krista lewat Citra Lestari Farm di Bekasi, Jawa Barat, membuktikan, bisnis ayam kampungnya membuat dia terkenal sebagai pemasok ayam kampung dan telur di Jakarta.

Bambang sukses membangun rantai bisnis ayam kampung itu di Jabodetabek. Bambang tidak hanya menjual ayam kampung siap potong saja, dia juga menjual telur ayam kampung dan bibit ayam kampung atau daily old chicken (DOC).

Dari peternakan ayam kampung miliknya seluas enam hektare (Ha) di Bekasi, Bambang bisa menghasilkan 3.000 sampai 5.000 ekor ayam kampung siap potong per pekan. Selain itu dia juga menyuplai 10.000 butir telur ayam kampung per pekan untuk memenuhi kebutuhan di pasar-pasar di kawasan Jabodetabek saja.

Belum cukup hanya itu, Bambang juga menjual DOC ayam kampung sebanyak 7.000 sampai 10.000 ekor per pekan. “Omzet saya bisa lebih dari Rp 200 juta,” kata Bambang.

Ayam kampung dan telur ayam kampung dari peternakan Bambang tidak hanya masuk pasar tradisional. Bambang juga memasok ayam kampung itu ke pasar modern. Sementara permintaan DOC ayam kampung berdatangan dari peternak ayam kampung di seputaran Jabodetabek dan beberapa peternak di Jawa Barat.

Kesuksesan pria asli Solo ini membangun bisnis ayam kampung tidak datang begitu saja. Bambang bekerja keras agar bisa mengangkat pamor bisnis peternakan ayam kampung tersebut.

Salah satu kiatnya adalah, Bambang menyiapkan dengan baik sebelum terjun di bisnis ini. Lihat saja, sebelum membuka peternakan, Bambang lebih dulu melakukan riset untuk mencari bibit ayam kampung yang unggul. Dia meneliti dengan baik, mulai dari mencari induk unggul hingga telur yang layak ditetaskan.

Karena tekun, Bambang sukses menemukan DOC ayam kampung unggul yang diberi nama DOC ayam kampung super. Keunggulan DOC ayam kampung super itu terletak pada usia panen yang lebih cepat dibanding DOC ayam kampung biasa. “Saya butuh enam kali perkawinan silang untuk menemukan DOC ayam kampung super,” ujar Sarjana Peternakan dari Universitas Diponegoro itu.

Menurut Bambang, membesarkan DOC ayam kampung biasa butuh waktu empat sampai enam bulan. “Berbeda dengan DOC ayam kampung super yang bisa panen setelah usia dua bulan,” terangnya.

Setelah mengetahui kelebihan dari DOC ayam kampung super itu, barulah Bambang memberanikan diri membuka peternakan ayam. Dan tentu saja, Bambang juga melakukan pembibitan DOC ayam kampung super untuk dijual kepada para peternak.

Karena produktif, DOC ayam kampung super itu digemari peternak ayam kampung. Alhasil, nama Bambang Krista menjadi populer di mata peternak. Banyak peternak ayam kampung beralih membeli DOC milik Bambang karena lebih menguntungkan dari sisi produksi.

Apalagi harga jual ayam kampung lebih tinggi dibanding dengan ayam buras. Sebagai perbandingan, harga ayam buras di pasaran Rp 16.000 per kilogram (kg). Sementara, harga jual ayam kampung mencapai Rp 25.000 per kg.

Tapi, kesuksesan Bambang berbisnis tidak membuat dia lupa lingkungan sekitarnya. Bambang kini memiliki 20 peternak binaan di Jonggol, Bogor. “Tadinya warga itu menggantungkan hidup di sektor perdagangan saja,” terang Bambang.

Peternak binaan Bambang itu mendapat pasokan DOC dari Bambang. Setelah dibesarkan peternak, Bambang membantu mereka untuk memasarkannya. Saat ini, para peternak di Jonggol itu bisa menghasilkan 5.000 ekor ayam kampung setiap panen (dua bulan).

Selain memiliki binaan, Bambang juga sering bertandang ke berbagai kota untuk memberikan pelatihan beternak ayam kampung kepada sesama peternak. “Motivasi saya adalah ingin berbagi ilmu,” katanya.



Setelah gagal menjadi peternak ayam broiler, Bambang mulai melirik ayam kampung. Namun ia memilih tak menjual ayam namun menjual telur ayam kampung. Dengan kemasan yang baik, Bambang berhasil menjual telur 50% lebih tinggi dari telur lainnya. Setelah berdagang telur sukses, Bambang mulai melirik usaha breeding farm.

Bambang Krista adalah contoh peternak sekaligus pebisnis yang sukses menggabungkan teori dan praktik. Maklum, pria berusia 48 tahun ini merupakan alumni Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro (Undip), Semarang. Bahkan ketika masih kuliah ia kerap dipercaya sebagai asisten dosen untuk beberapa mata kuliah.

Namun, ketika kuliah dulu, Bambang tak pernah bercita-cita menjadi peternak ayam. Bahkan, saat kuliah dia malah tak mengambil mata kuliah tentang unggas. “Saya dulu bercita-cita ingin punya peternakan sapi, seperti di Eropa,” ujar Bambang

Walaupun awalnya tidak menyukai ayam, selepas kuliah pada 1989 ia terpaksa mulai merintis karier sebagai tenaga ahli di sebuah peternakan ayam broiler di Kramat Jati, Jakarta Timur. Dari situlah Bambang mulai tertarik dengan ayam. Dia melihat perputaran uang dalam bisnis ayam ternyata luar biasa besar.

Bayangkan, dalam waktu 25 hari hingga 40 sejak ayam berumur sehari atau day old chicken (DOC) ayam sudah bisa dipanen dan untung bisa diraih. Selain itu, ibaratnya, pembeli langsung datang ke kandang ayam alias tak perlu memasarkan.


Nahas, peternakan ayam broiler itu terpaksa tutup kandang alias bangkrut saat krisis moneter melanda Indonesia pada 1998 silam. Ketika itu, banyak peternak ayam di negeri ini gulung tikar lantaran tak mampu membeli pakan yang harganya melenting tinggi sekali. Sementara itu, “Harga ayam malah melorot menyesuaikan dengan daya beli masyarakat yang turun akibat krisis,” terang Bambang.

Setelah peternakan ayam broiler itu gulung tikar dan Bambang kehilangan pekerjaan, ia langsung banting setir menjadi pedagang sembako untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Namun jadi pedagang tak lama karena pada 1999, Bambang mendapat tawaran dari seorang temannya untuk bekerja di usaha pembibitan ternak atau breeding farm.

Meski sudah kembali bekerja, Bambang belum lupa dengan rezeki dari ayam broiler. Karena itu, dia masih beternak ayam ini. Bahkan, jumlah ayam broilernya itu pernah mencapai 100.000 ekor.

Sayangnya, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Lagi-lagi terpaan krisis menghantam peternak. Pada 2003, krisis melanda Asia, peternakan Bambang pun kembali runtuh. Dia rugi besar. Sampai-sampai hartanya ludes untuk menutupi kerugian.

Setelah gagal yang kedua ini, Bambang sadar, beternak ayam broiler berisiko tinggi. Ia mulai berpikir untuk beternak ayam kampung. Masalahnya, ketika itu pamor ayam kampung kalah dengan ayam bukan ras (buras) ini.

Namun Bambang tetap nekat. Menurutnya, bagaimanapun ayam kampung lebih tahan penyakit dan biaya perawatannya murah karena tak perlu dengan sistem intensif seperti beternak ayam broiler.

Menginjak 2008, Bambang mulai mantap dengan pilihannya beternak ayam kampung untuk diambil telurnya. “Awalnya sulit untuk mempromosikan telur ayam kampung tersebut,” ujar Bambang.

Agar telur laku, Bambang pun membuat kemasan serapi mungkin. Kemasan ini penting agar telur-telur itu bisa dijual di supermarket. Cara ini ternyata jitu, tak sampai setahun, telur ayam kampung kemasan Bambang mulai laris manis karena ia berhasil untuk menjaga kualitas telurnya. Selain itu, keuntungan Bambang juga 50% lebih besar dibanding penjual telur lainnya. “Dengan pengemasan yang lebih baik, saya bisa untung lebih banyak,” ujar Bambang

Sukses di telur, Bambang mulai mengembangkan usaha dengan menjadi pembibit ayam kampung. Memang risiko di bisnis pembibitan lebih besar dibandingkan dengan menjadi peternak. Namun, Bambang juga tahu persis tak banyak pebisnis yang bermain di pembibitan ayam kampung. “Karena itu saya yakin bibit saya pasti laku,” ujarnya.

Dengan menjadi penyuplai bibit, ia tidak perlu bersaing ketat dengan peternak lainnya, namun justru membantu usaha mereka. “Bidang breeding farm masih sangat dibutuhkan peternak,” ujar Bambang.



Setelah mampu membuktikan sebagai peternak ayam kampung yang sukses, Bambang pun sering diundang untuk memberikan pelatihan peternakan ayam kampung yang benar. Selain itu, karena banyaknya permintaan, di sela-sela waktu senggangnya Bambang juga tetap rajin menulis buku tentang peternakan ayam kampung.

Prospek bisnis ayam kampung kini mulai cerah setelah Bambang Krista memasyarakatkan cara beternak ayam kampung secara intensif. Usaha peternakan ayam kampung yang sebelumnya dilakukan secara tradisional mulai berubah ke cara beternak yang lebih modern seperti laiknya memelihara ayam bukan ras atau ayam ras.

Cara beternak ayam kampung modern itu memang membawa dampak besar. Lihat saja, kalau sebelumnya nilai ekonomis ayam kampung baru diperoleh setelah ayam berusia tiga bulan atau lebih, kini peternak hanya butuh waktu 45-60 hari untuk bisa panen.

Namun demikian, menurut Bambang, peternakan ayam kampung dalam skala besar masih bisa dihitung dengan jari. Saat ini, peternakan ayam kampung masih dikelola dalam skala menengah dan kecil. “Banyak yang beranggapan bisnis ayam kampung ini bisnis recehan,” ujar Bambang.

Padahal, melihat hasil yang diraih Bambang saat ini, sejatinya bisnis ayam kampung ini bisa lebih stabil dan punya masa depan yang cerah. Selain itu, beternak ayam kampung juga jauh lebih menguntungkan karena ayam ini lebih tahan penyakit dibandingkan dengan ayam broiler. Padahal, harga jual ayam kampung juga jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ayam buras itu. Apalagi saat ini lamanya masa panen beternak ayam kampung sudah bisa diatasi.

Ayam kampung hasil penelitian Bambang ini memang terbilang super. Lihat saja, ayam kampung yang diternak Bambang itu punya daging selezat ayam kampung namun masa panen sesingkat ayam broiler. “Perkembangan yang cepat tentu lebih menghemat biaya produksi dan memperkecil risiko kematian,” terang Bambang.

Contoh sukses Bambang itu tentu juga membuat masyarakat semakin tertarik untuk ikut beternak ayam kampung. Bambang yang suka berbagi ilmu ini pun tak pelit menularkan cara beternak ayam kampung yang efisien. Itulah sebabnya, Bambang rutin mengadakan pelatihan beternak ayam kampung di Cibubur dan Bekasi.

Tidak hanya itu ia juga kerap diundang sebagai pembicara mengenai ayam kampung ke berbagai daerah di Indonesia. Jam terbangnya yang tinggi membuat semua masalah berat peternak menjadi ringan. “Pelatihan tersebut sekaligus untuk memperkuat jaringan usaha,” ujar Bambang.

Jaringan usaha itu memang penting bagi pertumbuhan bisnis. Salah satu manfaat jaringan bisnis ini, di antara peternak bisa saling berkomunikasi untuk menjaga harga produk agar tidak jatuh.

Bagi Bambang, bisnis seperti ini harus dijaga agar tetap saling menguntungkan. Itulah sebabnya, “Saya juga sering memberikan bantuan pelayanan secara gratis di berbagai daerah,” imbuh Bambang.

Dalam membantu para peternak baru, ia biasanya akan mewanti-wanti mengenai kondisi kandang. Menurut Bambang, kesiapan kandang sangat penting untuk meminimalisasi risiko kematian bibit ayam akibat virus. Kandang yang siap menampung bibit bisa dilihat dari sirkulasi udara dan lingkungan sekitar kandang yang steril.

Situasi kandang sebaiknya berada di wilayah yang tenang dan tidak dimasuki oleh sembarangan orang. “Karakter ayam itu sensitif dan gampang stres kalau ada perubahan di sekitarnya,” ujar Bambang.

Bambang sendiri yang punya jam terbang panjang di bidang peternakan ayam juga masih tetap hati-hati. Ia mengaku pernah merugi lantaran bibit yang dijualnya kepada seorang mitra mati mendadak. Setelah diteliti, ternyata itu akibat virus yang berbiak di kandang yang tidak steril. “Karena itu saya akan memastikan para klien saya siap sebelum pengiriman bibit,” jelas Bambang.

Kini, di sela-sela waktu luangnya, Bambang masih rajin menulis buku tentang beternak ayam kampung ini. Hingga saat ini ia telah menerbitkan tiga buku yang laris manis diserbu pembeli. Buku-buku itu mengenai tata cara beternak ayam kampung untuk peternak dari kalangan awam hingga untuk keperluan studi. “Buku tersebut saya tulis karena permintaan masyarakat yang tinggi,” ujar Bambang.

Friday, September 6, 2019

Kisah Sukses Triyono ( Bisnis Ternak Potong dengan Pola Kemitraan )


Meskipun memiliki fisik yang kurang sempurna, lelaki yang tinggal di Sukoharjo ini tidak lantas menyerah pada nasib dan berhenti beraktivitas. Dengan memanfaatkan potensi kecerdasan yang ia miliki serta bekal ilmu di bidang pertanian dan peternakan yang diperolehnya selama duduk di bangku kuliah, Triyono yang merupakan salah satu alumnus Universitas Sebelas Maret (Solo) tahun 2007 ini mulai menekuni dunia agrobisnis dengan mengembangkan usaha ternak bebek potong, ayam potong dan sapi potong.

Usaha tersebut diawalinya pada 2006 silam, ketika ia masih berstatus sebagai mahasiswa. Disela-sela kesibukannya selama berada di kampus, lelaki yang akrab dipanggil Tri ini nekat memulai bisnis ternak bebek dengan modal usaha sebesar Rp 5 juta. Modal tersebut kemudian digunakannya untuk membeli 500 ekor bebek dan dibudidayakan di pekarangan milik keluarganya. Walaupun ia harus berjalan dengan bantuan tongkat (kruk), namun kejeliannya dalam melihat pasar dan kemampuannya di bidang peternakan membuat bisnisnya menghasilkan untung yang cukup besar.

Menyadari peluang usaha dari agribisnis cukup besar karena menyangkut kebutuhan primer banyak orang, bermodal Rp 20 juta, putra dari Priyono Raharjo dan Marinah ini pun mantap membangun usaha secara serius sejak tahun 2007. Dengan mengibarkan bendera CV Tri Agri Aurum Multifarm, Tri berbisnis peternakan terpadu sapi potong, ayam potong, dan pupuk organik. Bekal kuliah menjadi nilai plus mengembangbiakan ternak. Alhasil, di 2008, dia mampu meraih omzet Rp 50 juta per bulan. Dia juga berhasil membuka lapangan kerja baru di desanya.

Sejak mengembangkan usaha agribisnis dengan bendera Tri Agri, omset Triyono terus menanjak setiap tahun. Jika pada 2008, penghasilannya baru sebesar Rp 500 juta. Di 2010 lalu, pendapatannya melonjak enam kali lipat menjadi Rp 3 miliar. Triyono, yang kerap memberikan penyuluhan kepada mahasiswa dari pelbagai perguruan tinggi, seperti Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan Universitas Sebelas Maret, Surakarta, memanfaatkan kotoran hewan ternaknya menjadi pupuk kompos, kemudian dijual ke pasar seharga Rp 350 per kilo. Dalam sebulan, Triyono dapat mengolah 15 ton kotoran ternak yang disulap menjadi pupuk. Pria yang sempat mengenyam pendidikan di sekolah luar biasa (SLB) selama setahun saat usia delapan tahun ini bilang, ide mengolah limbah peternakan muncul ketika ia melihat kotoran ternak yang makin menggunung di sekitar lahan peternakannya.

Majalah SWA berkesempatan untuk bertemu Triyono di sela kesibukannya. Berikut wawancara reporter SWA Rangga Wiraspat dengan Triyono:


Bagaimana Anda membangun CV Tri Agri Aurum?

Saya sering mengalami penolakan dari masa saya SD sampai kuliah karena kondisi fisik saya. Dari situ saya berpikir, daripada saya mengalami penolakan lagi saat mencari kerja, saya mulai melirik potensi dari bisnis. Sejak kuliah, saya menjalani beragam usaha, mulai dari percetakan, konveksi, sampai servis komputer. Saat itu, di tahun 2005-2006, saya sebagai mahasiswa sudah mempunyai utang. Waktu semester tiga saya meminjam BPKB teman agar bisa meminjam uang sebesar Rp 5 juta dari Kredit Usaha Rakyat (KUR). Ketika KUR tersebut lunas, saya menggandakan pinjaman KUR lagi sebesar Rp 17 juta, kemudian Rp 60 juta, begitu terus.

Namun beberapa usaha semasa kuliah tidak sesuai harapan. Percetakan hanya berjalan satu tahun, sementara konveksi hanya bertahan enam bulan. Saya berpikir untuk mencari bisnis yang tidak capek, karena saat menjalankan bisnis percetakan dan konveksi, untuk berpindah dari satu proyek ke proyek lainnya dibutuhkan upaya yang melelahkan. Akhirnya saya melirik bisnis komoditas pangan, dimulai pada tahun 2007 sebagai broker hewan kurban. Saya meghubungi petani yang ingin menjual sapinya, kemudian saya mencari pembeli, terkadang saya sudah DP ke petani terlebih dulu. Selama menimba pengalaman di agribisnis, saya mendapat ilham untuk mengembangkan agribisnis dengan basis ekonomi kerakyatan. Selama dua tahun, dari 2007 sampai 2009 saya merancang agribisnis berbasis kemitraan. Setelah sebelumnya hanya usaha perorangan, di tahun 2009 saya legalkan perusahaan agribisnis CV Tri Agri Aurum Multifarm.

Waktu awal pendirian CV Tri Agri Aurum Multifarm, partner utama saya hanya satu orang, yaitu Fauzan Sigma Aurum. Jika ditotal pada periode 2007-2009, perputaran modal yang saya dapatkan sekitar Rp 500 juta. Untuk pendirian CV, saya menggunakan akses pribadi dan akses perbankan untuk modal awal. Saya mengucurkan uang pribadi sejumlah kurang lebih Rp 20 juta, sementara modal dari pinjaman bank kurang lebih Rp 150 juta. Saat itu pembagian saham saya dan Fauzan masing-masing 50%. Pembagian tugas antara saya dengan Fauzan adalah saya mengurusi kegiatan teknis agribisnis, karena sesuai dengan jurusan kuliah saya, sementara Fauzan lebih berfokus pada kegiatan administratif, segala kegiatan surat-menyurat, laporan keuangan, ia yang kelola. Di tahun 2010, Fauzan mengundurkan diri karena mendapatkan pekerjaan baru.

Mengapa Anda terjun di Agribisnis?

Saya menyukai agribisnis karena saya melihat ada tiga hal di Indonesia yang selalu ada potensinya untuk dikembangkan. Ketiga hal itu adalah pendidikan, kesehatan, dan pangan. Menurut saya, jika kita berkecimpung di ketiga bidang ini, tidak akan ada matinya. Ini tidak sekedar idealisme saya saja, namun sudah saya kalkulasi secara bisnis.

Apa keunggulan produk/bisnis yang Anda jalankan?

Dari segi barang, saya pikir keunikan produk CV Tri Agri Aurum hampir sama saja dengan produk lain. Kelebihan kami lebih kepada transfer ilmu yang CV Tri Agri Aurum berikan kepada mitra-mitra bisnis kami seperti paguyuban-paguyuban tani yang saya bentuk, kami juga mengajarkan mereka pengelolaan pasca panen seperti pengelolaan limbah. Memang jika dilihat produknya kami tidak berbeda jauh dengan yang lain, namun secara sistem kerjasama kami berbeda dibandingkan pedagang biasa. Kerja sama dengan CV Tri Agri Aurum bisa memberikan dampak positif yang juga dirasakan oleh para petani dan masyarakat menengah ke bawah. Mitra bisnis kami banyak dari kalangan koperasi dan kelompok tani. Saat ini mitra bisnis koperasi kami sudah se-Jawa Tengah, di bawah komando Koperasi Unit Desa (KUD) Jawa Tengah, karena kami memang sudah membuat komitmen dengan KUD Pusat Jawa Tengah. Pembagian porsi kerja sama dengan para koperasi di Jawa Tengah adalah kami sebagai pelaksana teknis produksi sementara koperasi pelaksana tugas-tugas administratif dan finansial.

Jadi, koperasi juga ikut menopang secara finansial pengembangan usaha ternaknya, kami bantu secara teknis produksi dan pemasarannya. Setelah transaksi dagang berjalan selama satu tahun, barulah kami bagi hasil dengan pihak koperasi sebesar 50-50. Sejak awal CV Tri Agri Aurum bersama mitra berfokus pada pengembangan ternak sapi, belum lama ini CV Tri Agri Aurum mentransfer ilmu ternak ayam kepada mitra. Saya juga menjual pupuk dari limbah peternakan, dan saya menyarankan kepada mitra bisnis saya untuk melakukan hal itu juga. Saya membekali mereka dengan cara-cara mengolah limbahnya.

Bagaimana cara Anda mencari mitra?

Saya sering menginap di rumah pemotongan daging dan pasar untuk mengetahui siapa pembeli dan siapa yang menyuplai daging. Dari sering menginap di kedua tempat itu saya mengetahui siapa penyuplai utama daging. Biasanya satu pemotong atau penyuplai utama daging membawahi beberapa pedangang kecil di pasar. Penyuplai utama itulah yang saya ajak kerja sama.

Apa terobosan yang Anda lakukan untuk mengembangkan bisnis CV Tri Agri?

Dulu CV Tri Agri Aurum hanya bermain pada sektor sapi potong, sekarang kami mulai bermitra pada sektor ayam potong. Kami juga mulai pengembangan sektor hilir sejak tahun 2010, termasuk proyek produk olahan berupa bakso.

Apa kesulitan yang pernah dihadapi dan apa solusinya?

Permasalahan yang saya hadapi sangat banyak, paling utama pada masalah market, hal itu termasuk masalah harga, politik, alam, dan SDM. Dalam peternak, dua masalah utama adalah market dan kesehatan. Untuk mengelola masalah kesehatan, Kami melakukan pembekalan materi sebelum kegiatan produksi kepada para peternak. Seringnya adalah masalah penyakit. Kami membuat forum tanya jawab untuk menganalisis secara bersama-sama masalah yang dihadapi. Sementara itu, mengelola SDM seperti mengatur langit, sulit sekali memprediksinya. Baik karyawan atau mitra bisnis, jika sudah mengganggu sistem bisnis CV Tri Agri Aurum langsung saya buang, karena saya tidak ingin menyimpan racun. Untuk mengatasi permasalahan harga, setiap pagi saya melakukan koreksi harga di pasar tradisional. Untungnya fluktuasi harga daging sapi terjadi secara bulanan atau tahunan, dibandingkan fluktuasi harga daging ayam yang terjadi harian. Maka, saya menambah tenaga SDM untuk sektor ayam potong untuk mengelola teknis dan melakukan koreksi harga di pasar.

Target pasar siapa?

Target pasar saya lebih kepada pedagang kecil menengah di pasar-pasar tradisional. Saya juga memberikan insentif kepada pedagang kecil menegah seperti bonus. Untuk membina hubungan dengan para pedagang kecil menengah biasanya saya ajak mereka diskusi, saya ajak mereka jalan-jalan, sampai pada membantu ‘urusan dapur’ mereka. Dari pengalaman, untuk membuat pedagang dan mitra bisnis jadi loyal dengan kami, tidak bisa dengan hubungan kerja yang kaku, perlu menjaga ikatan emosional dengan mereka.

Bagaimana kisah Anda mengikuti Wirausaha Muda Mandiri? Apa dampaknya?

Di tahun 2009 saya mencoba ikut Wirausaha Muda Mandiri (WMM), namun tidak lolos pada tahap penyisihan regional. Ketika mencoba ikut lomba itu lagi di tahun 2010, saya naik menjadi Juara Kanwil Jateng-DIY, untuk kategori Industri dan Jasa. Sebenarnya saya cuma iseng untuk mengikuti acara Wirausaha Muda Mandiri, ingin tahu saja. Satu-satunya ajang penghargaan yang saya ikuti untuk kewirausahaan hanya itu saja. Namun, ekspos yang saya dapat dari acara Wirausaha Muda Mandiri ini cukup besar, sehingga menarik perhatian mahasiswa terutama yang di wilayah Jateng. Setelah acara WMM saya mendapat banyak kunjungan lapangan dari mahasiswa, banyak terjadi diskusi di sana.

Saya perhatikan mereka terinspirasi dan lebih mengapresiasi bisnis karena pencapaian yang saya dapatkan (Triyono memakai kruk untuk berjalan karena menderita penyakit polio sejak balita). Dalam sebulan saya bisa memberikan kuliah tamu kepada mahasiswa sebanyak 3-4 kali. Terkadang beberapa saya tolak karena menyita waktu dan jarak tempuh yang terlalu jauh. Makanya, sampai saat ini saya masih memberikan kuliah untuk kampus-kampus di sekitar Jateng dan DKI Jakarta, meski tawaran untuk kuliah tamu di Riau dan Medan juga ada. Ke depannya saya ingin memberikan kuliah tamu untuk mahasiswa dari Sabang sampai Merauke.

Bagaimana kinerja CV Tri Agri Aurum saat ini?

Di tahun 2010 kami membukukan omset sebesar Rp 3 miliar per bulan. Saat ini omset kami sebesar Rp 4,5 miliar per bulan. Saya memang menargetkan pertumbuhan omset sebesar 100-200% per bulan setiap tahunnya. Ambisi pribadi saya sejak tahun 2005 adalah saya bisa membukukan nilai transaksi sebesar Rp 120 miliar, karena itulah saya menggandeng koperasi. Hitungan saya, jika saya mampu mengelola sistem transaksi daging untuk pedagang kecil menengah di seluruh Jawa Tengah maka angka Rp 120 miliar bisa saya dapatkan kurang dari sebulan. Saat ini kapasitas produksi CV Tri Agri Aurum bersama dengan para mitra bisnis adalah 120 ton per bulan untuk ayam, kemudian untuk sapi kurang lebih kapasitasnya 12 ekor per bulan.

Memang unggulan kami saat ini adalah ayam potong, karena saat ini faktanya menyuplai daging sapi memang sulit. Terkadang petani dan mitra menahan sapinya, ketika menjual pun harganya terlalu tinggi. Dalam situasi seperti ini saya pun ikhlas jika hanya untung 30% sementara petani 70%, yang penting repitasi transaksi bagi saya. Sulit bagi saya untuk memberikan target produksi yang rata kepada setiap mitra bisnis saya, paling pelaksanaan teknis produksi yang saya minta mereka terapkan, seperti penanganan masalah pakan, dsb. Saat ini, karyawan teknis CV Tri Agri Aurum sendiri berjumlah sembilan orang, jika digabungkan dengan mitra bisnis (mereka mempunyai karyawan sendiri) maka jumlahnya menjadi 20-25 orang.

Apa target dan rencana CV Tri Agri ke depan?

CV Tri Agri Aurum ingin memiliki ranch khusus yang kami kelola secara industri, yang berkapasitas 10.000-100.000 ekor sapi. Di situ akan ada rumah pemotongan daging juga, kemudian daging akan kami paketkan dalam bentuk beku (frozen), yang akan kami beri label sesuai kelas dan representasi daerah. Misalnya, ketika kami mengembangkan jenis sapi Bali, maka akan kami berikan label tersebut. Target saya dalam dua tahun rencana tersebut bisa dilaksanakan, investasi yang kami butuhkan sebanyak Rp 500 miliar-Rp 1 triliun.

Apakah benar CV Tri Agri mempunyai program CSR?

Saya juga iseng-iseng mengadakan program CSR tak lama setelah mendirikan CV Tri Agri Aurum, tentunya berbeda dengan CSR a la korporasi besar. Bentuk CSR a la CV Tri Agri Aurum adalah bantuan pencarian modal kepada mitra bisnis, kemudian pembekalan materi-materi ilmu peternakan kepada para petani/peternak. Berbagi ilmu kewirausahaan dengan mahasiswa bisa dikatakan juga bentuk CSR CV Tri Agri Aurum.

Apa mimpi/obsesi Anda dalam karier?

Saya ingin menjadi bagian penting dari bangsa ini dan juga orang lain. Caranya, saya membangun bisnis dengan pola sebanyak mungkin mitra, sehingga ada timbal baliknya, orang pun bisa memanfaatkan saya. Saya tidak akan bertahan selamanya di agribisnis, target saya setelah sukses di agribisnis adalah terjun ke politik. Menurut saya, untuk mengubah sejarah diperlukan pengaruh, saya tidak akan bisa memajukan sektor agribisnis Indonesia secara total jika saya tidak punya kekuatan untuk membuat kebijakan yang mendukung hal tersebut. Tokoh panutan saya dalam bidang bisnis adalah Bill Gates, karena ia memiliki kepekaan sosial yang tinggi dan memiliki cara mengelola teamwork yang bagus. Untuk tokoh lokal, saya menyukai Chairul Tanjung karena kedekatan latar belakang kehidupannya dengan saya.

Mengapa anak muda kurang tertarik agribisnis?

Anak muda enggan berbisnis pada sektor agribisnis karena sistemnya yang tidak tertata dengan rapi. Apalagi pekerjaannya yang sangat menyita waktu dan tenaga, serta butuh kesabaran ekstra. Jika agribisnis Indonesia dikelola dengan sistem industrial korporasi saya yakin anak muda akan antre untuk terjun di dalamnya, seperti di Thailand dan RRC.

Sunday, September 1, 2019

Kisah Sukses Krisna Bali ( Pusat Oleh - Oleh Bali )


Ketika saya membuat artikel mengenai  "Pusat Oleh-Oleh Bali on Review" tanpa sengaja saya malah menemukan cerita dibalik kesuksesan Krisna Oleh-Oleh Bali.

Berdirinya Krisna Oleh Oleh Khas Bali

Bertahan Hidup
Pukul 12 malam, saat satpam hotel sudah pulang, ada sebuah mobil minibus station yang parkir di halaman hotel. Dengan inisiatifnya sendiri, Anom kemudian mencuci mobil itu. Berbekal kain lap bersih, ember, dan air bersih dari keran, mobil itu ia cuci sampai bersih. Kelar mencuci mobil pukul 2 dinihari, Anom kemudian tertidur di pos satpam hotel hingga jam 6 pagi. Bangun tidur, Anom langsung menyapu membersihkan halaman parkir hotel. “Sekitar pukul 7 pagi, pemilik mobil yang saya cuci pukul 2 dinihari tadi keluar hotel menuju mobilnya. Ternyata dia owner atau pemilik Hotel Rani yang saya tidak tahu nama Hotel tempat Anom menjadi tukang cuci mobil 34 Gusti Ngurah Anom nya. Dia bertanya apa saya mau kerja di hotel miliknya?

Saya jawab saya mau bantu-bantu saja. Saya juga minta ijin untuk numpang di pos satpam dan minta diberi makan dan minum. Selama 2 tahun berikutnya saya diijinkan menumpang tidur di pos satpam hotel Rani.” Hari kedua tinggal di pos satpam Hotel Rani, Anom mencuci 3 buah mobil, 1 milik pemilik hotel, 2 buah mobil lagi milik tamu hotel yang menginap di sana. Pekerjaan mencuci mobil ini dilakukannya mulai pukul 12 malam sampai pukul 3 pagi. Pukul 3 pagi hingga 6 pagi ia istirahat tidur di pos satpam hotel. “Sekitar pukul 8 pagi, pemilik mobil yang saya cuci semalam keluar hotel. Kepada pemilik mobil saya bilang bahwa saya yang mencuci mobilnya semalam. Saya kemudian mendapat upah sebesar Rp 2000, jumlah yang lumayan di masa itu. Waktu itu harga sepotong kue Rp 25, secangkir kopi Rp 25, dan sebungkus nasi Rp 50. Uang Rp 100 atau Rp 200 saja sudah cukup, apalagi Rp 2000.”
Dengan menjadi tukang cuci mobil saat itu, Gusti Ngurah Anom merasa sudah seperti bos. Menjadi tukang cuci mobil waktu itu, penghasilannya per hari antara Rp 2000 hingga Rp 5000. Mobil yang ia cuci tidak hanya mobil tamu yang menginap di Hotel Rani tempatnya menumpang tinggal di pos satpam, tapi juga di 4 hotel lain sekitar Hotel Rani Sanur. Dengan penghasilan dari mencuci mobil tamu hotel, Anom mulai bisa menabung dan mulai bisa membeli baju. Dengan uang tabungan hasil mencuci mobil tamu hotel, Anom Raja Oleh-Oleh Khas Bali 35 juga bisa membeli sepeda lagi. Sepeda yang ia beli merk Phoenix seharga Rp 45.000. Dengan sepeda ini ia keliling dari satu hotel ke hotel lainnya mencari mobil tamu hotel yang mau dicuci. “Saya berkeliling hingga ke hotel-hotel yang ada di Jalan Danau Tamblingan dan jalan By Pass Ngurah Rai.

Ada sekitar 15 hotel di wilayah itu yang menjadi langganan saya. Setiap malam saya mencuci mobil di 3 hotel berbeda. Mobil yang sudah selesai saya cuci wipernya saya angkat sebagai kode sudah bersih dicuci,” ujar Anom mengenang masa-masa penuh perjuangan menjadi seorang tukang cuci mobil. Selain Anom, profesi mencuci mobil tamu hotel waktu itu juga dilakukan beberapa orang lainnya. Di sini sering terjadi persaingan antar sesama tukang cuci mobil. Persaingan tidak sehat juga kerap terjadi diantara mereka. Upah hasil cuci mobil tamu hotel yang dikerjakan Anom sering diambil oleh orang lain. Meski demikian, rejeki yang didapat Anom dari mencuci mobil tamu hotel selalu ada. “Saya juga sering diajak beberapa rekan sesama tukang cuci mobil untuk bekerja sama mencuci mobil para tamu hotel yang menginap di kawasan Sanur dan sekitarnya.”

Setelah 2 tahun bekerja sebagai tukang cuci mobil, Gusti Ngurah Anom bisa membeli sebuah sepeda motor bekas jenis bebek Honda 70 warna merah seharga dengan harga Rp 150.000. Motor ini kemudian diperbaiki lagi di sebuah bengkel di Pedungan dengan biaya perbaikan Rp 250.000. 2 tahun bekerja sebagai tukang cuci mobil, penyakit 36 Gusti Ngurah Anom rematik mulai menyerang tubuhnya yang kurus. Tangan dan kaki Anom mulai sering sakit karena sering kedinginan terkena air sewaktu mencuci mobil tamu hotel. “Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan sebagai tukang cuci mobil.”


Mengenal Konveksi
Setelah memutuskan berhenti bekerja sebagai tukang cuci mobil, Anom pergi meninggalkan ‘rumah’ yang ditempatinya selama 2 tahun. Setelah memutuskan untuk berhenti sebagai tukang cuci mobil, Anom mulai memutar otak, bagaimana agar bisa mendapat pekerjaan baru, tempat tinggal baru, dan tentu saja agar bisa tetap makan. Anom kemudian mendatangi usaha Konfeksi Sidharta yang ada di Jalan Waturenggong. Di tempat itu ia langsung bertemu pemiliknya Pak Sidharta. “Kepada beliau saya langsung bilang sedang mencari kerja.” Gusti Ngurah Anom diawal berdirinya Cok Konfeksi Gusti Ngurah Anom Pak Sidharta langsung menerima Anom untuk bekerja di perusahaan Konfeksi miliknya. “Saya langsung bekerja serabutan, bantu-bantu di usaha Konfeksi milik Pak Sidharta. Saya bekerja mulai pukul 8 pagi hingga pukul 5 Sore.” Saat itu usaha Konfeksi Sidharta memiliki 15 orang karyawan, semuanya tinggal di luar Konfeksi. Para karyawan tidak ada yang mau tinggal di tempat usaha.

Akhirnya Anom diminta tinggal di tempat usaha Konfeksi Sidharta merangkap sebagai waker atau penjaga tempat usaha. “Karena tinggal di dalam, akhirnya saya sering mendapat tugas tambahan membeli makanan untuk keluarga Pak Sidharta seperti membeli capcay dan lain sebagainya,” ujar Anom. “Saya mau tinggal di tempat usaha milik Pak Sidharta bukan karena saya mau cari muka atau disayang Pak Sidharta. Tapi itu merupakan salah satu bentuk usaha saya agar bisa mendapat tempat tinggal dan makan sekaligus. Ini merupakan strategi saya untuk tetap bisa bertahan hidup di Kota Denpasar,” imbuhnya. Selama 6 bulan bekerja di Sidharta Konfeksi, Anom mulai belajar memotong kain, menjahit, hingga menyablon. Semua itu dilakukan di atas jam 5 sore saat semua pegawai sudah pulang ke rumah. Saat tinggal di Konfeksi Sidharta, Anom tidak memiliki kamar khusus. Ia sering tidur di rak-rak tempat menyimpan kain, atau tidur di meja potong. “Untuk urusan tidur, saya termasuk gampang, bisa dimana saja.” Raja Oleh-Oleh Khas Bali

Setelah 6 bulan akhirnya Anom sudah bisa memotong kain, menjahit, hingga sablon. 1 tahun bekerja di Sidharta Konfeksi, Gusti Ngurah Anom sudah naik ‘pangkat’ jadi senior. Sementara pegawai lain yang tadinya senior, ada yang turun ‘pangkat’ jadi yunior. Dengan posisi senior, Anom mendapat kepercayaan untuk mengurus gaji pegawai, membeli kain, dan tentu saja mendapat transfer ilmu dari Pak Sidharta mengenai usaha Konfeksi. Seiring perjalanan waktu, usaha Konfeksi Sidharta berkembang pesat. Setelah bekerja setahun, Anom semakin dipercaya Pak Sidharta. 70 persen usaha Konfeksi dipercayakan pengaturannya kepada Anom. Setelah bekerja 1 tahun lebih, Anom bisa dikatakan sudah menjadi tangan kanan Pak Sidharta. “Oleh sesama teman pegawai, waktu itu saya sempat dituding cari muka, dituduh sebagai detektif untuk menyelidiki perilaku karyawan. Menghadapi tudingan itu, saya pasrah saja. Prinsip saya waktu itu cuma satu, yakni berusaha agar perusahaan maju dan membuat bos menjadi senang.” Saat bekerja di usaha Konfeksi Sidharta, Anom tahu Pak Sidharta punya satu mesin canggih yang tidak dipakai. Mesin jenis ‘over deck’ atau mesin obras benang tiga itu sering mangkrak di Konfeksi. Pak Sidharta dan karyawan konfeksi enggan menggunakan mesin itu karena susah dalam pemakaiannya. Seijin Pak Sidharta, akhirnya mesin itu digunakan Anom untuk memulai usaha konfeksi sendiri.


Usaha Konfeksi yang dirintis Gusti Ngurah Anom di sebuah gudang Jalan Tukad Irawadi berkembang pesat. Tahun 1990 Anom dan istri memberanikan diri untuk membuka usaha Konfeksi sendiri yang diberi nama COK KONFEKSI. Ia menyewa sebuah tempat ukuran 6 X 7 meter yang terletak di depan Art Centre Denpasar dengan harga sewa Rp 1.250.000 per tahun. Cok Konfeksi di Jl. Nusa Indah, Denpasar 44 Gusti Ngurah Anom “Awal membuka usaha Cok Konfeksi, saya belum mendapat ijin dari Pak Sidharta. Bahkan saya sempat dimarahi, belum dipercaya bisa usaha sendiri. Meski sudah punya usaha Konfeksi sendiri, saya masih diminta untuk membantu usaha Konfeksi Pak Sidharta hingga tahun 1994. Usaha Cok Konfeksi ini awalnya merupakan usaha patungan antara saya dengan Pak Sidharta,” jelas Anom.

Tahun 1994 Anom mengontrak tanah seluas 1 are di Jalan Pakis Aji Denpasar. Di atas tanah ini ia mendirikan bangunan untuk tempat jahit sekaligus tempat tinggal bersama keluarganya. “Waktu itu saya sudah betul-betul ingin mandiri, namun keinginan saya itu selalu ditolak Pak Sidharta dan istrinya. Alasannya saya sudah diandalkan untuk membantu menggerakkan roda usaha mereka, Konfeksi Sidharta.” Suasana garment Cok Konfeksi Raja Oleh-Oleh Khas Bali Setelah menjalin kerjasama dengan Pak Sidharta selama 4 tahun (1990-1994), tahun 1994 akhirnya Pak Sidharta setuju Anom berdiri sendiri, lepas dari usaha Konfeksi miliknya. Syaratnya, semua aset usaha Cok Konfeksi senilai Rp 60 juta dibagi dua. “Syarat itu saya setujui. Bagian Pak Sidharta senilai Rp 30 juta saya pinjam sebagai tambahan modal usaha dan baru saya lunasi pada tahun 2000.”

Perlu perjuangan dan kerja keras untuk membesarkan usaha Konfeksi yang baru dirintis Anom. Butuh waktu 6 tahun disertai usaha yang ekstra keras untuk membangun Cok Konfeksi menjadi sebuah usaha yang sehat dan menguntungkan. Tahun 2000 akhirnya Anom bisa membeli rumah se- Gusti Ngurah Anom dan Karyawan di Cok Konfeksi 46 Gusti Ngurah Anom luas 5 are senilai Rp 350 juta di Jalan SMA 3 Denpasar. Dana untuk membeli rumah ini dari hasil pinjam di Bank Dagang Bali dan pinjam dari Pak Sidharta. Untuk pengembangan bisnis, tahun 2001 Anom berhasil membeli lahan seluas 6,5 are senilai Rp 1,2 milyar di Jalan Nusa Indah. Lahan ini digunakan sebagai toko sekaligus sebagai tempat tinggal bersama keluarga. Seiring perjalanan waktu, usaha Cok Konfeksi yang dirintis Anom semakin berkembang pesat menjadi usaha Konfeksi terkenal di Bali.



Usaha Cok Konfeksi yang dirintis Anom sejak tahun 1990 bisa dikatakan sudah sukses. Namun ia tidak puas sampai di sana. Gusti Ngurah Anom (tengah) bersama Putra Sulung, Gusti Ngurah Berlin Bramantra (kiri) dan Putra Ketiga, Gusti Ngurah Anom Krisna Gusti Ngurah Anom “Berdasarkan pengalaman mengelola usaha Konfeksi sejak masih di Konfeksi Sidharta hingga Cok Konfeksi, saya jadi paham, bahwa level penjualan produk konfeksi segitu- segitu saja. Untungnya juga segitu-segitu aja. Saya kemudian berpikir untuk melakukan pengembangan jenis usaha,” ujar Anom. Tahun 2007, Anom dan istri ingin mengembangkan usaha selain usaha Konfeksi. Waktu itu ia dan istri berkeinginan untuk membuka usaha butik. Sebelum mewujudkan usaha butik, Anom mengkursuskan istrinya ke sekolah desain dan mode Susan Budiarjo. 3 Bulan kursus di sana, istrinya menjadi murid terbaik. Ini karena istrinya Ketut Mastrining sudah memiliki latar belakang bisa menjahit.
Meski sudah mengirim istrinya kursus mode di Susan Budiarjo, keinginan untuk mendirikan usaha butik ini akhirnya dibatalkan dengan beberapa pertimbangan tertentu. Batal mendirikan usaha butik, Anom terus memutar otak. Di sela waktu luang, Anom dan istrinya kemudian Krisna Oleh-Oleh Khas Bali di daerah Tuban, Kuta Raja Oleh-Oleh Khas Bali berkeliling di sekitar Denpasar dan Gianyar untuk mencari ide bisnis baru. Ditemani istrinya, Anom melakukan survey ke Pasar Seni Sukawati Gianyar. “Setelah melakukan survey selama 1 bulan lebih, akhirnya kami tahu bahwa jenis oleh-oleh yang paling laku adalah baju kaos. Waktu itu saya berpikir, kenapa tidak saya saja yang membuka usaha oleh-oleh khas Bali. Saya yakin bisa bersaing, apalagi saya punya usaha Konfeksi yang juga memproduksi kaos oblong,” ujar Anom. Setelah melakukan berbagai persiapan, pada 16 Mei 2007 pusat oleh-oleh Krisna I yang berlokasi di Jalan Nusa Indah Denpasar akhirnya diresmikan.

Sukses yang dicapai Gusti Ngurah Anom tidak datang begitu saja jatuh dari langit. Untuk mencapai sukses seperti saat ini, butuh pengorbanan dan kerja keras. Setiap harinya, Anom mengaku hanya tidur 3 hingga 4 jam. “Pukul 06.30 pagi saya sudah mengantar anak ke sekolah. Pukul 08.00 pagi saya sudah mulai kerja, turun langsung mengontrol seluruh usaha saya mulai Konfeksi hingga pusat oleh-oleh yang saya miliki. Setiap harinya saya bekerja mulai pukul 8 pagi hingga 12 malam. Saya tidak pernah tidur siang. Saya tidak pernah libur, kecuali sakit. Saya juga memilih untuk tidak punya kantor.” Untuk bisa meraih sukses, Gusti Ngurah Anom juga selalu menanamkan beberapa hal penting kepada keluarga dan para karyawannya yakni selalu menjaga kejujuran, kerja keras untuk mencapai hasil maksimal.
Jika sudah bekerja keras, pasti akan menerima hasil maksimal. Jangan belum bekerja sudah tanya berapa gaji atau hasil yang didapat.” Anom juga menekankan pentingnya sikap untuk selalu bisa menjaga emosi dan berpikir positif. Selain itu, ia juga mengutamakan sikap kekeluargaan di dalam mengelola perusahaan. Gusti Ngurah Anom “Saya tidak perlu dihormati, saya tidak mau dipanggil Pak Cok, cukup panggil Ajik, biar lebih akrab. Saya juga selalu berpesan kepada keluarga dan para karyawan saya : Cintailah Pekerjaanmu.”



Kisah Sukses Mochtar Riady ( Pemilik Lippo Group )

Nama Mochtar Riadi mungkin sedikit asing bagi Anda yang belum mengenal dunia bisnis dengan baik. Namun jika mendengar nama Lippo Group mu...