Showing posts with label Kekayaan. Show all posts
Showing posts with label Kekayaan. Show all posts

Monday, September 16, 2019

Kisah Sukses Mochtar Riady ( Pemilik Lippo Group )


Nama Mochtar Riadi mungkin sedikit asing bagi Anda yang belum mengenal dunia bisnis dengan baik. Namun jika mendengar nama Lippo Group mungkin tak asing lagi untuk Anda. Lippo Group adalah salah satu perusahaan besar di Indonesia yang fokus bisnisnya melalui Media, Properti, Ritel, Keuangan, dan Kesehatan. Salah satu anak usaha yang dimiliki Grup Lippo adalah Meikarta, Rumah Sakit Siloam, Lippo Malls, Berita Satu Media, Hypertmart, Matahari Department Store, Timezone, dan masih banyak lagi.

Namun siapa sangka pendiri sekaligus pemilik dari Lippo Group adalah pria bernama Mochtar Riadi. Dia adalah salah satu orang terkaya di Indonesia saat ini, namanya menjadi langganan dari 10 daftar manusia terkaya di Indonesia versi Forbes.

Lalu seperti apa kisah sukses Mochtar Riadi ? Nah berikut ini adalah cerita inspiratif sang pendiri Lippo Group mulai dari biografi, profil, hingga perjalanan hidup yang mungkin akan memberikan kita pelajaran yang berharga. Simak Penjelasannya.

Biografi
Mochtar Riady lahir di Kota Malang, pada tanggal 12 Mei 1929. Mochtar adalah keturuan Chinese, ayahnya adalah seorang pedagang batik bernama Liapi, sedangkan ibunya bernama Sibelau. Kedua orang tuanya merantau dari Fujian ke Malang pada tahun 1918.

Mochtar Riady telah bercita-cita menjadi seorang bankir saat usianya masih 10 tahun. Ketertarikan Mochtar Riady ini disebabkan karena setiap hari ketika berangkat sekolah, dia selalu melewati sebuah gedung megah yang merupakan kantor dari Nederlandsche Handels Bank (NHB) dan melihat para pegawai bank yang berpakaian rapih dan kelihatan sibuk.

Mochtar Riady akhirnya sangat ingin menjadi seorang bankir, namun ayahnya tidak mendukung keinginan tersebut karena profesi bankir hanya untuk orang-orang kaya saja, sedangkan kondisi keluarga mereka saat itu terbilang miskin.

Pada usianya yang menginjak 18 tahun, tepatnya pada tahun 1947. Mochtar ditangkap oleh pemerintah Belanda karena menentang pembentukan Negara Indonesia Timur dan sempat ditahan di penjara Lowokwaru, Malang. Ia kemudian di buang ke Cina, di sana Mochtar melanjutkan pendidikannya dengan mengambil kuliah filosofi di Universitas Nanking. Mochtar Riady tinggal di Hongkong hingga tahun 1950, dan kemudian kembali lagi ke Indonesia.

Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1951, Mochtar menikahi anak seorang pengusaha bernama Suryawati Lidya, seorang wanita cantik asal Jember. Dari pernikahaanya, Mochtar Riady di anugerahi empat orang anak bernama, Rosy Riady, Andrew Taufan Riady, Stephen Tjondro Riady dan James Tjahaja Riady.

Oleh mertuanya, Mochtar Riady diserahi tanggung jawab untuk mengurus sebuah toko kecil. Dalam tempo tiga tahun, Mochtar Riady telah dapat memajukan toko kecil mertuanya tersebut menjadi toko terbesar di Jember.

Hal inilah yang membuat keinginan masa kecilnya untuk menjadi seorang bankir kembali muncul. Riady lantas memutuskan untuk pergi ke Jakarta pada tahun 1954, walaupun saat itu dia tidak memiliki seorang kenalan pun di sana dan disisi lain keputusannya itu di tentang oleh keluarganya juga. Namun Mochtar Riady berprinsip bahwa

“JIKA SEBUAH POHON DI TANAM DI DALAM POT ATAU DI DALAM RUMAH, TANAMAN ITU TIDAK AKAN PERNAH TINGGI DAN BERKEMBANG, NAMUN AKAN TERJADI SEBALIKNYA BILA DI TANAM DI SEBUAH LAHAN YANG LUAS”


Mulai Berkarir
Mochtar Riady mengawali karirnya di jakarta saat bekerja di sebuah CV di jalan hayam wuruk selama enam bulan, hal ini dilakukan untuk membangun relasi. Setelah itu, ia bekerja pada seorang importer, sekaligus membangun bisnis kapal bersama temannya.

Walau saat itu, keinginan untuk menjadi seorang bankir masih menggelora di dadanya. Ia selalu mengutarakan keinginan itu kepada relasi-relasinya. Dan pada akhirnya, seorang temannya mengabarinya jika ada sebuah bank yang lagi terkena masalah dan menawarinya untuk memperbaikinya.

Mochtar Riady tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut walau saat itu dia tidak punya pengalaman sekalipun. Mochtar Riady berhasil meyakinkan Andi Gappa, pemilik Bank Kemakmuran yang bermasalah tersebut sehingga ia pun ditunjuk menjadi direktur di bank tersebut.

Setelah menjadi direktur bank, ia mulai kebingungan saat disodori “balance sheet”. Ia lantas memutuskan untuk memperdalam ilmu akuntansi. Setelah pengetahuannya mulai luas. Mochtar Riady mulai bertindak dan membuat kemajuan besar pada Bank Kemakmuran hanya dalam waktu satu tahun.

Setelah cukup besar, pada tahun 1964, Mochtar Riady pindah ke Bank Buana. Kemudian pada tahun 1971, dia pindah lagi ke Bank Panin yang merupakan gabungan dari Bank Kemakmuran, Bank Industri Jaya, dan Bank Industri Dagang Indonesia. Setelah bekerja beberapa tahun di Bank Panin, pada tahun 1975, Mochtar Riady kemudian pindah ke Bank BCA yang dimiliki oleh Soedono Salim ketika itu.

Setelah memberikan pengaruh besar di bank BCA. Mochtar diberikan 17,5 persen saham dan menjadi orang kepercayaan Soedono Salim. Aset BCA ketika Mochtar Riady bergabung hanya Rp 12,8 miliar. Mochtar baru keluar dari BCA pada akhir 1990 dan ketika itu aset bank tersebut sudah di atas Rp5 triliun.

Kemudian, Mochtar membeli sebagian saham di Bank Perniagaan Indonesia milik Haji Hasyim Ning pada 1981. Waktu dibeli, aset bank milik keluarga Hasyim telah merosot menjadi hanya sekitar Rp 16,3 miliar. Bergabung dengan Hasyim Ning membuat ia bersemangat. Pada 1987, setelah ia bergabung, aset Bank Perniagaan Indonesia melonjak naik lebih dari 1.500 persen menjadi Rp257,73 miliar. Ia lantas di juliki “The Magic Man of Bank Marketing”.

Dua tahun kemudian, pada 1989, bank ini melakukan merger dengan Bank Umum Asia dan semenjak saat itu lahirlah Lippobank. Inilah cikal bakal dari lahirnya Lippo Group. Pada tahun 1990, Mochtar Riady kemudian keluar dari bank BCA dan fokus membangun Bank Lippo.


Membangun Lippo Group
Di bawah kendali Mochtar Riady, Lippo Group berkembang dengan cepat. Bahkan bank yang didirkan Mochtar selamat dari guncangan krisis moneter, walaupun sempat digoyang isu kalah kliring (1995) dan persoalan rekapitalisasi (1999), namun perusahaan ini mampu untuk bertahan.

Tak hanya puas dalam sektor keuangan, Ekspansi yang di lakukan Lippo Group terbilang sangat lincah untuk memperluas core bisnisnya. Berikut ini adalah salah satu bagian dari core bisnis Grup Lippo.

Jasa keuangan yang meliputi perbankan, investasi, asuransi, sekuritas, manajemen aset dan reksadana.Properti dan urban development.
Bisnis yang meliputi pembangunan kota satelit terpadu, perumahan, kondominium, pusat hiburan dan perbelanjaan, perkantoran dan kawasan industri. Salah satu yang populer adalah Lippo Karawaci, dan Meikarta.
Bidang jasa-jasa yang meliputi teknologi informasi, bisnis ritel, rekreasi, hiburan, hotel, rumah sakit, dan pendidikan. Beberapa yang populer adalah Siloam Hospital, Matahari Departement Store, Hypermart, Lippo Mall, dan Berita Satu Media.
Pembangunan infrastruktur, seperti pembangkit tenaga listrik, produksi gas, distribusi, pembangunan jalan raya, pembangunan sarana air bersih, dan prasarana komunikasi. Hampir semua bisnis ini dikonsentrasikan di luar negeri dan dikontrol oleh kantor pusat Lippo Group yang berbasis di Hong Kong, dipimpin puteranya Stephen Riady. Aktivitas bisnisnya, antara lain, pembangunan jalan tol di Guang Zhou, pembangunan kota baru Tati City di Provinci Fujian, Gedung Perkantoran Plaza Lippo di Shanghai dan membangun kawasan perumahan elit dan perkantoran di Hong Kong.
Baca Juga: 20 Cara Positif Menjadi Pengusaha Sukses dari Nol sampai Sukses

Kesuksesan Mochtar Riady
Keberhasilan yang di raih oleh Mochtar Riady tak diragukan lagi. Totalitasnya membangun Lippo Group hingga meraksasa seperti sekarang ini patut di beri penghargaan. Lippo Group semakin besar ketika kendalinya mulai dipegang oleh suksesornya yaitu anaknya sendiri James Riady.

Keberhasilannya membangun Lippo Group sejalan dengan apa yang diraihnya. Ia selalu di nobatkan sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia versi Forbes. Menurut data dari Forbes 2018, Mochtar Riady berada di posisi ke sembilan sebagai orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan sebesar US$ 3 Milliar atau sekitar Rp 39 Triliun.


Saturday, September 14, 2019

Kisah Sukses Mark Zuckerberg ( Pendiri Facebook )


Sejak muda sudah keranjingan komputer. Ketika di Harvard sempat jadi pemberontak dengan membuka website data mahasiswa, ia pun diperkarakan. Lalu Facebook yang dibuatnya menggoncangkan dunia dan membawanya menjadi anak muda terkaya di dunia.

Namanya Mark Elliot Zuckerberg, dilahirkan di Dobb Ferry, West chester County, New York, 14 Mei 1984. Sekolah menengah di Ardsley High School, Ardsley, New York (1998-2000) dan Phillips Exeter Academy, Exeter, New Hamshire (2000-2002). Pendidikan universitas di bidang psikologi, Harvard University (drop-out). Perusahaan yang dimiliki, Facebook Inc. Kekayaan US$ 1,5 miliar (sekitar Rp 13,5 triliun), ranking ke-785 orang terkaya dunia versi Majalah Forbes 2008.

Adakah yang tidak mengejutkan dari data tersebut? Zuckerberg baru akan genap berusia 24 tahun pada Mei ini. Ia tak menyelesaikan kuliah di Harvard University tetapi berhasil membangun Facebook yang membuatnya mengumpulkan kekayaan sampai Rp 13,5 triliun. Siapapun akan menyebutnya luar biasa. “Dia adalah billionaire termuda di dunia saat ini, dan kami yakin ia adalah billionaire ter muda sepanjang sejarah yang mengumpulkan sendiri kekayaannya,” ujar Matthew Miller, associate editor Majalah Forbes.

Sebelum ini Forbes pernah memasukkan anak belia di deretan orang terkaya dunia namun mereka mendapatkannya dari warisan orangtuanya yang meninggal. Sedangkan Zuckerberg mendapatkannya dari hasil kerjanya. Lalu majalah ini menobatkan Zuckerberg sebagai “The Youngest `Self-made’ Billionaire on the Planet” tahun ini.

Awalnya Direktori Mahasiswa Zuckerberg lahir di kawasan bernama Dobbs Ferry, Westchester County, kota New York. Ia adalah anak kedua dari empat bersaudara dari orang tua pasangan dokter gigi – psikiater. Sejak kecil Zuckerberg suka mengu tak-atik komputer, mencoba berbagai program komputer dan belajar membuatnya. Ayahnya sendiri membelikannya komputer sejak ia beru sia delapan tahun. Saat di sekolah menengah Phillips Exeter Academy, ia dan rekannya, D’Angelo, membuat plug-in untuk MP3 player Winamp. Plug-in adalah program komputer yang bisa berinteraksi dengan aplikasi host seperti web browser atau email untuk keperluan tertentu.

Zuckerberg dan D’Angelo membuat plug-in untuk menghimpun kesukaan orang terhadap aneka jenis lagu dan kemudian membuat play list-nya sesuai selera mereka. Mereka mengirimkan program itu ke berbagai perusahaan termasuk ke AOL (American Online) dan Microsoft. Pada tahun terakhimya di Phillips ia direkrut oleh Microsoft dan AOL untuk suatu proyek.

Saat melanjutkan sekolah ke perguruan ting gi keduanya harus berpisah. D’Angelo masuk Caltech sedangkan Zuckerberg masuk Harvard. Di Harvard inilah Zuckerberg menemukan ide membuat buku direktori mahasiswa online karena universitasnya tak membagikan face book (buku mahasiswa yang memuat foto dan identitas mahasiswa di universitas itu) pada mahasiswa baru sebagai ajang pertemanan di antara mereka. Namun setiap kali ia menawarkan diri membuat direktori itu, Harvard menolaknya. “Mereka mengatakan punya alasan untuk tidak mengumpulkan informasi (mahasiswa) ini,” ujar Zuckerberg kemudian.

Meski ditolak ia selalu mencari cara untuk mewujudkannya. “Saya ingin menunjukkan kalau hal itu bisa dilakukan,” lanjutnya soal kengototannya membuat direktori itu.

Proyek pertamanya adalah CourseMatch (www.coursematch.com) yang memungkinkan teman-teman sekelasnya berkomunikasi satu sama lain di website tersebut. Suatu malam di tahun kedua ia kuliah di Harvard, Zuckerberg menyabot data mahasiswa Harvard dan memasukkannya ke dalam website yang ia buat bernama Facemash. Sejumlah foto rekan mahasiswanya terpampang di situ. Tak lupa ia membubuhkan kalimat yang meminta pengun jungnya menentukan mana dari foto-foto ini yang paling “hot”. Pancingannya mengena. Dalam tempo empat jam sejak ia meluncurkan webiste itu tercatat 450 orang mengunjungi Facemash dan sebanyak 22.000 foto mereka buka. Pihak Harvard mengetahuinya dan sambungan internet pun diputus. Zuckerberg diperkarakan karena dianggap mencuri data. Anak muda berambut keriting ini pun meminta maaf kepada rekan-rekan yang fotonya masuk di Facemash. Tetapi ia tak menyesali tinda kannya. “Saya kira informasi seperti itu harus tersedia (online),” ujamya.


Alih-alih kapok ia malah membuat website baru dengan nama Facebook (www.thefacebook.com). Website ini ia luncurkan pada Februari 2004. Facebook merupakan penyempurnaan dari Facemash. Sasarannya tetap sebagai tempat pertemuan sesama mahasiswa Harvard. Dalam penjelasan di website-nya sekarang disebutkan bahwa Facebook adalah suatu alat sosial untuk membantu orang berko munikasi lebih efisien dengan rekan, keluarga, atau rekan kerjanya. Facebook menawarkan navigasi yang mudah bagi para penggunanya. Setiap pemilik account punya ruang untuk memajang fotonya, teman-temannya, network, dan melakukan hal lainnya seperti bisa berkirim pesan dan lain sebagainya.

Banyaknya aplikasi yang bisa digunakan oleh anggotanya membuat Facebook digan drungi banyak orang. Konon hingga saat ini sudah lebih dari 20.000 aplikasi dimasukkan ke dalam Facebook yang bisa digunakan para anggotanya. Setidaknya 140 aplikasi baru ditambahkan ke Facebook setiap harinya dan 95% pemilik account Facebook telah menggu nakan minimal satu aplikasi.

Penyertaan banyak aplikasi ini membuat Facebook berbeda dengan website jejaring sosial terdahulu seperti MySpace. Lalu orang berbondong-bondong mengunjungi website nya dan mendaftar jadi anggotanya. Dalam waktu dua minggu setelah diluncurkan, separuh mahasiswa Harvard sudah memiliki account di Facebook. Ternyata tak hanya mahasiswa Harvard yang tertarik, beberapa kampus di sekitar Harvard pun meminta dimasukkan dalam jejaring Facebook. Ini membuat Zuckerberg kewalahan. Ia lalu meminta bantuan dua temannya untuk ikut mengem bangkan Facebook. Dalam tempo empat bulan Facebook sudah bisa menjaring 30 kampus. Hingga akhir 2004 jumlah pengguna Facebook sudah mencapai satu juta.

Pengguna Facebook terus meningkat. Malah ada sejumlah orang yang tak lagi jadi mahasiswa atau yang masih di sekolah ingin bergabung. Tingginya desakan ini membuat Zuckerberg dan kawan-kawan memutuskan Facebook membuka jaringan untuk para siswa sekolah menengah (di sini SMU) pada Sep tember 2005. Tak lama kemudian mereka juga membuka jejaring para pekerja kantoran. Kesibukan yang luar biasa ini membuat Zuckerberg harus memutuskan keluar dari Harvard. “Apa yang saya inginkan sudah ada di tangan. Saya tidak ingin punya ijazah kemudian bekerja. Menurut saya, pekerjaan hanyalah untuk orang-orang yang lemah,” ujarnya pada Majalah Current.

Zuckerberg dan kawan-kawan kemudian mengembangkan Facebook lebih jauh lagi. Pada September 2006 Facebook membuka pendaftaran untuk jejaring umum dengan syarat memiliki email. Sejak itulah jumlah anggota Facebook melesat.
Saat ini jumlah anggota aktifnya mencapai 70 juta di seluruh dunia. Jejaring yang dihim punnya mencapai enam juta jaringan (ke lompok pertemanan) meliputi 55.000 jaringan berdasarkan demografi, pekerjaan, sekolah, kolegial, dan sebagainya. Setiap harinya ada 14 juta foto di-upload (dimasukkan ke Facebook). Dan dalam hal jumlah trafik pengakses Facebook menjadi website teraktif ke-6 di dunia dan menjadi website jejaring sosial kedua terbesar versi camScore.

Jual Saham Jadi Kaya, Jumlah anggota Facebook yang jutaan or ang itu menjadi tambang emas yang meng giurkan. Zuckerberg dan kawan-kawan pun menangkap peluang bisnis yang besar. Karena itu ketika jumlah user-nya melebihi satu juta mereka menggandeng Accel Part ners, perusahaan modal ventura, untuk membiayai pengembangannya. Modal yang ditanamkan adalah US$ 12,7 juta. Ini adalah investasi kedua yang masuk ke Facebook setelah sebelumnya (Juni 2004) men dapatkan dan dari pendiri PayPal sebesar US$ 500.000. Pembenahan pertama dengan tambahan modal itu adalah dengan meng ganti domain-nya dari www. thefacebook. corn menjadi http://www.facebook.com pada Agustus 2005. Setelah itu jangkauan keanggotaannya diperluas menjadi internasional. Hingga Desember 2005 jumlah anggotanya sudah mencapai 5,5 juta.

Meski jumlah user-nya meningkat tajam pada tahun 2005 disebutkan Facebook menga lami kerugian sampai US$ 3,63 juta. Facebook kemudian mendapatkan dana sebesar US$ 25 juta dari Greylock Partners dan Meritech Capi tal Partners. Dana itu digunakan untuk meluncurkan versi mobile-nya.

Pada September 2007 Microsoft melakukan pendekatan dan menawarinya membeli 5% saham senilai sekitar US$ 300 juta hingga US$ 500 juta. Jika nilai itu disetujui maka nilai kapitalisasi Facebook sudah mencapai US$ 6 miliar hingga US$ 10 miliar atau sekitar Rp 54 triliun hingga Rp 90 triliun. Namun Microsoft akhirnya mengumumkan hanya membeli 1,6% saham Facebook dengan nilai US$ 240 juta pada Oktober 2007. Transaksi ini menunjukkan nilai kapitalisasi Facebook ternyata lebih tinggi yaitu sekitar US$ 15 miliar (sekitar US$ 135 triliun).

Setelah itu sejumlah tawaran mengepung Facebook. Li Ka-shing disebut-sebut ikut menginvestasinya sekitar US$ 60 juta pada November 2007. Lalu ada berita yang menyebutkan Viacom, Yahoo, Google, dan sebagainya pun ikut menawar untuk membeli Facebook. Sejauh ini Zackerberg me ngatakan Facebook tak akan dijual.

Melesatnya bisnis Facebook membuat Zackerberg menampuk kekayaan yang luar biasa. Majalah Forbes menyebutkan kekayaan Zackerberg sendiri mencapai US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 13,5 triliun. Jangankan untuk anak seusia Zackerberg, untuk orang dewasa pun harta sebanyak itu tentu jumlah yang luar biasa besar. Maka wajar jika majalah itu menobatkannya sebagai The Youngest `Self-made’ Billionaire on the Planet.

Prestasi yang diraih Zackerberg tak benar -benar mulus. Sejumlah perkara ia dapatkan sehubungan dengan Facebook. Termasuk dari rekannya di Harvard yang menyebutkan rancangan Facebook sebenarnya tiruan dari ConnectU. Namun Zackerberg tetap bergeming bahwa Facebook merupakan hasil karyanya. Meskipun ConnectU kalah dalam persidangan pertama, perusahaan ini mendaftarkan gugatan baru pada Maret 2008.

Kontroversi juga datang dari negara-negara seperti Myanmar, Bhutan, Syria, Arab Saudi, Iran dan sebagainya yang menyebutkan kalau Facebook mempromosikan serangan terhadap otoritas pemerintahannya sehingga akses terhadap Facebook di negara tersebut ditutup.

Di tengah sejumlah kontroversi itu, nama Facebook dan Mark Zackerberg tetap digan drungi banyak orang. Zackerberg sendiri di tengah kepopuleran namanya dan jumlah kekayaan yang dimilikinya, ia tetap sederhana. Ia masih tinggal di apartemen sewaan dan di kamarnya hanya tersedia sebuah meja dan kursi. Kasurnya diletakkan di lantai. Kala datang ke kantornya di Palo Alto, Zackerberg kerap berjalan kaki atau mengendarai sepeda. Tak tampak sebagai miliuner (dalam US$ dol lar, tentunya) atau triliuner (dalam rupiah).

Tuesday, September 10, 2019

Kisah Sukses Surya Paloh ( Metro TV )



Surya Paloh , pendiri dan pemilik Media Group (koran Media Indonesia dan Metro TV), 40 tahun, lahir di Tanah Rencong, di daerah yang tak pernah dijajah Belanda. Ia besar di kota Pematang Siantar, Sumut, di daerah yang memunculkan tokoh-tokoh besar semacam TB Simatupang, Adam Malik, Parada Harahap, A.M. Sipahutar, Harun Nasution. Ia menjadi pengusaha di kota Medan, daerah yang membesarkan tokoh PNI dan tokoh bisnis TD Pardede. Aktifitas politiknya yang menyebabkan Surya Paloh pindah ke Jakarta, menjadi anggota MPR dua periode. Justru di kota metropolitan ini, kemudian Surya Paloh terkenal sebagai seorang pengusaha muda Indonesia.

Surya Paloh mengenal dunia bisnis tatkala ia masih Remaja. Sambil Sekolah ia berdagang teh, ikan asin, karung goni, dll. Ia membelinya dari dua orang ‘toke’ sahabat yang sekaligus gurunya dalam dunia usaha, lalu dijual ke beberapa kedai kecil atau ke perkebunan (PTP-PTP). Di Medan, Surya Paloh mendirikan perusahaan karoseri sekaligus menjadi agen penjualan mobil.

Sembari berdagang, Surya Paloh juga menekuni kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan Fakultas Sosial Politik, Universitas Islam Sumater Utara, Medan. Di kota yang terkenal keras dan semrawut ini, keinginan berorganisasi yang sudah berkembang sejak dari kota Pematang Siantar, semakin tumbuh subur dalam dirinya. Situasi pada saat itu, memang mengarahkan mereka aktif dalam organisasi massa yang sama-sama menentang kebijakan salah dari pemerintahan orde lama. Surya Paloh menjadi salah seorang pimpinan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI).

Setelah KAPPI bubar, ia menjadi Koordinator Pemuda dan Pelajar pada Sekber Golkar. Beberapa tahun kemudian, Surya Paloh mendirikan Organisasi Putra-Putri ABRI (PP-ABRI), lalu ia menjadi Pimpinan PT-ABRI Sumut. Bahkan organisasi ini, pada tahun 1978, didirikannya bersama anak ABRI yang lain, di tingkat pusat Jakarta, dikenal dengan nama Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI).

Kesadarannya bahwa dalam kegiatan politik harus ada uang sebagai biaya hidup dan biaya perjuangan, menyebabkan ia harus bekerja keras mencari uang, dengan mendirikan perusahaan atau menjual berbagai jenis jasa. Ia mendirikan perusahaan jasa boga, yang belakangan dikenal sebagai perusahaan catering terbesar di Indonesia. Keberhasilannya sebagai pengusaha jasa boga, menyebabkan ia lebih giat belajar menambah ilmu dan pengalaman, sekaligus meningkatkan aktifitasnya di organisasi.

Menyusuri kesuksesan itu, ia melihat peluang di bidang usaha penerbitan pers. Surya Paloh mendirikan Surat Kabar Harian Prioritas. Koran yang dicetak berwarna ini, laku keras. Akrab dengan pembacanya yang begitu luas sampai ke daerah-daerah. Sayang, surat kabar harian itu tidak berumur panjang, keburu di cabut SIUPP-nya oleh pemerintah. Isinya dianggap kurang sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik Indonesia.

Kendati bidang usaha penerbitan pers mempunyai risiko tinggi, bagi Surya Paloh, bidang itu tetap merupakan lahan bisnis yang menarik. Ia memohon SIUPP baru, namun, setelah dua tahun tak juga keluar. Minatnya di bisnis pers tak bisa dihalangi, ia pun kerjasama dengan Achmad Taufik Menghidupkan kembali Majalah Vista. Pada tahun 1989, Surya Paloh bekerja sama dengan Drs. T. Yously Syah mengelola koran Media Indonesia. Atas persetujuan Yously sebagai pemilik dan Pemrednya, Surya Paloh memboyong Media Indonesia ke Gedung Prioritas. Penyajian dan bentuk logo surat kabar ini dibuat seperti Almarhum Prioritas. Kemajuan koran ini, menyebabkan Surya Paloh makin bersemangat untuk melakukan ekspansi ke berbagai media di daerah. Disamping Media Indonesia dan Vista yang terbit di Jakarta, Surya Paloh bekerjasama menerbitkan sepuluh penerbitan di daerah.


Pada umurnya yang masih muda, 33 tahun, Surya Paloh berani mempercayakan bisnis cateringnya pada manajer yang memang disiapkannya. Pasar catering sudah dikuasainya, dan ia menjadi the best di bisnis itu. Lalu, ia mencari tantangan baru, masuk ke bisnis pers. Padahal, bisnis pers adalah dunia yang tidak diketahuinya sebelum itu. Kewartawanan juga bukan profesinya, tetapi ia berani memasuki dunia ini, memasuki pasar yang kelihatannya sudah jenuh. Ia bersaing dengan Penerbit Gramedia Group yang dipimpin oleh Yakob Utama, wartawan senior. Ia berhadapan dengan Kartini Grup yang sudah puluhan tahun memasuki bisnis penerbitan. Ia tidak segan pada Pos Kota Group yang diotaki Harmoko, mantan Menpen RI. Bahkan, ia tidak takut pada Grafisi Group yang di-back up oleh pengusaha terkenal Ir. Ciputra, bos Jaya Group.

Kendati kondisi pasar pers begitu ramai dengan persaingan. Surya Paloh sedikit pun tak bergeming. Bahkan ia berani mempertaruhkan modal dalam jumlah relatif besar, dengan melakukan terobosan-terobosan baru yang tak biasa dilakukan oleh pengusaha terdahulu. Dengan mencetak berwarna misalnya. Ia berani menghadapi risiko rugi atau bangkrut. Ia sangat kreatif dan inovatif. Dan, ia berhasil.

Surya Paloh menghadirkan koran Proritas di pentas pers nasional dengan beberapa keunggulan. Pertama, halaman pertama dan halaman terakhir di cetak berwarna. Kedua, pengungkapan informasi kelihatan menarik dan berani. Ketika, foto yang disajikan dikerjakan dengan serius. Faktor-faktor itulah yang menyebabkan koran ini dalam waktu singkat, berhasil mencapai sirkulasi lebih 100 ribu eksemplar. Tidak sampai setahun, break event point-nya sudah tercapai.

Ancaman yang selalu menghantui Prioritas justru bukan karena kebangkrutan, tetapi pencabutan SIUPP oleh pemerintah. Terbukti kemudian, ancaman itu datang juga. Koran Prioritasnya mati dalam usia yang terlalu muda. Pemberitaannya dianggap kasar dan telanjang. Inilah risiko terberat yang pernah dialami Surya Paloh. Ia tidak hanya kehilangan sumber uang, tetapi ia juga harus memikirkan pembayaran utang investasi.

Dalam suasana yang sangat sulit itu, ia tidak putus asa. Ia berusaha membayar gaji semua karyawan Prioritas, sambil menyusun permohonan SIUPP baru dari pemerintah. Namun permohonan itu tidak dikabulkan pemerintah. Beberapa wartawan yang masih sabar, tidak mau pindah ke tempat lain, dikirim Surya Paloh ke berbagai lembaga manajemen untuk belajar.

Pers memang memiliki kekuatan, di negara barat, ia dikenal sebagai lembaga keempat setelah legislatif, yudikatif dan eksekutif. Apalagi kebesaran tokoh-tokoh dari berbagai disiplin ilmu atau tokoh-tokoh dalam masyarakat, sering karena peranan pers yang mempublikasikan mereka. Bagaimana seorang tokoh diakui oleh kalangan masyarakat secara luas, kalau ia di boikot oleh pers. Dengan demikian, bisnis pers memang prestisius, memberi kebanggaan, memberi kekuatan dan kekuasaan. Dan, itulah bisnis Surya Paloh.


Sunday, September 1, 2019

Kisah Sukses Krisna Bali ( Pusat Oleh - Oleh Bali )


Ketika saya membuat artikel mengenai  "Pusat Oleh-Oleh Bali on Review" tanpa sengaja saya malah menemukan cerita dibalik kesuksesan Krisna Oleh-Oleh Bali.

Berdirinya Krisna Oleh Oleh Khas Bali

Bertahan Hidup
Pukul 12 malam, saat satpam hotel sudah pulang, ada sebuah mobil minibus station yang parkir di halaman hotel. Dengan inisiatifnya sendiri, Anom kemudian mencuci mobil itu. Berbekal kain lap bersih, ember, dan air bersih dari keran, mobil itu ia cuci sampai bersih. Kelar mencuci mobil pukul 2 dinihari, Anom kemudian tertidur di pos satpam hotel hingga jam 6 pagi. Bangun tidur, Anom langsung menyapu membersihkan halaman parkir hotel. “Sekitar pukul 7 pagi, pemilik mobil yang saya cuci pukul 2 dinihari tadi keluar hotel menuju mobilnya. Ternyata dia owner atau pemilik Hotel Rani yang saya tidak tahu nama Hotel tempat Anom menjadi tukang cuci mobil 34 Gusti Ngurah Anom nya. Dia bertanya apa saya mau kerja di hotel miliknya?

Saya jawab saya mau bantu-bantu saja. Saya juga minta ijin untuk numpang di pos satpam dan minta diberi makan dan minum. Selama 2 tahun berikutnya saya diijinkan menumpang tidur di pos satpam hotel Rani.” Hari kedua tinggal di pos satpam Hotel Rani, Anom mencuci 3 buah mobil, 1 milik pemilik hotel, 2 buah mobil lagi milik tamu hotel yang menginap di sana. Pekerjaan mencuci mobil ini dilakukannya mulai pukul 12 malam sampai pukul 3 pagi. Pukul 3 pagi hingga 6 pagi ia istirahat tidur di pos satpam hotel. “Sekitar pukul 8 pagi, pemilik mobil yang saya cuci semalam keluar hotel. Kepada pemilik mobil saya bilang bahwa saya yang mencuci mobilnya semalam. Saya kemudian mendapat upah sebesar Rp 2000, jumlah yang lumayan di masa itu. Waktu itu harga sepotong kue Rp 25, secangkir kopi Rp 25, dan sebungkus nasi Rp 50. Uang Rp 100 atau Rp 200 saja sudah cukup, apalagi Rp 2000.”
Dengan menjadi tukang cuci mobil saat itu, Gusti Ngurah Anom merasa sudah seperti bos. Menjadi tukang cuci mobil waktu itu, penghasilannya per hari antara Rp 2000 hingga Rp 5000. Mobil yang ia cuci tidak hanya mobil tamu yang menginap di Hotel Rani tempatnya menumpang tinggal di pos satpam, tapi juga di 4 hotel lain sekitar Hotel Rani Sanur. Dengan penghasilan dari mencuci mobil tamu hotel, Anom mulai bisa menabung dan mulai bisa membeli baju. Dengan uang tabungan hasil mencuci mobil tamu hotel, Anom Raja Oleh-Oleh Khas Bali 35 juga bisa membeli sepeda lagi. Sepeda yang ia beli merk Phoenix seharga Rp 45.000. Dengan sepeda ini ia keliling dari satu hotel ke hotel lainnya mencari mobil tamu hotel yang mau dicuci. “Saya berkeliling hingga ke hotel-hotel yang ada di Jalan Danau Tamblingan dan jalan By Pass Ngurah Rai.

Ada sekitar 15 hotel di wilayah itu yang menjadi langganan saya. Setiap malam saya mencuci mobil di 3 hotel berbeda. Mobil yang sudah selesai saya cuci wipernya saya angkat sebagai kode sudah bersih dicuci,” ujar Anom mengenang masa-masa penuh perjuangan menjadi seorang tukang cuci mobil. Selain Anom, profesi mencuci mobil tamu hotel waktu itu juga dilakukan beberapa orang lainnya. Di sini sering terjadi persaingan antar sesama tukang cuci mobil. Persaingan tidak sehat juga kerap terjadi diantara mereka. Upah hasil cuci mobil tamu hotel yang dikerjakan Anom sering diambil oleh orang lain. Meski demikian, rejeki yang didapat Anom dari mencuci mobil tamu hotel selalu ada. “Saya juga sering diajak beberapa rekan sesama tukang cuci mobil untuk bekerja sama mencuci mobil para tamu hotel yang menginap di kawasan Sanur dan sekitarnya.”

Setelah 2 tahun bekerja sebagai tukang cuci mobil, Gusti Ngurah Anom bisa membeli sebuah sepeda motor bekas jenis bebek Honda 70 warna merah seharga dengan harga Rp 150.000. Motor ini kemudian diperbaiki lagi di sebuah bengkel di Pedungan dengan biaya perbaikan Rp 250.000. 2 tahun bekerja sebagai tukang cuci mobil, penyakit 36 Gusti Ngurah Anom rematik mulai menyerang tubuhnya yang kurus. Tangan dan kaki Anom mulai sering sakit karena sering kedinginan terkena air sewaktu mencuci mobil tamu hotel. “Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan sebagai tukang cuci mobil.”


Mengenal Konveksi
Setelah memutuskan berhenti bekerja sebagai tukang cuci mobil, Anom pergi meninggalkan ‘rumah’ yang ditempatinya selama 2 tahun. Setelah memutuskan untuk berhenti sebagai tukang cuci mobil, Anom mulai memutar otak, bagaimana agar bisa mendapat pekerjaan baru, tempat tinggal baru, dan tentu saja agar bisa tetap makan. Anom kemudian mendatangi usaha Konfeksi Sidharta yang ada di Jalan Waturenggong. Di tempat itu ia langsung bertemu pemiliknya Pak Sidharta. “Kepada beliau saya langsung bilang sedang mencari kerja.” Gusti Ngurah Anom diawal berdirinya Cok Konfeksi Gusti Ngurah Anom Pak Sidharta langsung menerima Anom untuk bekerja di perusahaan Konfeksi miliknya. “Saya langsung bekerja serabutan, bantu-bantu di usaha Konfeksi milik Pak Sidharta. Saya bekerja mulai pukul 8 pagi hingga pukul 5 Sore.” Saat itu usaha Konfeksi Sidharta memiliki 15 orang karyawan, semuanya tinggal di luar Konfeksi. Para karyawan tidak ada yang mau tinggal di tempat usaha.

Akhirnya Anom diminta tinggal di tempat usaha Konfeksi Sidharta merangkap sebagai waker atau penjaga tempat usaha. “Karena tinggal di dalam, akhirnya saya sering mendapat tugas tambahan membeli makanan untuk keluarga Pak Sidharta seperti membeli capcay dan lain sebagainya,” ujar Anom. “Saya mau tinggal di tempat usaha milik Pak Sidharta bukan karena saya mau cari muka atau disayang Pak Sidharta. Tapi itu merupakan salah satu bentuk usaha saya agar bisa mendapat tempat tinggal dan makan sekaligus. Ini merupakan strategi saya untuk tetap bisa bertahan hidup di Kota Denpasar,” imbuhnya. Selama 6 bulan bekerja di Sidharta Konfeksi, Anom mulai belajar memotong kain, menjahit, hingga menyablon. Semua itu dilakukan di atas jam 5 sore saat semua pegawai sudah pulang ke rumah. Saat tinggal di Konfeksi Sidharta, Anom tidak memiliki kamar khusus. Ia sering tidur di rak-rak tempat menyimpan kain, atau tidur di meja potong. “Untuk urusan tidur, saya termasuk gampang, bisa dimana saja.” Raja Oleh-Oleh Khas Bali

Setelah 6 bulan akhirnya Anom sudah bisa memotong kain, menjahit, hingga sablon. 1 tahun bekerja di Sidharta Konfeksi, Gusti Ngurah Anom sudah naik ‘pangkat’ jadi senior. Sementara pegawai lain yang tadinya senior, ada yang turun ‘pangkat’ jadi yunior. Dengan posisi senior, Anom mendapat kepercayaan untuk mengurus gaji pegawai, membeli kain, dan tentu saja mendapat transfer ilmu dari Pak Sidharta mengenai usaha Konfeksi. Seiring perjalanan waktu, usaha Konfeksi Sidharta berkembang pesat. Setelah bekerja setahun, Anom semakin dipercaya Pak Sidharta. 70 persen usaha Konfeksi dipercayakan pengaturannya kepada Anom. Setelah bekerja 1 tahun lebih, Anom bisa dikatakan sudah menjadi tangan kanan Pak Sidharta. “Oleh sesama teman pegawai, waktu itu saya sempat dituding cari muka, dituduh sebagai detektif untuk menyelidiki perilaku karyawan. Menghadapi tudingan itu, saya pasrah saja. Prinsip saya waktu itu cuma satu, yakni berusaha agar perusahaan maju dan membuat bos menjadi senang.” Saat bekerja di usaha Konfeksi Sidharta, Anom tahu Pak Sidharta punya satu mesin canggih yang tidak dipakai. Mesin jenis ‘over deck’ atau mesin obras benang tiga itu sering mangkrak di Konfeksi. Pak Sidharta dan karyawan konfeksi enggan menggunakan mesin itu karena susah dalam pemakaiannya. Seijin Pak Sidharta, akhirnya mesin itu digunakan Anom untuk memulai usaha konfeksi sendiri.


Usaha Konfeksi yang dirintis Gusti Ngurah Anom di sebuah gudang Jalan Tukad Irawadi berkembang pesat. Tahun 1990 Anom dan istri memberanikan diri untuk membuka usaha Konfeksi sendiri yang diberi nama COK KONFEKSI. Ia menyewa sebuah tempat ukuran 6 X 7 meter yang terletak di depan Art Centre Denpasar dengan harga sewa Rp 1.250.000 per tahun. Cok Konfeksi di Jl. Nusa Indah, Denpasar 44 Gusti Ngurah Anom “Awal membuka usaha Cok Konfeksi, saya belum mendapat ijin dari Pak Sidharta. Bahkan saya sempat dimarahi, belum dipercaya bisa usaha sendiri. Meski sudah punya usaha Konfeksi sendiri, saya masih diminta untuk membantu usaha Konfeksi Pak Sidharta hingga tahun 1994. Usaha Cok Konfeksi ini awalnya merupakan usaha patungan antara saya dengan Pak Sidharta,” jelas Anom.

Tahun 1994 Anom mengontrak tanah seluas 1 are di Jalan Pakis Aji Denpasar. Di atas tanah ini ia mendirikan bangunan untuk tempat jahit sekaligus tempat tinggal bersama keluarganya. “Waktu itu saya sudah betul-betul ingin mandiri, namun keinginan saya itu selalu ditolak Pak Sidharta dan istrinya. Alasannya saya sudah diandalkan untuk membantu menggerakkan roda usaha mereka, Konfeksi Sidharta.” Suasana garment Cok Konfeksi Raja Oleh-Oleh Khas Bali Setelah menjalin kerjasama dengan Pak Sidharta selama 4 tahun (1990-1994), tahun 1994 akhirnya Pak Sidharta setuju Anom berdiri sendiri, lepas dari usaha Konfeksi miliknya. Syaratnya, semua aset usaha Cok Konfeksi senilai Rp 60 juta dibagi dua. “Syarat itu saya setujui. Bagian Pak Sidharta senilai Rp 30 juta saya pinjam sebagai tambahan modal usaha dan baru saya lunasi pada tahun 2000.”

Perlu perjuangan dan kerja keras untuk membesarkan usaha Konfeksi yang baru dirintis Anom. Butuh waktu 6 tahun disertai usaha yang ekstra keras untuk membangun Cok Konfeksi menjadi sebuah usaha yang sehat dan menguntungkan. Tahun 2000 akhirnya Anom bisa membeli rumah se- Gusti Ngurah Anom dan Karyawan di Cok Konfeksi 46 Gusti Ngurah Anom luas 5 are senilai Rp 350 juta di Jalan SMA 3 Denpasar. Dana untuk membeli rumah ini dari hasil pinjam di Bank Dagang Bali dan pinjam dari Pak Sidharta. Untuk pengembangan bisnis, tahun 2001 Anom berhasil membeli lahan seluas 6,5 are senilai Rp 1,2 milyar di Jalan Nusa Indah. Lahan ini digunakan sebagai toko sekaligus sebagai tempat tinggal bersama keluarga. Seiring perjalanan waktu, usaha Cok Konfeksi yang dirintis Anom semakin berkembang pesat menjadi usaha Konfeksi terkenal di Bali.



Usaha Cok Konfeksi yang dirintis Anom sejak tahun 1990 bisa dikatakan sudah sukses. Namun ia tidak puas sampai di sana. Gusti Ngurah Anom (tengah) bersama Putra Sulung, Gusti Ngurah Berlin Bramantra (kiri) dan Putra Ketiga, Gusti Ngurah Anom Krisna Gusti Ngurah Anom “Berdasarkan pengalaman mengelola usaha Konfeksi sejak masih di Konfeksi Sidharta hingga Cok Konfeksi, saya jadi paham, bahwa level penjualan produk konfeksi segitu- segitu saja. Untungnya juga segitu-segitu aja. Saya kemudian berpikir untuk melakukan pengembangan jenis usaha,” ujar Anom. Tahun 2007, Anom dan istri ingin mengembangkan usaha selain usaha Konfeksi. Waktu itu ia dan istri berkeinginan untuk membuka usaha butik. Sebelum mewujudkan usaha butik, Anom mengkursuskan istrinya ke sekolah desain dan mode Susan Budiarjo. 3 Bulan kursus di sana, istrinya menjadi murid terbaik. Ini karena istrinya Ketut Mastrining sudah memiliki latar belakang bisa menjahit.
Meski sudah mengirim istrinya kursus mode di Susan Budiarjo, keinginan untuk mendirikan usaha butik ini akhirnya dibatalkan dengan beberapa pertimbangan tertentu. Batal mendirikan usaha butik, Anom terus memutar otak. Di sela waktu luang, Anom dan istrinya kemudian Krisna Oleh-Oleh Khas Bali di daerah Tuban, Kuta Raja Oleh-Oleh Khas Bali berkeliling di sekitar Denpasar dan Gianyar untuk mencari ide bisnis baru. Ditemani istrinya, Anom melakukan survey ke Pasar Seni Sukawati Gianyar. “Setelah melakukan survey selama 1 bulan lebih, akhirnya kami tahu bahwa jenis oleh-oleh yang paling laku adalah baju kaos. Waktu itu saya berpikir, kenapa tidak saya saja yang membuka usaha oleh-oleh khas Bali. Saya yakin bisa bersaing, apalagi saya punya usaha Konfeksi yang juga memproduksi kaos oblong,” ujar Anom. Setelah melakukan berbagai persiapan, pada 16 Mei 2007 pusat oleh-oleh Krisna I yang berlokasi di Jalan Nusa Indah Denpasar akhirnya diresmikan.

Sukses yang dicapai Gusti Ngurah Anom tidak datang begitu saja jatuh dari langit. Untuk mencapai sukses seperti saat ini, butuh pengorbanan dan kerja keras. Setiap harinya, Anom mengaku hanya tidur 3 hingga 4 jam. “Pukul 06.30 pagi saya sudah mengantar anak ke sekolah. Pukul 08.00 pagi saya sudah mulai kerja, turun langsung mengontrol seluruh usaha saya mulai Konfeksi hingga pusat oleh-oleh yang saya miliki. Setiap harinya saya bekerja mulai pukul 8 pagi hingga 12 malam. Saya tidak pernah tidur siang. Saya tidak pernah libur, kecuali sakit. Saya juga memilih untuk tidak punya kantor.” Untuk bisa meraih sukses, Gusti Ngurah Anom juga selalu menanamkan beberapa hal penting kepada keluarga dan para karyawannya yakni selalu menjaga kejujuran, kerja keras untuk mencapai hasil maksimal.
Jika sudah bekerja keras, pasti akan menerima hasil maksimal. Jangan belum bekerja sudah tanya berapa gaji atau hasil yang didapat.” Anom juga menekankan pentingnya sikap untuk selalu bisa menjaga emosi dan berpikir positif. Selain itu, ia juga mengutamakan sikap kekeluargaan di dalam mengelola perusahaan. Gusti Ngurah Anom “Saya tidak perlu dihormati, saya tidak mau dipanggil Pak Cok, cukup panggil Ajik, biar lebih akrab. Saya juga selalu berpesan kepada keluarga dan para karyawan saya : Cintailah Pekerjaanmu.”



Saturday, August 31, 2019

Kisah Sukses Susi Pudjiastuti ( Menteri Kelautan dan Perikanan )



Susi Pudjiastuti barangkali dapat menjadi sosok yang paling tepat untuk membuktikan bahwa siapa saja bisa meraih cita-citanya. Meski hanya berijazah SMP, Susi merupakan Menteri Kelautan dan Perikanan serta sempat sukses memimpin perusahaan yang dimilikinya. Kinibisa akan menceritakan kisah Susi Pudjiastuti sebagai sosok yang inspiratif bagi #GenerasiKompeten.

Masa Kecil Susi

Susi Pudjiastuti lahir di Pangandaran pada 15 Januari 1965. Ia lahir dari pasangan Haji Ahmad Karlan dan Suwuh Lasminah, pasangan asal Jawa Tengah yang telah tinggal lama di Pangandaran. Anak sulung dari tiga bersaudara ini dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan. Orangtuanya merupkakan saudagar ternak yang memperjual-belikan hewan ternak dari Jawa Tengah ke Jawa Barat.

Meski dilahirkan dari keluarga yang berada, masa kecil Susi dihabiskan selayaknya anak-anak kampung seusianya. Begitu pula dengan urusan pendidikan, Susi dikirim orangtuanya untuk bersekolah di sekolah negeri yang kondisi bangunannya masih amat sederhana. Seperti lirik lagu ‘Rumah Kita’ ruang kelas Susi hanya berbilik bambu dan beralaskan tanah. Di Pangandaran, Susi mengenyam pendidikan mulai dari SD hingga SMP.

Ketika memasuki usia SMA, Susi meninggalkan kota kelahirannya dan pindah ke kota pendidikan, Yogyayakarta. Ia pindah ke sana demi meneruskan pendidikannya di SMA Negeri 1 Yogyakarta. Sayangnya, ia terpaksa berhenti sekolah saat duduk di kelas dua SMA. Meski begitu, berhentinya Susi ini bukan karena ia malas belajar, perempuan berambut ikal ini justru amat senang belajar dan membaca buku-buku teks berbahasa Inggris.

Ada dua cerita yang menjelaskan alasan berhentinya Susi dari dunia sekolah. Alasan pertama, ia dikeluarkan dari sekolah karena aktif dalam gerakan golput. Pada masa Orde Baru, gerakan golput memang merupakan hal yang terlarang. Sementara, alasan lainnya adalah karena Susi diminta kembali ke Pangandaran setelah terbaring sakit di kamar indekosnya akibat tergelincir di tangga dan kepalanya membentur tembok di sekolahnya.

Setelah kembali ke Pangandaran, Susi pun memutuskan untuk berwirausaha. Di sini lah jiwa pengusaha Susi mulai terbentuk, suatu hal yang nantinya akan sangat berpengaruh bagi karier Susi. Bahkan, apabila Susi melanjutkan sekolahnya dan berkuliah di salah satu perguruan tinggi ternama, belum tentu Susi meraih kesuksesan yang ia rasakan saat ini.


Susi si Pengepul Ikan

Petualangan Susi sebagai pengusaha dimulai ketika ia berusia 17 tahun.  Melihat potensi alam Pangandaran yang sedang menggeliat sebagai salah satu tujuan wisata, ia berjualan bed cover dan menjajakannya kepada hotel-hotel yang baru berdiri di Pangandaran. Awalnya, Susi mengaku kesulitan meyakinkan para pemilik hotel untuk membeli barang dagangannya, tapi Susi tidak patah semangat dan terus berusaha.

Padahal, dengan latar belakang keluarganya yang berkecukupan, Susi tidak perlu susah-susah berdagang karena kebutuhannya pasti bisa ditanggung oleh kedua orangtuanya. Namun, Susi berpendapat ia tidak bisa terus-menerus menggantungkan kehidupannya pada kedua orang tua. “Hewan saja mengajarkan pada kita, bahwa setelah dewasa ia tak lagi menyusu, dan mencari makannya sendiri. Apalagi kita, manusia, yang diberi akal,” kata Susi dikutip dari Tokoh Indonesia

Seiring waktu berjalan, Susi berhenti menjual bedcover ke pemilik hotel karena mencium peluang bisnis yang lebih menguntungkan. Ia menilai Pangandaran merupakan tempat pendaratan ikan yang potensial  di pesisir selatan Pulau Jawa. Setiap hari, ada ratusan nelayan di Pangandaran yang menyandarkan kapal-kapalnya sambil membawa banyak hasil tangkapan. Oleh sebab itu, Susi pun beralih profesi menjadi pengepul ikan. Padahal, ia sempat bercita-cita menjadi seorang ahli oseanografi.

Dengan modal Rp 750 ribu yang didapatnya dari berjualan aksesoris miliknya, Susi memulai profesi barunya. Pada awalnya, ia sempat kesulitan menekuni pekerjaan sebagai pengepul ikan. Untuk beberapa waktu, hasil kerjanya masih jauh di bawah target hingga sempat diingkari oleh pembelinya. Namun, bagi Susi hal itu hanyalah dinamika kerja yang pasti dialami oleh setiap orang yang bekerja.

Berkat kerja keras dan mentalnya yang tidak mudah loyo, Susi hanya membutuhkan waktu satu tahun untuk menguasai pasar Pangandaran. Ia pun memperluas ekspansinya ke Pasar Cilacap, tiga jam perjalanan darat dari Pangandaran. Meski begitu, Susi tidak cepat puas, ia membeli perahu bermodalkan menggunakan uang hasil kerja kerasnya sebagai pengepul ikan. Perahu itu nantinya dapat disewakan kepada para nelayan. Lambat laun, perahu milik Susi pun berkembang hingga jumlahnya mencapai ratusan.

Setelah sukses di Pangandaran dan Cilacap, Susi berniat melebarkan sayap usahanya ke kota-kota lainnya. Bukan main-main, kota berikutnya yang menjadi sasaran adalah Jakarta, kota yang relatif cukup jauh dari pesisir selatan Jawa. Untuk itu, Susi pun memutar otak agar ikan hasil tangkapan dapat sampai di Jakarta dalam kondisi yang masih segar. Hasilnya, ia pun sering bolak-balik Jakarta-Pangandaran menggunakan mobil sewaan hingga truk dengan sistem pendingin es batu yang dibelinya sendiri.

Usaha ikan yang dimiliki Susi semakin besar hingga Susi dipercaya oleh beberapa pabrik untuk menjadi pemasok ikan segar yang hendak di ekspor. Beberapa negara tujuan ekspor itu antara lain Singapura dan Hong Kong. Selain menjadi pengepul ikan, pada saat itu Susi juga berjualan kodok yang dapat diekspor pula. Sepanjang perjalanan Pangandaran-Jakarta, Susi pun biasa menyambangi pengepul kodok yang ada di Cikampek dan Karawang untuk dijual di Jakarta.

Kejelian Susi dalam menangkap peluang bisnis semakin terbukti ketika pada 1996 ia mendirikan pabrik pengolahan ikan dengan label Susi brand di bawah naungan PT ASI Pudjiastuti Marine Product. Pabrik tersebut ia dirikan layaknya mall yang penuh dengan keramik dan kaca. Meski menghabiskan uang banyak, hal ini ia lakukan demi kenyamanan para karyawannya.

Sebagai pengusaha sukses, Susi memang amat memperhatikan para karyawannya. Tak cuma itu, ia juga tercatat sebagai pengusaha yang tidak serakah dan tidak menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan. Misalnya, ia melarang anak buahnya menangkap ikan melalui cara yang merusak lingkungan seperti membongkar karang atau menggunakan pestisida. Ia juga tidak menerima lobster yang sedang bertelur demi menjaga populasi dan kualitas ikan-ikan yang akan dijualnya.

Dalam menjalankan usahanya, Susi menerapkan filosofi Palugada ‘apa lu mau, gua ada’. Sebisa mungkin ia akan memenuhi kebutuhan setiap konsumennya selama memiliki kualitas yang baik. "Cari dan siapkan barang yang bagus, maka pembeli akan senang. Keuntungannya, harga jual bisa lebih bagus!" katanya dilansir dari Tokoh Indonesia.[4]

Kerja keras Susi pun membuahkan hasil, ia berhasil menjual produk seafood beku hingga menembus pasar Jepang. Menembung pasar Jepang adalah prestasi yang luar biasa mengingat negara tersebut menerapkan aturan yang ketat agar sebuah produk dapat masuk ke negaranya. Oleh karena itu, kegiatan di pabrik milik Susi selalu dijalankan dengan standar internasional serta tidak menggunakan bahan pengawet kimia.


Susi Air

Setelah bisnis ikannya merambah hingga ke Asia dan Amerika, Susi pun bermimpi untuk memiliki pesawat terbang. Pesawat ini rencananya digunakan untuk mengangkut ikan dan lobster dari berbagai pasar ikan di seluruh Indonesia menuju Jakarta. Sebagai pengusaha ikan, Susi sadar bahwa kesegaran hasil laut dapat mempengaruhi nilai jualnya. Oleh karena itu, Susi amat membutuhkan pesawat demi menjaga kesegaran hasil laut dengan tempuh yang lebih singkat.

Pada 2004, Susi untuk pertama kalinya membeli pesawat  Cessna Caravan dengan kredit dari Bank Mandiri. Sebelumya, Susi telah ditolak berbagai bank ketika ia mengajukan proposal kredit. Ia menamakan armada yang dimilikinya sebagai Susi Air yang ada di bawah naungan PT ASI Pudjiastuti Aviation.

Ketika gelombang tsunami menerjang Aceh pada Desember 2004, Susi menerjunkan armada pesawatnya untuk mendistribusikan bantuan kepada korban yang berada di daerah terisolasi. Pada saat inilah, scenario bisnisnya mulai berubah katena setelah tsunami omset bisnis perikannya terus melorot.  Di sisi lain, ia melihat warga di Aceh sangat membutuhkan alat transportasi pesawat. Akhirnya, pesawat yang biasanya mengangkut hasil laut pun disewakan kepada masyarakat yang ingin menumpang.

Akibat hal tersebut, armada Susi Air pun mulai beralih menjadi pesawat penumpang ketimbang pengangkut hasil laut. Pada 2006, Susi Air membuka cabang pertamanya di Jayapura. Tahun demi tahun, jumlah pesawat milik Susi Air semakin bertambah. Dalam kurun waktu Oktober-Desember 2007, Susi Air membeli enam pesawat tambahan.

Pada Juni 2009, Susi Air mengumumkan bahwa mereka telah memesan 30 pesawat Grand Caravan di Paris Air Show. Bulan berikutnya, Piaggio Avanti pertama Susi Air mulai digunakan. Sejak itu, Susi Air terus mengepakkan sayapnya dengan membuka kantor cabang di berbagai daerah di Tanah Air. Maskapai ini melayani rute-rute yang menghubungkan kota kecil seperti Medan-Blang Pidie di Sumatera dan Banjarmasin-Muara Taweh di Kalimantan. Setelah sukses dengan maskapai penerbangan, Susi pun mendirikan sekolah penerbangan Susi Flying School dan bertindak sebagai direktur utama.


Menteri yang Nyentrik

Sepak terjang Susi sebagai pengepul ikan dan pemilik maskapai penerbangan Susi Air nampaknya terdengar hingga telinga Presiden Joko Widodo yang terpilih pada Pemilu Presiden 2014. Pada Oktober 2014, mantan Walikota Solo itu menunjuk Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Menurut Jokowi, panggilan akrab Joko Widodo, Susi dipilih lantaran kegigihannya dalam bekerja. “Saya membaca di sebuah artikel, belai memulai usaha dari menjual ikan dan saya meyakini beliau akan banyak melakukan terobosan di bidang kelautan dan perikanan,” kata Jokowi.[5]

Terpilihnya Susi sebagai menteri disambut beragam oleh masyarakat. Sebab, sikap dan gaya Susi tidak mencerminkan sosok menteri seperti yang sudah-sudah. Misalnya, Susi hanya memiliki ijazah SMP sementara menteri-mentri lainnya pasti memiliki ijazah perguruan tinggi baik dalam maupun luar negeri. Selain itu, kebiasaan merokok Susi juga dikomentari oleh berbagai pihak karena hal itu dianggap bukan contoh yang baik.

Meski begitu, terpilihnya Susi juga didukung oleh masyarakat. Mereka menilai, terpilihnya Susi sebagai menteri justru melambangkan bahwa siapa pun bisa menjadi menteri selama mempunyai kompentensi terlepas dari status pendidikan, gaya dan kepribadiannya. Sebagai menteri, Susi telah membuat beberapa kebijakan dan terobosan baru seperti peledakkan kapal pencuri ikan dan gerakan makan ikan. Hingga saat ini, kebijakan-kebijakan itu direspon baik oleh masyarakat.

Selain memiliki kebijakan dan terobosan yang disukai masyarakat, gaya dan kepribadian Susi juga disukai oleh masyarakat. Misalnya, gambar ketika ia menikmati segelas kopi dan merokok di tengah laut yang tersebar di dunia maya disambut positif oleh masyarakat. Selain itu, Susi juga suka mengeluarkan statement yang cukup unik seperti ketika ia mengatakan tidak mau merokok karena takut dimarahi oleh Menteri Kesehatan

Berbagai kebijakan dan kepribadian Susi yang disukai masyarakat berpengaruh pada tingkat kepuasan masyarakat atas kinerja menteri bersuami kewarganegaraan Jerman itu. Menurut survey Indo Barometer pada Maret 2017, tingkat kepuasan masyarakat kepada Susi merupakan yang tertinggi dibandingkan menteri-menteri lainnya, yaitu dengan angka 26,3 persen

Tak hanya di Indonesia, cerita mengenai sepak terjang Susi juga telah tersiar hingga ke luar negeri. Leonardo Di Caprio, seorang aktor terkenal, bahkan memuji Susi secara terbuka dalam acara World Oceans Day 2017 yang diselenggarakan di kantor PBB, New York. Beberapa waktu lalu, sekitar 10 ribu kapal secara ilegal masuk ke Indonesia dan mengambil ikan di perairan Indonesia. Ini membuat nelayan lokal terkena dampak buruknya," kata Leonardo dikutip dari CNN Indonesia


“Namun Menteri Perikanan Susi melakukan usaha memberantas kegiatan ilegal itu, dan menjadi pemimpin ke era pengelolaan perikanan yang transparan," kata Leonardo melanjutkan. Ia bahkan menyebut Susi sebagai pemimpin yang berani dan inovatif serta dibutuhkan seluruh dunia. Selain itu, hingga saat ini Susi juga telah diganjar berbagai penghargaan atas perjuangannya sebagai pengepul ikan, pemilik Susi Air, dan Menteri Kelautan dan Perikanan, antara lain:[8]

  • Pelopor Wisata dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat tahun 2004
  • Young Entrepreneur of the Year dari Ernst and Young Indonesia tahun 2005
  • Primaniyarta Award for Best Small & Medium Enterprise Exporter 2005 dari Presiden Republik Indonesia. Tahun 2006
  • Metro TV Award for Economics-2006,
  • Inspiring Woman 2005 dan Eagle Award 2006 dari Metro TV, Indonesia
  • Sofyan Ilyas Award dari Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2009
  • Ganesha Widyajasa Aditama Award dari ITB, 2011
  • Award for Innovative Achievements, Extraordinary Leadership and Significant Contributions to the Economy, APEC, 2011
  • Tokoh Wanita Inspiratif Penggerak Pembangunan, dari Gubernur Jawa Barat, 2008
  • Kanjeng Ratu Ayu (KRAY) Susi Pudjiastutiningrat, dari Keraton Surakarta Hadiningrat, 2015
  • Leaders for a Living Planet Award dari WWF, 16 September 2016, sebagai penghargaan atas perannya dalam memajukan pembangunan sektor perikanan yang berkelanjutan, pelestarian alam laut, dan pemberantasan pencurian ikan.
  • Doktor Honoris Causa oleh Universitas Diponegoro pada 3 Desember 2016.
  • Seafood Champion Award dalam acara Seaweb Seafood Summit yang diselenggarakan di Seattle, Washington, Amerika Serikat 5 Juni 2017.

Friday, August 30, 2019

Kisah Sukses Ferry Unardi ( Traveloka )


Teknologi membuat semua menjadi lebih mudah, termasuk dalam dunia perpelancongan. Mulai dari reservasi tiket pesawat, tiket kereta, hotel bahkan tiket masuk ke wahana semua bisa dilakukan dengan cepat dan praktis dengan bantuan teknologi internet. Mengakomodir kebutuhan milenial di bidang digital travel, muncullah berbagai startup travel. Salah satunya Traveloka, startup travel yang bisa dibilang menguasai pasar Indonesia saat ini.

Besarnya nama Traveloka tak lepas dari profil Ferry Unardi sang CEO sekaligus Co Founder dari Traveloka. Sosoknya yang memang lebih banyak di balik layar mungkin kalah tersohor dibanding nama Traveloka itu sendiri. Namun cerita inspiratifnya dalam membangun Traveloka tak kalah menarik untuk diceritakan.

Mengenal lebih dekat profil Ferry Unardi dan inspirasinya memulai startup travel

Profil Singkat 
Nama: Ferry Unardi
Lahir: Padang, Sumatera Barat, Indonesia, 16 Januari 1988
Pendidikan: Science and Engineering, Purdue University, Amerika Serikat (2004-2008)
Master of Business Administration, Harvard Business School, Amerika Serikat (2011-2012)
Karier: Software Engineer di Microsoft, Seattle, Amerika Serikat (2008-2011)
CEO dan Co-Founder Traveloka.com (2012-Sekarang)

Sebelum membahas lebih jauh tentang awal mula Traveloka didirikan, rasanya penting untuk tahu sekilas biografi Ferry Unardi sang penggagas dan pendiri startup travel ini. Ferry Unardi lahir di Padang pada 16 Januari 1988. Setelah lulus dari pendidikan sekolah menengah atas, Ferry memutuskan untuk kuliah di Purdue University jurusan Computer Science dan Engineering.

Jika melihat rekam jejak pendidikannya, Ferry boleh dibilang minim dalam ilmu bisnis. Dalam sebuah kesempatan di acara Startup Asia Jakarta 2014, Ferry mengungkapkan sedikit hal tentang latar belakangnya.

¨Saya tidak melihat diri saya sebagai seorang entrepreneur, tetapi lebih sebagai seorang engineer. Sebagai seorang yang menyukai IT ketika remaja, mengambil jurusan matematika ketika kuliah, dan sempat bekerja di Microsoft, bahkan ide mendirikan starup itu tidak pernah ada dalam benak¨ ungkap Ferry Unardi. 

Sejak lulus S1 Ferry diketahui bekerja di Microsoft, Seattle sebagai seorang software engineer. Tiga tahun berkecimpung di dunia engineering membuatnya berpikir bahwa dirinya tak akan bisa menjadi yang ¨engineer terbaik¨. Kegelisahannya ini pada akhirnya membawanya pada sebuah perjalanan ke China. Di sinilah Ferry mendapatkan pencerahan tentang bisnis travel yang sepertinya menarik.

Hal lain yang menuntunnya pada keputusan untuk membangun Traveloka adalah sulitnya sistem booking pesawat. Saat bekerja di Microsoft Ferry kerap pulang ke kampung halamannya di Padang. Namun ia justru merasa kesulitan saat ingin membeli atau mem-booking tiket pesawat untuk pulang kampung tersebut. Ferry juga merasa kesulitan untuk memprediksikan rute pesawat yang akan dipilihnya. Dari sanalah seorang Ferry yang saat itu berusia 23 tahun memutuskan untuk keluar dari dunia karirnya. Bagi Ferry, inilah masa yang paling stress dalam hidupnya.



Mundur selangkah untuk bisa melahirkan Traveloka, Ferry Unardi korbankan banyak hal

Merasa tak memiliki kapasitas dalam dunia bisnis dan tak paham bagaimana mengelola perusahaan, Ferry Unardi harus mengambil satu langkah ke belakang sebelum akhirnya membangun Traveloka. Ia memutuskan untuk kuliah di Harvard University untuk memperoleh gelar MBA dalam bidang bisnis.

Jalan satu semester ternyata rencananya harus diubah. Ferry Unardi memilih untuk keluar dari kampusnya dan mulai mengembangkan sebuah mesin pencari tiket pesawat dengan teknologi yang lebih modern, fleksibel dan praktis. Ferry menceritakan bahwa awalnya banyak orang yang menyayangkan keputusannya kala itu.

“Saya ingat ketika semua orang mempertanyakan keputusan saya untuk berhenti, tapi itulah yang harus dilakukan. Berhenti kuliah adalah keputusan yang sangat sulit, baik untuk saya dan pasangan saya karena ia bekerja untuk LinkedIn pada saat itu dan memiliki saham yang belum sepenuhnya diperoleh, tapi saya ingat pernah mengatakan “kita 23 (tahun), kita masih cukup muda untuk melakukan kesalahan” dan tidak ada waktu yang lebih baik dari pada sekarang” kata Ferry dalam acara Startup Asia Jakarta 2014.

Ferry lanjut lagi menjelaskan bahwa saat itu bisnis di bidang reservasi tiket adalah salah satu dari startup yang sedang booming dan menjadi trend. Begitu banyak investor yang berlomba-lomba untuk masuk dalam bidang bisnis tersebut. Baginya, jika Traveloka tak memulai langkah saat itu juga maka akan tertinggal di kemudian hari.

Awalnya Traveloka hanya berupa platform flight search dan aggregator penerbangan. Seiring berjalannya waktu, Ferry Unardi dan timnya menyadari bahwa masalah yang terjadi bukan hanya saat menemukan penerbangan tapi juga saat melakukan transaksi. Pelanggan merasa tak puas karena mereka harus menggunakan layanan lain untuk menyelesaikan proses pembelian tiket. Hingga akhirnya Traveloka berkembang menjadi salah satu platform yang bisa digunakan untuk layanan transaksi juga.

Tantangan lain yang harus dihadapi Ferry Unardi adalah bagaimana cara mengelola tim yang awalnya berjumlah 8 orang menjadi belasan, puluhan bahkan ratusan orang. Banyak hal yang harus dilakukan sebagai perusahaan baru, termasuk membentuk budaya perusahaan dan membangun manajemen yang solid.

Melalui buku karya Ben Horowitz, veteran startup dan legenda VC, The Hard Thing about Hard Things profil Ferry Unardi mendapatkan banyak pencerahan. Dalam suatu kesempatan, Ferry pun membagikan inspirasi tersebut,

“Buku ini mengajarkan saya bahwa orang hanya memperhatikan pertumbuhan dan pengguna, tetapi juga harus fokus dengan apa yang ada di balik hal tersebut. Salah satunya tentang pentingnya membangun tim yang tepat. Orang-orang tidak berbicara tentang hal ini karena tidak secara langsung berhubungan dengan internet. Tetapi pada akhirnya kami adalah perusahaan dan kami harus terlebih dahulu dan terutama membangun sebuah perusahaan.” katanya.



Mantap menjadi platform reservasi tiket, Traveloka kembali hadapi masalah baru

Sebagai startup yang masih kecil, Traveloka tentu belum banyak dilirik oleh maskapai besar. Traveloka awalnya merasa kesulitan untuk membangun kerja sama dengan beberapa maskapai. Ferry tak menyerah, dia memiliki satu strategi yang terus dijalankan. Saat di mana timnya membuat pelayanan yang bagus dan memuaskan, maka saat itu juga orang-orang akan datang.

Mendapatkan perhatian besar dari para pengguna tentu akan menarik perhatian para maskapai penerbangan. Di lain sisi, maskapai sendiri selalu memiliki lebih banyak persediaan ketimbang permintaan. Ferry menyadari bahwa layanan yang dimiliki Traveloka bisa membantu pihak maskapai untuk mengisi kursi kosong, dan juga pengguna untuk mendapat harga promo.

Perlahan tapi pasti, saat sudah banyak pengguna yang setia dengan Traveloka mulai banyak maskapai yang mau bekerja sama dengan Traveloka. Bahkan kini Traveloka tak hanya menyediakan reservasi tiket pesawat, ada juga treservasi tiket kereta api dan juga hotel.

Terus berkembang dari tim yang kecil, kini Traveloka telah memiliki peringkat Alexa 150 di Indonesia yang memiliki puluhan juta pageview per bulan. Sejak diluncurkan, Traveloka telah mengumumkan dua putaran pendanaan; salah satunya dari East Ventures (keterangan: East Ventures juga berinvestasi di Tech in Asia. Baca halaman etika kami untuk informasi lebih lanjut) pada bulan November 2012 dan satunya lagi dari Global Founders Capital pada Desember 2013.

Thursday, August 29, 2019

Kisah Sukses Nadiem Makarim ( Pendiri GoJek )

Biodata
Nama : Nadiem Makarim
Lahir : Singapura, 4 Juli 1984
Warna Negara : Indonesia
Agama : Islam
Orang Tua : Nono Anwar Makarim (Ayah), Atika Algadrie (Ibu)
Istri : Franka Franklin
Anak : Solara Franklin Makarim
Total Kekayaan : 1.4 Trilyun Rupiah (Majalah Globe Asia 2018)

Nadiem Makarim merupakan pendiri Gojek yang sukses merevolusi industri transportasi khas Indonesia, ojek. Memanfaatkan kecanggihan teknologi mobile, Nadiem sukses membangun sebuah layanan jasa ojek berbasis online. Selain itu, ada juga beragam fitur lain yang ditawarkan Gojek, seperti pengiriman barang, pesan antar makanan, berbelanja, maupun kebutuhan hidup sehari-hari lainnya.

Gojek bisa jadi jawaban terbaik atas masalah kemacetan dan kebutuhan hidup yang serba cepat bagi penduduk di kota-kota besar. Gagasan menarik dari Nadiem ini membawa angin segar di Indonesia. Soalnya, Gojek efektif mengurangi jumlah pengangguran dan meningkatkan pendapatan masyarakat.  Kira-kira seperti apa perjuangan pemilik Gojek di awal merintis inovasi transportasi di tanah air? Yuk cari tahu!


Nadiem Makarim, Pendiri Gojek yang Sukses di Usia Muda

Sebelum memutuskan buat jadi pengusaha, pria yang lahir pada 4 Juli 1984 ini terlebih dulu bekerja dengan beberapa perusahaan lain. Tercatat Nadiem Makarim pernah bekerja di perusahaan konsultan Mckinsey & Company, ia juga sempat menduduki posisi Managing Editor Zalora Indonesia, serta sebagai Chief Innovation Officer Kartuku. Selama bekerja di tiga perusahaan tadi, Nadiem selalu menggunakan jasa ojek untuk memudahkan aktivitasnya.

Di saat yang bersamaan itu juga ia melihat bahwa ada banyak tukang ojek yang berada di pangkalan ojek harus bergiliran dengan pengemudi ojek lainnya untuk mengangkut penumpang belum lagi di kota-kota besar banyak tukang ojek yang menggunakan waktu untuk sekadar mangkal dan menunggu penumpang. Berbekal pengalaman dan pengetahuannya tersebut, barulah Nadiem terinspirasi untuk mendirikan Gojek.


Berani Resign demi Gojek

Walaupun sudah mendapatkan posisi yang cukup baik dalam pekerjaannya ternyata Nadiem nggak cepat merasa puas begitu saja. Jauh sebelum populer seperti sekarang, pendiri Gojek ini bahkan berani ambil keputusan buat resign dari perusahaan tempat ia bekerja. Alasannya, pria lulusan Harvard Business School ini punya tekad yang kuat buat jadi entrepreneur sejati.

Tepat di tahun 2011 perusahaan Gojek resmi didirikan oleh Nadiem Makarim. Diberi nama PT. Gojek Indonesia, perusahaan ini memiliki ide awal yang sangat sederhana, yaitu mempermudah pertemuan antara pengemudi ojek dengan calon penumpang. Solusi yang sederhana tersebut ternyata mendapat respon positif dari masyarakat Indonesia. Tak heran Gojek segera berkembang pesat setelah meluncurkan aplikasi di smartphone pada awal 2015.


Ciptakan Lapangan Kerja Padat Karya

Gojek membuka lapangan kerja baru yang padat karya. Banyak masyarakat yang tadinya nggak punya penghasilan, saat ini dapat menghasilkan pendapatan yang cukup besar dengan menjadi pengemudi Gojek. Profesi ini juga menarik perhatian generasi muda yang ingin mencari uang saku tambahan maupun para pensiunan yang masih ingin tetap produktif. Bahkan, ada juga pekerja kantoran yang memanfaatkan Gojek untuk menambah jumlah pendapatan mereka.

Nggak cuma itu, Gojek juga banyak merekrut karyawan-karyawan muda, di balik aplikasi yang sudah di-download lebih dari 13 juta kali oleh pengguna smartphone di tanah air. Sedikit menoleh ke belakang, di awal berdiri Gojek hanyalah sebuah call center yang dikerjakan oleh tim manajemen dengan jumlah orang terbatas.

Saat itu, sistem pemesanan Gojek juga masih terbilang sangat sederhana. Dimana lo harus memesan layanan ojek melalui call center, lalu operator akan mencari driver yang terdekat. Selanjutnya, call center akan memastikan kedatangan driver dengan sistem navigasi dan koordinasi pelanggan. Baru di tahun 2014 Nadiem Makarim mengubah bentuk bisnis ini menjadi berbasis online dengan aplikasi khusus.


Punya Hampir 1000 Karyawan




Lo pasti nggak nyangka kalau Gojek sudah menjadi tempat pencarian nafkah bagi hampir 1.000 orang karyawannya. Tercatat ada sekitar 300 ribu orang pengemudi atau biasa dipanggil driver Gojek telah meroda di jalanan. Layanan ojek online ini juga telah beroperasi di 50 kota di Indonesia, seperti Jabodetabek, Bali, Surabaya, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Medan, Makassar, Palembang, Balikpapan, dan akan terus bertambah setiap bulannya.

Dulunya, sang pendiri Gojek, Nadiem Makarim hanya mengedepankan layanan jasa antar jemput pada jam sibuk dan hari kerja. Saat itu rata-rata setiap pengemudi Gojek hanya mendapat tiga sampai empat kali pesanan. Setelah perusahaan ini mengembangkan layanan dan beroperasi setiap hari 24 jam, termasuk hari libur, rata-rata pesanan Gojek meningkat hingga empat sampai delapan pesanan per driver Gojek setiap harinya.


Ditiru Para Perintis Startup

Hidup di negara yang sedang berkembang, urusan contek-mencontek mungkin bukan lagi hal yang baru buat lo. Faktanya hal ini juga dialami oleh Gojek yang sistemnya banyak ditiru oleh para perintis bisnis startup lainnya di Indonesia. Ada enam aplikasi serupa yang membuat layanan jasa ojek serupa Gojek. Perbedaan hanya terletak pada tarif awal dan per kilometer berikutnya.

Namun demikian, sebagai pemilik Gojek, Nadiem nggak mau ambil pusing. Baginya, para pengusaha muda kreatif pembuat aplikasi serupa Gojek bukanlah kompetitor yang harus dikalahkan, ditakuti, atau bahkan ditaklukkan. Ia justru senang jika ada banyak anak bangsa yang mengikuti jejak suksesnya sehingga Indonesia bisa pelan-pelan terlepas dari kompetisi dengan produk impor.

Jangan Gampang Puas!

Kunci sukses Nadiem Makarim terletak pada inovasi yang terus ia lakukan. Sekalipun Gojek sudah terbilang cukup sukses dan ditiru banyak pemula startup, lo bisa lihat sendiri jika aplikasi Gojek selalu memberi pembaruan yang terbaik. Mulai dari segi tampilan, kualitas layanan, hingga kemunculan fitur-fitur menarik yang semakin memudahkan kebutuhan lo sehari-hari. Mulai dari fitur chat dengan driver Gojek, go-pay, go-bills, hingga go-tix.

Pembaruan-pembaruan ini menjadi bukti nyata kalau pemilik Gojek terus ingin memberikan layanan yang terbaik untuk seluruh pelanggan setianya. Semakin ditiru oleh kompetitor, bukan berati lo harus kepanasan jenggot untuk mengalahkan atau merasa takut. Sebaliknya, lo harus buktikan kepada konsumen kalau apapun bentuknya bisnis lo selalu menjadi yang terdepan dalam berinovasi.


Dapat Perlawanan dari Ojek dan Taksi Konvensional

Pendiri Gojek, Nadiem Makarim sudah pasti peka terhadap perlawanan yang bakal diberikan oleh pengemudi ojek dan taksi konvensional di Indonesia. Jauh sebelum layanan transportasi online dibentuk, ternyata hal tersebut sudah pernah diprediksi oleh pihak manajemen Gojek. Namun saat itu mereka nggak menyangka jika Gojek bisa bertumbuh pesat dalam kurun waktu yang terbilang cukup singkat.

Meskipun demikian, perusahaan ojek online ini nggak takut menghadapi perlawanan tersebut. Sebaliknya, Nadiem justru menilai bahwa hal tersebut menjadi tanda yang baik bagi pertumbuhan perusahaan transportasinya. Berbagai upaya diplomasi sudah dilakukan agar driver Gojek bisa mengemudi dengan tenang tanpa takut ancaman dari pihak-pihak tertentu. Meski alot, akhirnya toh Gojek menemukan titik terang.

Sesuai dengan kesepakatan, pengemudi Gojek dilarang untuk mengangkut penumpang dari dalam Stasiun, Terminal, ataupun Bandara. Tiga wilayah tersebut menjadi teritori bagi ojek dan taksi konvensional. Sebaliknya, driver Gojek hanya boleh mengangkut penumpang ke destinasi-destinasi tersebut. Meski nggak dibuat secara tertulis, aturan lisan ini sudah disepakati oleh masing-masing pihak yang bersangkutan.

Dapat Suntikan Dana dari Beberapa Raksasa Investor



Di tengah menghadapi perlawanan dengan driver ojek dan taksi konvensional, popularitas Gojek justru semakin dikenal dan mencuri perhatian dunia. Sejak Agustus 2016, sejumlah investor asing dilaporkan sudah menyuntikkan dana sebesar Rp 7,2 triliun untuk perusahaan Gojek ini. Tercatat angka tersebut didapat dari beberapa raksasa investor dunia yang terdiri dari KKR, Warburg Pincus, Farallon Capital, dan Capital Group Markets.

Nggak berhenti sampai disitu saja. Di tahun berikutnya, dua perusahaan besar asal China, Tencent dan JD.com juga memberikan dana yang cukup besar bagi Gojek. Masing-masing perusahaan tersebut berinvestasi sebesar Rp2 triliun dan Rp1,3 triliun dalam waktu yang hampir bersamaan. Inilah yang membuat Gojek terus kokoh berdiri meski ada banyak startup baru yang bermunculan dengan layanan serupa dengan miliknya.

Kekayaan Nadiem Makarim juga diprediksi meningkat drastis di tahun 2018 ini. Pasalnya, Google bersama Temasek Holding bersama-sama menggelontorkan dana segar senilai Rp16 triliun. Ditambah dengan investasi yang dilakukan oleh PT Astra International Tbk. sebesar Rp2 triliun nilai valuasi Gojek semakin meningkat drastis. Gojek diperkirakan memiliki nilai valuasi mencapai $4 miliar atau setara Rp53 triliun!


Ditolak Jadi Moda Transportasi Umum oleh Pemerintah

Meskipun sudah membantu negara dalam menarik investor asing, ternyata Gojek belum juga mendapatkan izin resmi dari pemerintah. Mahkamah Konstitusi (MK) telah menolak untuk melegalkan ojek online sebagai alat transportasi umum atau angkutan umum di Indonesia. Putusan ini diambil oleh MK terhadap uji materi perkara Nomor 41/PUU-XVI/2018 yang diajukan oleh para pengemudi ojek online beberapa waktu yang lalu.

Nadiem Makarim selaku pemilik Gojek mengaku kalau dirinya menerima dan menghargai apa yang sudah menjadi keputusan MK. Namun, ia belum menyerah untuk tetap mempertahankan startup yang telah membesarkan namanya dan menjadi sandaran bagi ribuan karyawan dan ratusan pengemudi Gojek di dalamnya. Nadiem percaya jika sentuhan teknologi bisa membuat perubahan bagi masyarakat Indonesia.

Merintis usaha dari nol sudah pasti bukan hal yang mudah, Pendiri Gojek yang merupakan lulusan universitas bergengsi di Eropa ini bahkan mengalami kesulitan. Bahkan setelah sukses mencuri perhatian dunia dan mengantongi sejumlah keuntungan, Nadiem masih harus menghadapi sulitnya perijinan transportasi online di Indonesia. Kisah jatuh bangun pemilik Gojek ini pastinya bisa memberi inspirasi tersendiri buat lo.




Pastikan sebelum memulai bisnis lo bisa melihat peluang yang ada. Peka terhadap lingkungan sekitar sehingga lo bisa membaca apa yang menjadi masalah di lingkungan tersebut. Bagi Nadiem, bisnis itu nggak bisa dibangun kalau nggak ada masalah yang harus diatasi. Selain itu, lo juga harus berani untuk berinovasi dalam menciptakan bisnis yang lebih punya daya tarik dikalangan masyarakat dan juga investor.

Itulah tadi kisah sukses pendiri Gojek, Nadiem Makarim di usianya yang masih tergolong cukup mudah. Tertarik buat mengikuti jejak sukses berbisnis seperti pemilik Gojek ini? Sebaiknya pilih bidang bisnis yang belum menjamur di Indonesia. Jadi berbeda itu nggak susah kok, lo justru bisa jadi trendsetter bagi para entrepreneur muda lainnya.



Kisah Sukses Mochtar Riady ( Pemilik Lippo Group )

Nama Mochtar Riadi mungkin sedikit asing bagi Anda yang belum mengenal dunia bisnis dengan baik. Namun jika mendengar nama Lippo Group mu...