Showing posts with label Pengusaha Muda. Show all posts
Showing posts with label Pengusaha Muda. Show all posts
Saturday, September 14, 2019
Kisah Sukses Mark Zuckerberg ( Pendiri Facebook )
Sejak muda sudah keranjingan komputer. Ketika di Harvard sempat jadi pemberontak dengan membuka website data mahasiswa, ia pun diperkarakan. Lalu Facebook yang dibuatnya menggoncangkan dunia dan membawanya menjadi anak muda terkaya di dunia.
Namanya Mark Elliot Zuckerberg, dilahirkan di Dobb Ferry, West chester County, New York, 14 Mei 1984. Sekolah menengah di Ardsley High School, Ardsley, New York (1998-2000) dan Phillips Exeter Academy, Exeter, New Hamshire (2000-2002). Pendidikan universitas di bidang psikologi, Harvard University (drop-out). Perusahaan yang dimiliki, Facebook Inc. Kekayaan US$ 1,5 miliar (sekitar Rp 13,5 triliun), ranking ke-785 orang terkaya dunia versi Majalah Forbes 2008.
Adakah yang tidak mengejutkan dari data tersebut? Zuckerberg baru akan genap berusia 24 tahun pada Mei ini. Ia tak menyelesaikan kuliah di Harvard University tetapi berhasil membangun Facebook yang membuatnya mengumpulkan kekayaan sampai Rp 13,5 triliun. Siapapun akan menyebutnya luar biasa. “Dia adalah billionaire termuda di dunia saat ini, dan kami yakin ia adalah billionaire ter muda sepanjang sejarah yang mengumpulkan sendiri kekayaannya,” ujar Matthew Miller, associate editor Majalah Forbes.
Sebelum ini Forbes pernah memasukkan anak belia di deretan orang terkaya dunia namun mereka mendapatkannya dari warisan orangtuanya yang meninggal. Sedangkan Zuckerberg mendapatkannya dari hasil kerjanya. Lalu majalah ini menobatkan Zuckerberg sebagai “The Youngest `Self-made’ Billionaire on the Planet” tahun ini.
Awalnya Direktori Mahasiswa Zuckerberg lahir di kawasan bernama Dobbs Ferry, Westchester County, kota New York. Ia adalah anak kedua dari empat bersaudara dari orang tua pasangan dokter gigi – psikiater. Sejak kecil Zuckerberg suka mengu tak-atik komputer, mencoba berbagai program komputer dan belajar membuatnya. Ayahnya sendiri membelikannya komputer sejak ia beru sia delapan tahun. Saat di sekolah menengah Phillips Exeter Academy, ia dan rekannya, D’Angelo, membuat plug-in untuk MP3 player Winamp. Plug-in adalah program komputer yang bisa berinteraksi dengan aplikasi host seperti web browser atau email untuk keperluan tertentu.
Zuckerberg dan D’Angelo membuat plug-in untuk menghimpun kesukaan orang terhadap aneka jenis lagu dan kemudian membuat play list-nya sesuai selera mereka. Mereka mengirimkan program itu ke berbagai perusahaan termasuk ke AOL (American Online) dan Microsoft. Pada tahun terakhimya di Phillips ia direkrut oleh Microsoft dan AOL untuk suatu proyek.
Saat melanjutkan sekolah ke perguruan ting gi keduanya harus berpisah. D’Angelo masuk Caltech sedangkan Zuckerberg masuk Harvard. Di Harvard inilah Zuckerberg menemukan ide membuat buku direktori mahasiswa online karena universitasnya tak membagikan face book (buku mahasiswa yang memuat foto dan identitas mahasiswa di universitas itu) pada mahasiswa baru sebagai ajang pertemanan di antara mereka. Namun setiap kali ia menawarkan diri membuat direktori itu, Harvard menolaknya. “Mereka mengatakan punya alasan untuk tidak mengumpulkan informasi (mahasiswa) ini,” ujar Zuckerberg kemudian.
Meski ditolak ia selalu mencari cara untuk mewujudkannya. “Saya ingin menunjukkan kalau hal itu bisa dilakukan,” lanjutnya soal kengototannya membuat direktori itu.
Proyek pertamanya adalah CourseMatch (www.coursematch.com) yang memungkinkan teman-teman sekelasnya berkomunikasi satu sama lain di website tersebut. Suatu malam di tahun kedua ia kuliah di Harvard, Zuckerberg menyabot data mahasiswa Harvard dan memasukkannya ke dalam website yang ia buat bernama Facemash. Sejumlah foto rekan mahasiswanya terpampang di situ. Tak lupa ia membubuhkan kalimat yang meminta pengun jungnya menentukan mana dari foto-foto ini yang paling “hot”. Pancingannya mengena. Dalam tempo empat jam sejak ia meluncurkan webiste itu tercatat 450 orang mengunjungi Facemash dan sebanyak 22.000 foto mereka buka. Pihak Harvard mengetahuinya dan sambungan internet pun diputus. Zuckerberg diperkarakan karena dianggap mencuri data. Anak muda berambut keriting ini pun meminta maaf kepada rekan-rekan yang fotonya masuk di Facemash. Tetapi ia tak menyesali tinda kannya. “Saya kira informasi seperti itu harus tersedia (online),” ujamya.
Alih-alih kapok ia malah membuat website baru dengan nama Facebook (www.thefacebook.com). Website ini ia luncurkan pada Februari 2004. Facebook merupakan penyempurnaan dari Facemash. Sasarannya tetap sebagai tempat pertemuan sesama mahasiswa Harvard. Dalam penjelasan di website-nya sekarang disebutkan bahwa Facebook adalah suatu alat sosial untuk membantu orang berko munikasi lebih efisien dengan rekan, keluarga, atau rekan kerjanya. Facebook menawarkan navigasi yang mudah bagi para penggunanya. Setiap pemilik account punya ruang untuk memajang fotonya, teman-temannya, network, dan melakukan hal lainnya seperti bisa berkirim pesan dan lain sebagainya.
Banyaknya aplikasi yang bisa digunakan oleh anggotanya membuat Facebook digan drungi banyak orang. Konon hingga saat ini sudah lebih dari 20.000 aplikasi dimasukkan ke dalam Facebook yang bisa digunakan para anggotanya. Setidaknya 140 aplikasi baru ditambahkan ke Facebook setiap harinya dan 95% pemilik account Facebook telah menggu nakan minimal satu aplikasi.
Penyertaan banyak aplikasi ini membuat Facebook berbeda dengan website jejaring sosial terdahulu seperti MySpace. Lalu orang berbondong-bondong mengunjungi website nya dan mendaftar jadi anggotanya. Dalam waktu dua minggu setelah diluncurkan, separuh mahasiswa Harvard sudah memiliki account di Facebook. Ternyata tak hanya mahasiswa Harvard yang tertarik, beberapa kampus di sekitar Harvard pun meminta dimasukkan dalam jejaring Facebook. Ini membuat Zuckerberg kewalahan. Ia lalu meminta bantuan dua temannya untuk ikut mengem bangkan Facebook. Dalam tempo empat bulan Facebook sudah bisa menjaring 30 kampus. Hingga akhir 2004 jumlah pengguna Facebook sudah mencapai satu juta.
Pengguna Facebook terus meningkat. Malah ada sejumlah orang yang tak lagi jadi mahasiswa atau yang masih di sekolah ingin bergabung. Tingginya desakan ini membuat Zuckerberg dan kawan-kawan memutuskan Facebook membuka jaringan untuk para siswa sekolah menengah (di sini SMU) pada Sep tember 2005. Tak lama kemudian mereka juga membuka jejaring para pekerja kantoran. Kesibukan yang luar biasa ini membuat Zuckerberg harus memutuskan keluar dari Harvard. “Apa yang saya inginkan sudah ada di tangan. Saya tidak ingin punya ijazah kemudian bekerja. Menurut saya, pekerjaan hanyalah untuk orang-orang yang lemah,” ujarnya pada Majalah Current.
Zuckerberg dan kawan-kawan kemudian mengembangkan Facebook lebih jauh lagi. Pada September 2006 Facebook membuka pendaftaran untuk jejaring umum dengan syarat memiliki email. Sejak itulah jumlah anggota Facebook melesat.
Saat ini jumlah anggota aktifnya mencapai 70 juta di seluruh dunia. Jejaring yang dihim punnya mencapai enam juta jaringan (ke lompok pertemanan) meliputi 55.000 jaringan berdasarkan demografi, pekerjaan, sekolah, kolegial, dan sebagainya. Setiap harinya ada 14 juta foto di-upload (dimasukkan ke Facebook). Dan dalam hal jumlah trafik pengakses Facebook menjadi website teraktif ke-6 di dunia dan menjadi website jejaring sosial kedua terbesar versi camScore.
Jual Saham Jadi Kaya, Jumlah anggota Facebook yang jutaan or ang itu menjadi tambang emas yang meng giurkan. Zuckerberg dan kawan-kawan pun menangkap peluang bisnis yang besar. Karena itu ketika jumlah user-nya melebihi satu juta mereka menggandeng Accel Part ners, perusahaan modal ventura, untuk membiayai pengembangannya. Modal yang ditanamkan adalah US$ 12,7 juta. Ini adalah investasi kedua yang masuk ke Facebook setelah sebelumnya (Juni 2004) men dapatkan dan dari pendiri PayPal sebesar US$ 500.000. Pembenahan pertama dengan tambahan modal itu adalah dengan meng ganti domain-nya dari www. thefacebook. corn menjadi http://www.facebook.com pada Agustus 2005. Setelah itu jangkauan keanggotaannya diperluas menjadi internasional. Hingga Desember 2005 jumlah anggotanya sudah mencapai 5,5 juta.
Meski jumlah user-nya meningkat tajam pada tahun 2005 disebutkan Facebook menga lami kerugian sampai US$ 3,63 juta. Facebook kemudian mendapatkan dana sebesar US$ 25 juta dari Greylock Partners dan Meritech Capi tal Partners. Dana itu digunakan untuk meluncurkan versi mobile-nya.
Pada September 2007 Microsoft melakukan pendekatan dan menawarinya membeli 5% saham senilai sekitar US$ 300 juta hingga US$ 500 juta. Jika nilai itu disetujui maka nilai kapitalisasi Facebook sudah mencapai US$ 6 miliar hingga US$ 10 miliar atau sekitar Rp 54 triliun hingga Rp 90 triliun. Namun Microsoft akhirnya mengumumkan hanya membeli 1,6% saham Facebook dengan nilai US$ 240 juta pada Oktober 2007. Transaksi ini menunjukkan nilai kapitalisasi Facebook ternyata lebih tinggi yaitu sekitar US$ 15 miliar (sekitar US$ 135 triliun).
Setelah itu sejumlah tawaran mengepung Facebook. Li Ka-shing disebut-sebut ikut menginvestasinya sekitar US$ 60 juta pada November 2007. Lalu ada berita yang menyebutkan Viacom, Yahoo, Google, dan sebagainya pun ikut menawar untuk membeli Facebook. Sejauh ini Zackerberg me ngatakan Facebook tak akan dijual.
Melesatnya bisnis Facebook membuat Zackerberg menampuk kekayaan yang luar biasa. Majalah Forbes menyebutkan kekayaan Zackerberg sendiri mencapai US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 13,5 triliun. Jangankan untuk anak seusia Zackerberg, untuk orang dewasa pun harta sebanyak itu tentu jumlah yang luar biasa besar. Maka wajar jika majalah itu menobatkannya sebagai The Youngest `Self-made’ Billionaire on the Planet.
Prestasi yang diraih Zackerberg tak benar -benar mulus. Sejumlah perkara ia dapatkan sehubungan dengan Facebook. Termasuk dari rekannya di Harvard yang menyebutkan rancangan Facebook sebenarnya tiruan dari ConnectU. Namun Zackerberg tetap bergeming bahwa Facebook merupakan hasil karyanya. Meskipun ConnectU kalah dalam persidangan pertama, perusahaan ini mendaftarkan gugatan baru pada Maret 2008.
Kontroversi juga datang dari negara-negara seperti Myanmar, Bhutan, Syria, Arab Saudi, Iran dan sebagainya yang menyebutkan kalau Facebook mempromosikan serangan terhadap otoritas pemerintahannya sehingga akses terhadap Facebook di negara tersebut ditutup.
Di tengah sejumlah kontroversi itu, nama Facebook dan Mark Zackerberg tetap digan drungi banyak orang. Zackerberg sendiri di tengah kepopuleran namanya dan jumlah kekayaan yang dimilikinya, ia tetap sederhana. Ia masih tinggal di apartemen sewaan dan di kamarnya hanya tersedia sebuah meja dan kursi. Kasurnya diletakkan di lantai. Kala datang ke kantornya di Palo Alto, Zackerberg kerap berjalan kaki atau mengendarai sepeda. Tak tampak sebagai miliuner (dalam US$ dol lar, tentunya) atau triliuner (dalam rupiah).
Wednesday, September 11, 2019
Pengusaha Muda Erick Thohir Mahaka Media ( TV One )
Erick Thohir dikenal sebagai salah satu dari sekian pengusaha muda yang sukses menggeluti bisnis media dan hiburan. Dia pun terobsesi menjadi salah satu raja media di negeri ini. Selain membidik pasar bisnis media yang segmented danme nyasar komunitas, Erick juga melejitkan klub bola basket Mahaka Satria Muda dan Mahaputri Jakarta.
Untuk mengikuti kisah sukses Grup Mahaka, berikut petikan wawancara dengan Erick :
Bisa diceritakan kapan mulai terlibat di bisnis media?
Saya pulang dari Amerika Serikat (AS) pada 1993. Saat itu masih berusia 23 tahun. Sekolah sudah selesai danmeraih gelar bachelor dan master[Erick lulus dari National University, California, AS]. Kenapa pulang? Kebetulanbapak saya yang sudah kerja [dagang] dari usia 10-11 tahun, sudahwaktunya istirahat. Kakak saya [BoyGa ribaldi Thohir], pulang pada 1991 langsung meneruskan bisnis keluarga, sehingga ketika saya pulang ke Indonesia, juga langsung membantu.
Kami punya grup [bisnis keluarga] namanya Tri Nugraha Thohir. Bergerakdi empat bidang yakni pertambangan batu bara, properti, restoran (makanan) yakni Hanamasa dan Pronto, serta otomotif (sepeda motor).
Bapak saya, awalnya memiliki belasan perusahaan lalu dijual dan fokus mengelola empat bidang tersebut.
Saya disuruh membantu menanganibisnis makanan (restoran), mulai 1993-1998. Saat itu kami barumemiliki Hanamasa.
Saat baru masuk, gerai Hanamasa baru 3 outlet dan terakhir saya tinggalkansudah ada 20-anoutlet yang tersebar diberbagai kota.
Pronto, yang kami ambil alih, waktu itu ada empat outlet, kemudian sayatutup tiga dan tersisa satu outlet di Pondok Indah.
Dari Pondok Indah kami start ulang lagi dan sekarang ada 3-4 gerai Pronto.
Sebelumnya saya tidak memiliki latar belakang pendidikan untuk bisnis makanan. Saya meraih gelar bachelor untuk advertising dan master dibidang marketing. Tidak ada hubungan, tapi mirip-mirip lah.
Pada 1998, ketika mau mengembangkan bisnis restoran, krisis terjadidan bunga bank naik. Padahal konsep pengembangan ini sudah jadi. Saya mau meminjam Rp10 miliar-Rp20miliar untuk mengembangkan gerai menjadi 50 outlet, ternyata begitu dapat uang Rp3 miliar, bunganya 80%.
Ketika bunga naik menjadi 80% itu berat sekali, tetapi kita bisa bayar sehingga langsung dibayar. Ekspansi tertunda. Memang kebetulan filosofi keluarga saya tidak berutang. Seperti Hanamasa sekarang tidak ada utang dibank sama sekali, nah itu yang menyelamatkan.
Kapan memiliki bisnis sendiri?
Ketika ekspansi bisnis resto tertunda, teman-teman saya semasa sekolah di AS, seperti M. Lutfi, Wisnu Wardhana,dan Harry Zulnardy mengajak untuk berbuat sesuatu. Obrolan ini sudah dimulai pada 1996-1997.
Bukannya tidak menurut pada orang tua dan kakak, tetapi sebenarnya saya juga ingin punya bisnis sendiri.
Kebetulan keluarga memutuskan Boy menjadi pimpinan dan kalau saya mau membangun usaha sendiri, tidak boleh menjalankan operasional bisnis keluarga, cukup menjadi komisaris saja, supaya jangan ribut. Lalu, bisnis otomotif, makanan dan lainnya dijalankan oleh para profesional dipegang Boy, saya beserta adik saya [Rika] menjadi komisaris.
Dari situ, setelah teman-teman mengajak, saya pikir-pikir kenapa tidakmencoba. Di keluarga, saya paling bandel, paling gaul. Awalnya bapak dan kakak saya tidak setuju. Mereka menilai sudah ada bisnis keluarga dan kenapa tidak itu saja yang di jaga?
Mereka mengetahui karakter saya, kalau makin ditahan makin rebel. Ya sudah disetujui tetapi tidak boleh yang ada hubungannya dengan bisnis keluarga. Itu yang membuat saya berani meninggalkan bisnis keluarga dan memulai sendiri.
Bersama teman-teman kami membentuk perusahaan, awalnya di trading mulai dari semen, pupuk, beras, kapur, pokoknya bahan kebutuhan. Ternyata sukses, karena memang Lutfi tukang lobi yang bagus, saya pedagang yang bagus, Wisnu tukang hitung yang bagus dan Harry treasury yang bagus.Ya semuanya saling melengkapi.
Dalam perjalanannya, saya diskusi dengan partner-partner saya dan sampaikan, kok trading ini sesuatu yang come and go, saya ingin mencoba ke media, Lutfi menyambut dengan baik, lalu kami mulai membeli perusahaan billboard dan radio, terus Republika (sekitar tahun 2000).
Nah, dari situ sudah mulai tidak bisa berjalan bersama, saya ke media, yang lain ke trading. Dalam perjalanannya masing-masing partner punya visi yang berbeda. Wisnu diminta membantu bisnis keluarga (Grup Indika]. Akhirnya waktu itu kami sepakati, kalau pada sibuk, saya yang mengurusi bisnis media. Saat itu kami membentuk perusahaan namanya Mahaka Media dan Mahaka Niaga. Persentase kami 30:30:30 dan 10.
Bagaimana awalnya menemukan nama Mahaka, lalu apa artinya?
Nama Mahaka itu tidak sengaja ditemukan.
Saat kami berbincang, saya membuka kamus Jawa Kuno [Sanskrit], di situ tertulis Mahaka, artinya langkah pertama yang baik, yang besar. Seperti mahakarya [karya besar], maha itu sesuatu yang besar. Saya tidak sengaja menemukannya dan teman-teman menilainya cukup bagus.
Waktu itu saya mendirikan Mahaka Niaga, sedangkan Mahaka Media belum lahir. Dalam perjalanannya, teman-teman sibuk dan saya fokus menangani bisnis media. Ketika Wisnuke luar 2007, sahamnya saya beli, Harry keluar untuk bisnis lainnya, saya beli sahamnya. Sisanya saya dan Lutfi, komposisi 60: 40, lalu go public.
Kisah go public ini juga seru. Sebenarnya tidak mau go public tapi Republika adalah public company meski tidak listed, jadi saya agak aneh. Saya minta tolong bursa efek dan akhirnya go public secara strategik.
Dari tidak terdaftar menjadi terdaftar, dari situlah ada pemegang saham publik sampai saat ini, saya pegang 61%, Lutfi ada 20-an%, sisanya publik.
Rosan P. Roeslani juga beli melalui Recapital, dari situ kami bertumbuh dibawah bendera Mahaka, mulai dari koran, radio, online, terakhir Alif TV.
Lalu bagaimana dengan posisi Anda di TV One?
TV One itu tidak berada di bawah bendera Mahaka Media, itu VivaNews. Saya berpartner dengan Anindya [Viva Group] di TV One. Dulu diajak dalam rangka membantu secara operasional dan investasi, saya punya saham sedikit di TV One. Saya berusaha profesional menaruh diri pada tempatnya, tidak boleh conflict of interest.
Mayoritas saham milik mereka sekitar 90%. Hanya mereka melihat saya bisa membantu secara operasional. Kebetulan saya juga melihat ini tantangan.
Saya ini kan problemnya kutu loncat,jadi duduk di satu perusahaan setelah 2-3 tahun kalau sudah jalan saya tinggal, penyakit juga sih. Kenapa saya seperti itu? supaya saya memberi kesempatan kepada profesional untuk menjalankannya. Saya kembali memikirkan aspek strategis. Ini bisa dilihat di struktur Mahaka Media, dirutnya orang lain dan saya komisaris saja.
Apa pertimbangannya memilih terjun ke bisnis media?
Sebenarnya saat itu ada tiga pertimbangan.
Pertama, Indonesia pada 1998 menjadi negara terbuka, saya melihat media akan tumbuh karena tidak dikontrol. Kedua, terlepas pada tahun itu masa susah karena krisis, saya yakin ke depan pertumbuhan consumergoods akan tinggi. Media is a consumer goods. Media kan seperti produk, cuma dari angle yang lain, dinikmati dengan mata dan telinga. Ketiga, saya percaya hidup itu mesti give and take, bukan take and give. Saya percaya dengan media juga bisa  berkontribusi sesuatu kepada masyarakat.
Makanya juga saya membatasi diri di areal politik, saya tidak ikut parpol.
Kenapa saya masuk ke media? Saya lihat itu peluang seiring era kebebasan dan consumer goods yang akan berkembang, lalu dari segi edukatif, ini memberikan sesuatu, tetapi konsekuensinya saya tidak boleh terjebak pula diputaran itu. Ini prinsip dan pilihan.
Walaupun, 2 tahun terakhir ini keluarga saya menerima oke. Jadi waktusaya keluar dari bisnis keluarga untuk mengurusi Mahaka, mereka berkata “waduhâ€. Ketika Mahaka jalankan bisnis trading, mereka happy, tapi begitu kita masuk ke bisnis media, keluarga bilang lagi “waduh cari musuh, kalau nulis salah dimusuhin.†Mereka easy going sekali, ketika kita masuk ya mereka agak kurang menerima, bukan mereka tidak setuju dengan kemauan saya, tapi khawatir karena mereka ini kan pedagang.
Berapa lama pergulatan memutuskan pindah ke media?
Sekitar 6 bulanan, dan saya rasa itu pilihan yang tepat, karena ketika beberapa partner kita fokus ke tempat lain, niaganya juga goyang, bagi tugasnya jadi tidak seimbang.
Ke depan, apakah ada rencana membeli media atau televisi lagi?
Saya juga mesti terima kasih dalam pengembangan hidup saya ini banyak partner, seperti di Mahaka ada Lutfiada Rosan, di JAK TV ada Artha Graha (Tommy Winata), di TV One ada Bakrie, jadi banyak partner. Tapi untungnya partner-partner tadi mempercayakan kepada saya, saya dianggap transparan dan profesional, kalau tidak mana mungkin mereka mau bekerja sama dengan saya, saya transparan dan professional, dan yang terpenting ketika menjalankan I act asa professional not as an owner.
Kami sekarang menjadi punya dua bendera, Mahaka Media dan Alif. Mahaka Media untuk media dan Alif untuk entertainment company. Alif ini menaungi produk-produk terkait hiburan.
Kami mulai pisahkan antara media dengan entertainment. Kalau Beyond Media itu saya, holding company saya. Basicly Beyond Media bergerak sebagai holding. Mahaka Media itu public company, untuk TV One itu my personal.
Bagaimana melihat bisnis media ke depan di Indonesia?
Bisnis 360 derajat integrated services, bercampur antara media, entertainment, multiplatform dan konten is theking. Beberapa hal yang memang bagian yang bisa diefisiensikan kita efisiensikan, distribusinya kita gabungkan karena tidak ada hubungan dengan konten.
Pengalaman yang Anda selalu kenang dalam berbisnis?
Keputusan yang selalu dikenang, ya ketika saya memtuskan memulai usaha sendiri, terus memutuskan juga dari Mahaka Niaga ke Mahaka Media.
Sebetulnya orang tidak tahu pada 2006 saya lagi susah-susahnya karena masalah cash flow, kebetulan bisnis lagi tidak jalan, tapi tiba-tiba ada ekspansi,tapi cash flow tidak cukup.
Maka saya mesti jual lukisan dan jual mobil. Saya sebenarnya bisa berutang ke bank, tapi saya pikir itu ada lukisan atau mobil, kenapa tidak dipakai, padahal sayang lukisan itu ada karya Affandi. Anak buah saya tahu bahwa saya berani mengorbankan sesuatu yang pribadi untuk kita semua. Loyalitas itu mesti dibentuk dari dua pihak, dari kita sebagai pimpinan dan dari tim. Kalau dari anak buah ke atasan itu normal, tapi pimpinan itu harus memberi contoh.
Saya memang kontradiksi, di satu pihak dikatakan ekspansi, tapi loyal. Jadi seperti dua sisi, saya ini Gemini.
Di sisi satu sangat eksploratif dan satu sisi lainnya, secure. Saya juga membagi area publik dengan private.
Friday, August 30, 2019
Kisah Sukses Ferry Unardi ( Traveloka )
Teknologi membuat semua menjadi lebih mudah, termasuk dalam dunia perpelancongan. Mulai dari reservasi tiket pesawat, tiket kereta, hotel bahkan tiket masuk ke wahana semua bisa dilakukan dengan cepat dan praktis dengan bantuan teknologi internet. Mengakomodir kebutuhan milenial di bidang digital travel, muncullah berbagai startup travel. Salah satunya Traveloka, startup travel yang bisa dibilang menguasai pasar Indonesia saat ini.
Besarnya nama Traveloka tak lepas dari profil Ferry Unardi sang CEO sekaligus Co Founder dari Traveloka. Sosoknya yang memang lebih banyak di balik layar mungkin kalah tersohor dibanding nama Traveloka itu sendiri. Namun cerita inspiratifnya dalam membangun Traveloka tak kalah menarik untuk diceritakan.
Profil Singkat
Nama: Ferry Unardi
Lahir: Padang, Sumatera Barat, Indonesia, 16 Januari 1988
Pendidikan: Science and Engineering, Purdue University, Amerika Serikat (2004-2008)
Master of Business Administration, Harvard Business School, Amerika Serikat (2011-2012)
Karier: Software Engineer di Microsoft, Seattle, Amerika Serikat (2008-2011)
CEO dan Co-Founder Traveloka.com (2012-Sekarang)
Jika melihat rekam jejak pendidikannya, Ferry boleh dibilang minim dalam ilmu bisnis. Dalam sebuah kesempatan di acara Startup Asia Jakarta 2014, Ferry mengungkapkan sedikit hal tentang latar belakangnya.
¨Saya tidak melihat diri saya sebagai seorang entrepreneur, tetapi lebih sebagai seorang engineer. Sebagai seorang yang menyukai IT ketika remaja, mengambil jurusan matematika ketika kuliah, dan sempat bekerja di Microsoft, bahkan ide mendirikan starup itu tidak pernah ada dalam benak¨ ungkap Ferry Unardi.
Sejak lulus S1 Ferry diketahui bekerja di Microsoft, Seattle sebagai seorang software engineer. Tiga tahun berkecimpung di dunia engineering membuatnya berpikir bahwa dirinya tak akan bisa menjadi yang ¨engineer terbaik¨. Kegelisahannya ini pada akhirnya membawanya pada sebuah perjalanan ke China. Di sinilah Ferry mendapatkan pencerahan tentang bisnis travel yang sepertinya menarik.
Hal lain yang menuntunnya pada keputusan untuk membangun Traveloka adalah sulitnya sistem booking pesawat. Saat bekerja di Microsoft Ferry kerap pulang ke kampung halamannya di Padang. Namun ia justru merasa kesulitan saat ingin membeli atau mem-booking tiket pesawat untuk pulang kampung tersebut. Ferry juga merasa kesulitan untuk memprediksikan rute pesawat yang akan dipilihnya. Dari sanalah seorang Ferry yang saat itu berusia 23 tahun memutuskan untuk keluar dari dunia karirnya. Bagi Ferry, inilah masa yang paling stress dalam hidupnya.
Mundur selangkah untuk bisa melahirkan Traveloka, Ferry Unardi korbankan banyak hal
Merasa tak memiliki kapasitas dalam dunia bisnis dan tak paham bagaimana mengelola perusahaan, Ferry Unardi harus mengambil satu langkah ke belakang sebelum akhirnya membangun Traveloka. Ia memutuskan untuk kuliah di Harvard University untuk memperoleh gelar MBA dalam bidang bisnis.
Jalan satu semester ternyata rencananya harus diubah. Ferry Unardi memilih untuk keluar dari kampusnya dan mulai mengembangkan sebuah mesin pencari tiket pesawat dengan teknologi yang lebih modern, fleksibel dan praktis. Ferry menceritakan bahwa awalnya banyak orang yang menyayangkan keputusannya kala itu.
“Saya ingat ketika semua orang mempertanyakan keputusan saya untuk berhenti, tapi itulah yang harus dilakukan. Berhenti kuliah adalah keputusan yang sangat sulit, baik untuk saya dan pasangan saya karena ia bekerja untuk LinkedIn pada saat itu dan memiliki saham yang belum sepenuhnya diperoleh, tapi saya ingat pernah mengatakan “kita 23 (tahun), kita masih cukup muda untuk melakukan kesalahan” dan tidak ada waktu yang lebih baik dari pada sekarang” kata Ferry dalam acara Startup Asia Jakarta 2014.
Ferry lanjut lagi menjelaskan bahwa saat itu bisnis di bidang reservasi tiket adalah salah satu dari startup yang sedang booming dan menjadi trend. Begitu banyak investor yang berlomba-lomba untuk masuk dalam bidang bisnis tersebut. Baginya, jika Traveloka tak memulai langkah saat itu juga maka akan tertinggal di kemudian hari.
Awalnya Traveloka hanya berupa platform flight search dan aggregator penerbangan. Seiring berjalannya waktu, Ferry Unardi dan timnya menyadari bahwa masalah yang terjadi bukan hanya saat menemukan penerbangan tapi juga saat melakukan transaksi. Pelanggan merasa tak puas karena mereka harus menggunakan layanan lain untuk menyelesaikan proses pembelian tiket. Hingga akhirnya Traveloka berkembang menjadi salah satu platform yang bisa digunakan untuk layanan transaksi juga.
Tantangan lain yang harus dihadapi Ferry Unardi adalah bagaimana cara mengelola tim yang awalnya berjumlah 8 orang menjadi belasan, puluhan bahkan ratusan orang. Banyak hal yang harus dilakukan sebagai perusahaan baru, termasuk membentuk budaya perusahaan dan membangun manajemen yang solid.
Melalui buku karya Ben Horowitz, veteran startup dan legenda VC, The Hard Thing about Hard Things profil Ferry Unardi mendapatkan banyak pencerahan. Dalam suatu kesempatan, Ferry pun membagikan inspirasi tersebut,
“Buku ini mengajarkan saya bahwa orang hanya memperhatikan pertumbuhan dan pengguna, tetapi juga harus fokus dengan apa yang ada di balik hal tersebut. Salah satunya tentang pentingnya membangun tim yang tepat. Orang-orang tidak berbicara tentang hal ini karena tidak secara langsung berhubungan dengan internet. Tetapi pada akhirnya kami adalah perusahaan dan kami harus terlebih dahulu dan terutama membangun sebuah perusahaan.” katanya.
Mantap menjadi platform reservasi tiket, Traveloka kembali hadapi masalah baru
Sebagai startup yang masih kecil, Traveloka tentu belum banyak dilirik oleh maskapai besar. Traveloka awalnya merasa kesulitan untuk membangun kerja sama dengan beberapa maskapai. Ferry tak menyerah, dia memiliki satu strategi yang terus dijalankan. Saat di mana timnya membuat pelayanan yang bagus dan memuaskan, maka saat itu juga orang-orang akan datang.
Mendapatkan perhatian besar dari para pengguna tentu akan menarik perhatian para maskapai penerbangan. Di lain sisi, maskapai sendiri selalu memiliki lebih banyak persediaan ketimbang permintaan. Ferry menyadari bahwa layanan yang dimiliki Traveloka bisa membantu pihak maskapai untuk mengisi kursi kosong, dan juga pengguna untuk mendapat harga promo.
Perlahan tapi pasti, saat sudah banyak pengguna yang setia dengan Traveloka mulai banyak maskapai yang mau bekerja sama dengan Traveloka. Bahkan kini Traveloka tak hanya menyediakan reservasi tiket pesawat, ada juga treservasi tiket kereta api dan juga hotel.
Terus berkembang dari tim yang kecil, kini Traveloka telah memiliki peringkat Alexa 150 di Indonesia yang memiliki puluhan juta pageview per bulan. Sejak diluncurkan, Traveloka telah mengumumkan dua putaran pendanaan; salah satunya dari East Ventures (keterangan: East Ventures juga berinvestasi di Tech in Asia. Baca halaman etika kami untuk informasi lebih lanjut) pada bulan November 2012 dan satunya lagi dari Global Founders Capital pada Desember 2013.
Thursday, August 29, 2019
Kisah Sukses Nadiem Makarim ( Pendiri GoJek )
BiodataNama : Nadiem MakarimLahir : Singapura, 4 Juli 1984Warna Negara : IndonesiaAgama : IslamOrang Tua : Nono Anwar Makarim (Ayah), Atika Algadrie (Ibu)Istri : Franka FranklinAnak : Solara Franklin MakarimTotal Kekayaan : 1.4 Trilyun Rupiah (Majalah Globe Asia 2018)
Gojek bisa jadi jawaban terbaik atas masalah kemacetan dan kebutuhan hidup yang serba cepat bagi penduduk di kota-kota besar. Gagasan menarik dari Nadiem ini membawa angin segar di Indonesia. Soalnya, Gojek efektif mengurangi jumlah pengangguran dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Kira-kira seperti apa perjuangan pemilik Gojek di awal merintis inovasi transportasi di tanah air? Yuk cari tahu!
Nadiem Makarim, Pendiri Gojek yang Sukses di Usia Muda
Sebelum memutuskan buat jadi pengusaha, pria yang lahir pada 4 Juli 1984 ini terlebih dulu bekerja dengan beberapa perusahaan lain. Tercatat Nadiem Makarim pernah bekerja di perusahaan konsultan Mckinsey & Company, ia juga sempat menduduki posisi Managing Editor Zalora Indonesia, serta sebagai Chief Innovation Officer Kartuku. Selama bekerja di tiga perusahaan tadi, Nadiem selalu menggunakan jasa ojek untuk memudahkan aktivitasnya.
Di saat yang bersamaan itu juga ia melihat bahwa ada banyak tukang ojek yang berada di pangkalan ojek harus bergiliran dengan pengemudi ojek lainnya untuk mengangkut penumpang belum lagi di kota-kota besar banyak tukang ojek yang menggunakan waktu untuk sekadar mangkal dan menunggu penumpang. Berbekal pengalaman dan pengetahuannya tersebut, barulah Nadiem terinspirasi untuk mendirikan Gojek.
Berani Resign demi Gojek
Walaupun sudah mendapatkan posisi yang cukup baik dalam pekerjaannya ternyata Nadiem nggak cepat merasa puas begitu saja. Jauh sebelum populer seperti sekarang, pendiri Gojek ini bahkan berani ambil keputusan buat resign dari perusahaan tempat ia bekerja. Alasannya, pria lulusan Harvard Business School ini punya tekad yang kuat buat jadi entrepreneur sejati.
Tepat di tahun 2011 perusahaan Gojek resmi didirikan oleh Nadiem Makarim. Diberi nama PT. Gojek Indonesia, perusahaan ini memiliki ide awal yang sangat sederhana, yaitu mempermudah pertemuan antara pengemudi ojek dengan calon penumpang. Solusi yang sederhana tersebut ternyata mendapat respon positif dari masyarakat Indonesia. Tak heran Gojek segera berkembang pesat setelah meluncurkan aplikasi di smartphone pada awal 2015.
Ciptakan Lapangan Kerja Padat Karya
Gojek membuka lapangan kerja baru yang padat karya. Banyak masyarakat yang tadinya nggak punya penghasilan, saat ini dapat menghasilkan pendapatan yang cukup besar dengan menjadi pengemudi Gojek. Profesi ini juga menarik perhatian generasi muda yang ingin mencari uang saku tambahan maupun para pensiunan yang masih ingin tetap produktif. Bahkan, ada juga pekerja kantoran yang memanfaatkan Gojek untuk menambah jumlah pendapatan mereka.
Nggak cuma itu, Gojek juga banyak merekrut karyawan-karyawan muda, di balik aplikasi yang sudah di-download lebih dari 13 juta kali oleh pengguna smartphone di tanah air. Sedikit menoleh ke belakang, di awal berdiri Gojek hanyalah sebuah call center yang dikerjakan oleh tim manajemen dengan jumlah orang terbatas.
Saat itu, sistem pemesanan Gojek juga masih terbilang sangat sederhana. Dimana lo harus memesan layanan ojek melalui call center, lalu operator akan mencari driver yang terdekat. Selanjutnya, call center akan memastikan kedatangan driver dengan sistem navigasi dan koordinasi pelanggan. Baru di tahun 2014 Nadiem Makarim mengubah bentuk bisnis ini menjadi berbasis online dengan aplikasi khusus.
Punya Hampir 1000 Karyawan
Lo pasti nggak nyangka kalau Gojek sudah menjadi tempat pencarian nafkah bagi hampir 1.000 orang karyawannya. Tercatat ada sekitar 300 ribu orang pengemudi atau biasa dipanggil driver Gojek telah meroda di jalanan. Layanan ojek online ini juga telah beroperasi di 50 kota di Indonesia, seperti Jabodetabek, Bali, Surabaya, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Medan, Makassar, Palembang, Balikpapan, dan akan terus bertambah setiap bulannya.
Dulunya, sang pendiri Gojek, Nadiem Makarim hanya mengedepankan layanan jasa antar jemput pada jam sibuk dan hari kerja. Saat itu rata-rata setiap pengemudi Gojek hanya mendapat tiga sampai empat kali pesanan. Setelah perusahaan ini mengembangkan layanan dan beroperasi setiap hari 24 jam, termasuk hari libur, rata-rata pesanan Gojek meningkat hingga empat sampai delapan pesanan per driver Gojek setiap harinya.
Ditiru Para Perintis Startup
Hidup di negara yang sedang berkembang, urusan contek-mencontek mungkin bukan lagi hal yang baru buat lo. Faktanya hal ini juga dialami oleh Gojek yang sistemnya banyak ditiru oleh para perintis bisnis startup lainnya di Indonesia. Ada enam aplikasi serupa yang membuat layanan jasa ojek serupa Gojek. Perbedaan hanya terletak pada tarif awal dan per kilometer berikutnya.
Namun demikian, sebagai pemilik Gojek, Nadiem nggak mau ambil pusing. Baginya, para pengusaha muda kreatif pembuat aplikasi serupa Gojek bukanlah kompetitor yang harus dikalahkan, ditakuti, atau bahkan ditaklukkan. Ia justru senang jika ada banyak anak bangsa yang mengikuti jejak suksesnya sehingga Indonesia bisa pelan-pelan terlepas dari kompetisi dengan produk impor.
Jangan Gampang Puas!
Kunci sukses Nadiem Makarim terletak pada inovasi yang terus ia lakukan. Sekalipun Gojek sudah terbilang cukup sukses dan ditiru banyak pemula startup, lo bisa lihat sendiri jika aplikasi Gojek selalu memberi pembaruan yang terbaik. Mulai dari segi tampilan, kualitas layanan, hingga kemunculan fitur-fitur menarik yang semakin memudahkan kebutuhan lo sehari-hari. Mulai dari fitur chat dengan driver Gojek, go-pay, go-bills, hingga go-tix.
Pembaruan-pembaruan ini menjadi bukti nyata kalau pemilik Gojek terus ingin memberikan layanan yang terbaik untuk seluruh pelanggan setianya. Semakin ditiru oleh kompetitor, bukan berati lo harus kepanasan jenggot untuk mengalahkan atau merasa takut. Sebaliknya, lo harus buktikan kepada konsumen kalau apapun bentuknya bisnis lo selalu menjadi yang terdepan dalam berinovasi.
Dapat Perlawanan dari Ojek dan Taksi Konvensional
Pendiri Gojek, Nadiem Makarim sudah pasti peka terhadap perlawanan yang bakal diberikan oleh pengemudi ojek dan taksi konvensional di Indonesia. Jauh sebelum layanan transportasi online dibentuk, ternyata hal tersebut sudah pernah diprediksi oleh pihak manajemen Gojek. Namun saat itu mereka nggak menyangka jika Gojek bisa bertumbuh pesat dalam kurun waktu yang terbilang cukup singkat.
Meskipun demikian, perusahaan ojek online ini nggak takut menghadapi perlawanan tersebut. Sebaliknya, Nadiem justru menilai bahwa hal tersebut menjadi tanda yang baik bagi pertumbuhan perusahaan transportasinya. Berbagai upaya diplomasi sudah dilakukan agar driver Gojek bisa mengemudi dengan tenang tanpa takut ancaman dari pihak-pihak tertentu. Meski alot, akhirnya toh Gojek menemukan titik terang.
Sesuai dengan kesepakatan, pengemudi Gojek dilarang untuk mengangkut penumpang dari dalam Stasiun, Terminal, ataupun Bandara. Tiga wilayah tersebut menjadi teritori bagi ojek dan taksi konvensional. Sebaliknya, driver Gojek hanya boleh mengangkut penumpang ke destinasi-destinasi tersebut. Meski nggak dibuat secara tertulis, aturan lisan ini sudah disepakati oleh masing-masing pihak yang bersangkutan.
Dapat Suntikan Dana dari Beberapa Raksasa Investor
Di tengah menghadapi perlawanan dengan driver ojek dan taksi konvensional, popularitas Gojek justru semakin dikenal dan mencuri perhatian dunia. Sejak Agustus 2016, sejumlah investor asing dilaporkan sudah menyuntikkan dana sebesar Rp 7,2 triliun untuk perusahaan Gojek ini. Tercatat angka tersebut didapat dari beberapa raksasa investor dunia yang terdiri dari KKR, Warburg Pincus, Farallon Capital, dan Capital Group Markets.
Nggak berhenti sampai disitu saja. Di tahun berikutnya, dua perusahaan besar asal China, Tencent dan JD.com juga memberikan dana yang cukup besar bagi Gojek. Masing-masing perusahaan tersebut berinvestasi sebesar Rp2 triliun dan Rp1,3 triliun dalam waktu yang hampir bersamaan. Inilah yang membuat Gojek terus kokoh berdiri meski ada banyak startup baru yang bermunculan dengan layanan serupa dengan miliknya.
Kekayaan Nadiem Makarim juga diprediksi meningkat drastis di tahun 2018 ini. Pasalnya, Google bersama Temasek Holding bersama-sama menggelontorkan dana segar senilai Rp16 triliun. Ditambah dengan investasi yang dilakukan oleh PT Astra International Tbk. sebesar Rp2 triliun nilai valuasi Gojek semakin meningkat drastis. Gojek diperkirakan memiliki nilai valuasi mencapai $4 miliar atau setara Rp53 triliun!
Ditolak Jadi Moda Transportasi Umum oleh Pemerintah
Meskipun sudah membantu negara dalam menarik investor asing, ternyata Gojek belum juga mendapatkan izin resmi dari pemerintah. Mahkamah Konstitusi (MK) telah menolak untuk melegalkan ojek online sebagai alat transportasi umum atau angkutan umum di Indonesia. Putusan ini diambil oleh MK terhadap uji materi perkara Nomor 41/PUU-XVI/2018 yang diajukan oleh para pengemudi ojek online beberapa waktu yang lalu.
Nadiem Makarim selaku pemilik Gojek mengaku kalau dirinya menerima dan menghargai apa yang sudah menjadi keputusan MK. Namun, ia belum menyerah untuk tetap mempertahankan startup yang telah membesarkan namanya dan menjadi sandaran bagi ribuan karyawan dan ratusan pengemudi Gojek di dalamnya. Nadiem percaya jika sentuhan teknologi bisa membuat perubahan bagi masyarakat Indonesia.
Merintis usaha dari nol sudah pasti bukan hal yang mudah, Pendiri Gojek yang merupakan lulusan universitas bergengsi di Eropa ini bahkan mengalami kesulitan. Bahkan setelah sukses mencuri perhatian dunia dan mengantongi sejumlah keuntungan, Nadiem masih harus menghadapi sulitnya perijinan transportasi online di Indonesia. Kisah jatuh bangun pemilik Gojek ini pastinya bisa memberi inspirasi tersendiri buat lo.
Pastikan sebelum memulai bisnis lo bisa melihat peluang yang ada. Peka terhadap lingkungan sekitar sehingga lo bisa membaca apa yang menjadi masalah di lingkungan tersebut. Bagi Nadiem, bisnis itu nggak bisa dibangun kalau nggak ada masalah yang harus diatasi. Selain itu, lo juga harus berani untuk berinovasi dalam menciptakan bisnis yang lebih punya daya tarik dikalangan masyarakat dan juga investor.
Itulah tadi kisah sukses pendiri Gojek, Nadiem Makarim di usianya yang masih tergolong cukup mudah. Tertarik buat mengikuti jejak sukses berbisnis seperti pemilik Gojek ini? Sebaiknya pilih bidang bisnis yang belum menjamur di Indonesia. Jadi berbeda itu nggak susah kok, lo justru bisa jadi trendsetter bagi para entrepreneur muda lainnya.
Wednesday, August 28, 2019
Kisah Sukses Achmad Zaky ( Bukalapak )
Achmad Zaky merupakan lulusan Teknik Informatika dari Institut Teknologi Bandung. Pria kelahiran Sragen, 24 Agustus 1986 ini sudah mulai tertarik dengan dunia teknologi sejak masih berada di bangku sekolah dasar.
Semua bermula sejak Achmad Zaky mendapatkan hadiah sebuah komputer serta buku pemrograman komputer dari pamannya di tahun 1997. Ketika itu, usianya masih 11 tahun.
Tak disangka, Zaky ternyata memiliki ketertarikan dan minat yang cukup tinggi di dunia komputer dan pemrograman komputer.
Ketertarikan itu ternyata terus berlanjut hingga mengenyam pendidikan di bangku SMA. Hal itu dibuktikan saat ia memenangkan kejuaraan olimpiade sains nasional (OSN) bidang komputer mewakili sekolahnya di SMA Negeri 1 Solo, Jawa Tengah.
Di tahun 2004, Zaky kemudian melanjutkan studinya di jurusan Teknik Informatika di Institut Teknologi Bandung (ITB), salah satu universitas negeri unggulan di Indonesia.
Selama mengemban ilmu di bangku kuliah, Zaky sering memenangkan kompetisi teknologi informatika tingkat nasional, seperti juara II di ajang Indosat Wireless Innovation Contest tahun 2007. Kala itu, dia membuat software (perangkat lunak) MobiSurveyor untuk digunakan dalam perhitungan cepat survei pemilihan umum.
Gak cuma itu aja, ia juga mendapatkan Merit Award pada kompetisi INAICTA (Indonesia ICT Awards) di tahun 2008.
Prestasi yang diraihnya mengantarkan Zaky untuk mendapatkan beasiswa studi ke Oregon State University, Amerika Serikat di tahun 2008 dan berlangsung selama dua bulan.
Mulai tertarik membangun bisnis
Sebenarnya, sebelum masuk kuliah di ITB, tujuan Zaky cukup sederhana, yaitu memperoleh ijazah, lantas mendapatkan pekerjaan bagus dengan gaji yang besar.
Namun, seiring berjalannya waktu, ia justru mengalami perubahan cara berpikir. Ditambah lagi dengan banyaknya lulusan ITB yang menjadi pengusaha sukses seperti Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro.
Ya, setelah lulus ITB memang hanya dua pilihan, yaitu bekerja di perusahaan besar atau mendirikan perusahaan sendiri.
Usai lulus kuliah, Zaky pun mulai berpikir untuk membangun usaha sendiri yang masih berhubungan dengan informatika.
Pria berusia 31 tahun ini pun akhirnya mendirikan sebuah perusahaan jasa konsultasi teknologi yang bernama Suitmedia.
Suitmedia pun berkembang dengan sangat pesat, hingga akhirnya ia mendirikan Bukalapak. Sejak saat itu, Zaky memutuskan untuk fokus membangun Bukalapak hingga menjadi online marketplace terpercaya yang kini dikenal banyak orang.
Berdirinya Bukapalak.com
Dalam membangun bisnisnya, Achmad Zaky sempat berpikir untuk mendirikan sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak. Ia lalu berpikir untuk mendirikan situs yang bisa memfasilitasi penjual dan pembeli.
Apalagi, saat itu, situs serupa di Indonesia masih sangat sedikit. Itulah yang membuat Zaky kemudian mendirikan Bukalapak di tahun 2010.
Di awal berdirinya Bukalapak hanya ada tiga orang yang terlibat. Achmad Zaky gencar mengajak para pedagang untuk bergabung di Bukalapak di sela-sela pekerjaannya di Suitmedia.
Tak mudah mengajak orang untuk berjualan di Bukalapak, ditambah lagi saat itu internet belum seperti saat ini. Padahal untuk jualan di Bukalapak tidak dipungut biaya alias gratis.
Kebanyakan para pedagang tidak mau ribet berjualan lewat internet karena merasa jualan via offline sudah cukup.
Zaky pun sampai turun langsung untuk mengajak orang-orang yang berjualan di mall untuk juga berjualan di Bukalapak.
Nah, yang menjadi tantangan terberat adalah masalah kepercayaan terhadap e-commerce, karena kebanyakan orang takut tertipu.
Namun, Zaky tak mudah putus asa, ia terus berusaha meyakinkan para pengusaha terutama para pelaku UKM untuk mau berjualan di internet. Salah satu caranya adalah dengan memberikan edukasi kepada para seller.
Kala itu Bukalapak sering membuat kisah sukses seller dan menyebarkannya ke Twitter. Tujuannya, untuk mengedukasi seller lain agar menjadi seller terpercaya.
Setelah beberapa lama, akhirnya kian banyak penjual offline yang mencoba berjualan di Bukalapak. Kebanyakan dari mereka adalah para pedagang yang penghasilan dari usaha offline-nya tidak terlalu besar dan berharap dapat menambah penghasilan dengan berjualan di Bukalapak.
Achmad Zaky bersama tim juga dengan gencar mendekati komunitas untuk menggunakan Bukalapak. Usaha dan perjuangannya pun membuahkan hasil. Semakin lama jumlah pedagang yang berjualan semakin banyak, diikuti dengan semakin banyaknya pengunjung website. Para pedagang yang awalnya ragu berjualan di Bukalapak mulai merasakan penghasilan mereka meningkat.
Dalam kurun waktu tiga tahun, Bukalapak mengalami kemajuan yang sangat pesat dengan memiliki 150 penjual dengan produk jualan beragam, mulai dari elektronik, makanan hingga fashion.
Jika saat awal mendirikan Bukalapak, Achmad Zaky harus merogoh bujet dari kantongnya sendiri. Kini Bukalapak mendapatkan pendanaan dari beberapa investor seperti Batavia Incubator, IMJ Investment, dan juga Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTEK Group).
Itu dia perjalanan seorang Achmad Zaky yang sukses membangun dan membesarkan Bukalapak hingga seperti saat ini. Ada yang terinspirasi lantas berminat mengikuti jejaknya?
Tuesday, August 27, 2019
Kisah Sukses William Tanuwijaya ( Tokopedia )
Mungkin kamu berpikiran kalau mereka para pengusaha muda yang sukses lahir dan besar di lingkungan bergelimang harta. Lulusan kampus ternama dan minimal pernah bekerja di perusahaan terkenal sebelumnya. Jika kamu masih berpikir demikian, nampaknya dugaanmu kurang tepat. Karena nyatanya masih ada pengusaha muda yang sukses dan bukan berasal dari keluarga kaya. Bahkan sempat bekerja sebagai penjaga warnet ketika masih kuliah.
Siapakah dia? Dia adalah William Tanuwijaya, CEO Tokopedia – salah satu situs belanja online terbesar di Indonesia.
Mungkin kamu menyangka bahwa William minimal lulusan Harvard atau kampus luar negeri lainnya. Guys, nyatanya dia lulusan kampus swasta tanah air!
Pria kelahiran 18 November 1981 ini lahir di kota Pematangsiantar. Selepas SMA ia mengadu nasib ke ibukota untuk menimba ilmu di salah satu kampus swasta jurusan teknik informatika. Untukmu yang selama ini masih begitu mendewakan latar belakang pendidikan, Will membuktikan bahwa belajar bisa di kampus manapun, tak peduli swasta atau negeri. Pun dengan latar belakang keluarga Will yang bukan golongan konglomerat. Memang, sang kakek sempat memiliki bisnis namun bisnisnya bangkrut dan keluarganya jatuh miskin. Namun, keluarganya tetap mengutamakan pendidikan. Karenanya dia menimba ilmu sampai ke ibukota.
Keterbatasan ekonomi mengharuskan William untuk mencari pekerjaan sampingan. Will yang minim pengalaman lantas bekerja sebagai penjaga warnet
Ketika di tingkat awal kuliah, ayah Will jatuh sakit dan keadaan mengharuskannya untuk mencari pekerjaan sampingan. Ia yang sempat menumpang tinggal di rumah sang Paman, lantas bekerja sampingan sebagai penjaga warnet. Ketika bekerja sebagai penjaga warnet itulah ia mendapat banyak pelajaran. Bahwa betapa internet dapat memberi kemudahan untuk belajar apa saja. Singkat kata, Will jatuh hati dengan internet dan kala itu ia pun bermimpi untuk bisa bekerja di perusahaan seperti Google atau Facebook. Namun sayangnya pada saat itu, perusahaan tersebut belum memiliki kantor cabang di Indonesia.
Will percaya dengan pepatah dari mendiang Soekarno untuk bermimpi setinggi langit, yang menguatkan tekadnya untuk membangun kerajaan bisnisnya
Pepatah Bung Karno itulah yang sedikit banyak memantik semangat Will untuk mewujudkan mimpinya, membangun perusahaan semacam e-Bay. Sempat bekerja di sebuah forum jual beli membuat Will sadar bahwa internet kerap menjadi sarang kriminal. Padahal menurut Will, internet seharusnya memudahkan banyak hal yang salah satunya proses jual beli. Berkaca dari perjalanan karier Will, kita bisa belajar bahwa pengalaman dapat membantu seseorang menemukan mimpinya.
Konsep ekonomi berbagi yang diusung Will menjadikan Tokopedia miliknya memuncaki tangga situs online yang paling banyak dikunjungi di tanah air
FYI nih Guys, Tokopedia berhasil menjadi situs belanja online nomor satu yang paling sering dikunjungi di Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari prinsip ekonomi berbagi yang diusung oleh William, terinspirasi salah satunya dari Facebook yang merupakan perusahaan media terbesar di dunia tanpa konten apa pun. Nah, inilah yang disebut dengan fenomena ekonomi berbagi, yakni bagaimana teknologi melibatkan banyak sekali partisipasi banyak orang.
Will menerapkan ini pada bisnis situs belanja online-nya, di mana Tokopedia yang notabene situs belanja online tidak memiliki toko dan produk satu pun. Sebaliknya, justru menyediakan fasilitas bagi banyak orang atau UKM perintis yang ingin membuka lapaknya di situs miliknya.
Sebelum memulai bisnisnya, Will sempat menjadi karyawan dulu selama 10 tahun. Will bisa menjadi inspirasi untukmu yang tidak ingin menjadi karyawan selamanya
Untukmu yang saat ini tengah jenuh dengan tumpukan pekerjaan di kubikelmu, tengah penat setelah 8 jam bekerja di kantor, tak usah galau berkepanjangan. Sesungguhnya, kalau kamu ogah menjadi karyawan selamanya, kamu bisa memulai langkah untuk menjadi pengusaha. Meski awalnya kamu harus berjuang gila-gilaan dulu sebagai karyawan. Seperti William yang sempat menjadi karyawan selama 10 tahun. Sebelum akhirnya dia sesukses sekarang, Will sempat bekerja sebagai software developer di beberapa perusahaan.
Pelajaran sederhananya adalah tak usah berkecil hati kalau saat ini kamu masih menjadi karyawan, walau mimpimu sesungguhnya menjadi pengusaha. Peluk terus mimpimu dan yakinlah bahwa pengalamanmu sebagai karyawan justru dapat dijadikan bekal untukmu merintis usaha. Seperti halnya Will yang riset tentang jual-beli online selama ia bekerja di forum jual beli online. Tuh, peluk terus mimpimu ya, Guys!
Susah payah mengumpulkan modal dan bahkan sempat diragukan, pada akhirnya kegigihan Will mampu mengantarkannya menuju puncak kesuksesan..
Pada sebuah program inspirasi di salah satu TV swasta, William mengatakan bahwa modal awal Tokopedia adalah 2,4 Milyar, sementara yang terpakai hanya sekitar 900 juta rupiah. Namun, akhirnya dia berhasil mendapat suntikan dana dari investor asing. Sebermulanya Will begitu kesulitan mencari investor. Lantas, mimpi untuk mendirikan perusahaan semacam e-Bay ia ceritakan kepada atasannya. Namun, gayung belum bersambut lantaran ada beberapa orang yang meragukan mimpinya.
Mereka masih meragukan latar belakang keluarga dan pendidikan William. Imbasnya, ia butuh 2 tahun untuk susah payah mengumpulkan modal, hingga akhirnya bosnya sendiri yang menyumbang modal sebesar 10 %. Meski sempat diragukan, William mampu membuktikan kerja kerasnya dan jadilah ia sesukses sekarang. Tokopedia berdiri tahun 2009 dan terus berkembang hingga sebesar sekarang.
Semoga kisah William menginspirasimu untuk semangat mewujudkan mimpi. Menutup artikel ini, peluklah terus mimpimu dan bertanggungjawablah untuk mewujudkannya menjadi nyata. Karena siapa pun dan bagaimanapun latar belakang pendidikanmu, kamu berhak untuk menjadi pribadi yang sukses!
Subscribe to:
Posts (Atom)
Kisah Sukses Mochtar Riady ( Pemilik Lippo Group )
Nama Mochtar Riadi mungkin sedikit asing bagi Anda yang belum mengenal dunia bisnis dengan baik. Namun jika mendengar nama Lippo Group mu...
-
Teknologi membuat semua menjadi lebih mudah, termasuk dalam dunia perpelancongan. Mulai dari reservasi tiket pesawat, tiket kereta, hotel...
-
Nama Mochtar Riadi mungkin sedikit asing bagi Anda yang belum mengenal dunia bisnis dengan baik. Namun jika mendengar nama Lippo Group mu...





















